Rabu, Januari 20, 2021

Menghadirkan Wajah Islam Yang Santun

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Sukseskan Gerakan Sadar Arsip

Kearsipan adalah sebuah ruang yang sunyi. Sepi. Dalam kesendiriannya, Arsiparis, merasakan ada keramaian dalam mengamankan sebuah warisan kebudayaan dari sebuah bangsa. Sebuah memori kolektif...

Mungkin Kita Menilai DPR dengan Premis yang Salah

Mungkin bukan sesuatu yang tabu, Ketika menyebut kata DPR, besar kemungkinan kolega atau teman di sekitar kita pasti akan menyambut dengan “alis terangkat”. DPR...

Penundukkan Mahasiswa atas Kuasa Tuannya

Sebuah ucapan dari seorang aktivis mahasiswa yang kritis yaitu Soe Hok Gie, kekritisannya sering ia tuangkan ke dalam bentuk sebuah tulisan. Sebuah tamparan bagi...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Hari ini saya begitu berhasrat ingin menulis tentang suatu tema yang menurut sebagian orang, mungkin tidak begitu menarik dan klasik, yaitu tentang eksistensi Islam di Indonesia. Dimana, ia sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya selalu ingin tampil ke permukaan sebagai agama yang problem solver bagi setiap porsoalan yang muncul di Indonesia.

Diakui ataupun tidak, yang jelas Islam merupakan agama yang relevan dalam setiap waktu dan tempat, meminjam bahasanya Fazlurrahman “shalihun likulli zaman wa makan” tanpa ada maksud menegasikan agama-agama yang lain, sehingga pantas kiranya ketika ia merasa mempunyai tanggung jawab terhadap setiap persoalan yang seringkali menjepit Indonesia hari ini.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa Indonesia selalu saja mengalami distabilitas dalam setiap sektor, baik politik, ekonomi, budaya, bahka agama. Juga sebagian kebijakan pemerintah seringkali dianggap menguntungkan satu kelompok dan mempertontonkan ketidakadilan, oleh sebagian kelompok yang lain.

Dalam merespon setiap persoalan yang muncul, Islam selalu tampil menawarkan berbagai macam solusi, tentu dengan berbagai macam wajahnya yang beraneka ragam. Ada yang berwajah garang, santun, dingin dan wajah-wajah Islam lainnya yang tentu tidak bisa disebutkan semua disini.

Kategorisasi yang dirumuskan oleh Ulil Abshar Abdalla (Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal, Jakarta: Gema Insani, 2003) dirasa cukup pas untuk menggambarkan aneka ragam wajah Islam Indonesia dewasa ini. Menurut dia ada tiga wajah Islam yang mewarnai Indonesia hari ini.

Pertama, Islam gembar-gembor. Kelompok ini sangat vokal menyuarakan pentingnya penerapan hukum-hukum Islam dan memandang, bahwa teks-teks keagamaan sudah selesai, sehingga tugas utama orang Islam hanya melaksanakannya saja. Islam ini tamapaknya memang laris, terutama dalam situasi transisi politik seperti di Indonesia.

Kelompok ini kadang violent dan menolak untuk diajak berbicara oleh kelompok-kelompok lain di dalam Islam, apalagi di luar Islam. Mereka doyan menghakimi kelompok lain yang dianggap sesat dan menyimpang. Mereka memahami teks-teks keagamaan condong menggunakan penafsiran yang hurufiah dan tekstual.

Kedua, adalah kelompok silent syariah (meminjam bahasanya Kurzman). Kelompok ini membentuk proporsi terbesar dari keseluruhan umat Islam, tetapi mereka berwatak apolitis, dalam artian tidak begitu peduli dengan ancaman-ancaman yang datang dari kelompok Islam gembar-gembor diatas.

Mereka tidak suka dengan radikalisme (kekerasan), bahkan mereka mengecamnya. Dalam agama, mereka cenderung bersikap menerima dan akomodatif, dalam pengertian dapat menerima persesuaian-persesuaian dengan kultur lokal. Kelompok ini biasanya terdiri dari kalangan santri yang tidak berselera mengoar-ngoarkan Islam secara verbal dan membawa pentungan di jalanan.

Ketiga, Islam kepala dingin. Menurut Ulil, kelompok ini biasanya terdiri dari kelompok terdidik. Mereka juga tidak mempunyai ghiroh dan shahwat untuk berkoar-koar. Justru mereka lebih suka mencoba memikirkan kembali dalam-dalam pemaknaan Islam dalam konteks yang berbeda dan berubah-rubah.

Teks keagamaan dalam pandangan mereka dipandang sebagai sesuatu yang bersifat “prismatik”, artinya dapat membiaskan beragam penjelasan, keterangan serta penafsiran. Kelompok ini tidak mau memandang kebenaran dalam penafsiran teks sebagai sesuatu yang mungkin digagahi satu kelompok, sekaligus menafikan kelompok lain.

Islam dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang belum, dan bahkan tidak pernah selesai. Sehingga perlu melakukan pembacaan ulang terhadap teks-teks keagamaan. Doktrin Al-Qur’an “alyauma akmaltu lakum dinakum” dimaknai oleh mereka bukan sebagai kesempurnaan yang aktual tetapi kesempurnaan yang potensial.

Setiap agama, dalam pandangan kelompok ini adalah sempurna pada dirinya (self-sufficient), tetapi kesempurnaan itu selalu bermakna potensial. Yakni, ada potensi-potensi kesempurnaan dalam dirinya yang harus diaktualkan oleh para pemeluknya sendiri.

Wahyu mereka pandang sebagai sesuatu yang progresif. Nabi Muhammad sebagai pribadi memang sudah wafat, tetapi Nabi sebagai fungsi tetap hidup dan berlaku sepanjang zaman. Dalam istilah mereka, setiap manusia adalah “Muhammad-Muhammad” kecil yang terus menerus berjuang melawan struktur jahiliah dalam berbagai ragam dan bentuknya.

Nah, mengingat kondisi Indonesia dewasa ini yang semakin sengkarut dan Islam gembar-gembor atau fundamentalisme Islam dengan getolnya menamplikan wajahnya ke hadapan publik serta mengklaim dirinya sebagai wajah Islam yang paling shahih dan solusi nomer wahid, maka penting kiranya bagi kita untuk mengahadirkan wajah Islam yang santun sebagai counter terhadap fundamentalisme Islam.

Islam yang santun dalam kategorisasi yang dilakukan Ulil Abshar adalah Islam silent syariah dan Islam kepala dingin. Islam yang mengedepankan kesantunan dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang muncul, baik persolan keummatan ataupun kebangsaan.

Islam yang santun, menurut Zaprulkhan dalam bukunya “Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan,”  adalah Islam yang berwatak moderat, humanistik, inklusif, toleran terhadap puspa ragam pandangan, terbuka terhadap berbagai perbedaan, menebarkan aroma kedamaian, rahmat dan kasih sayang, bukan hanya kepada sesama muslim melainkan juga kepada non-muslim.

Islam dengan wajah yang santun ini, tentu tidak hanya dihadirkan dalam rangka meng-counter Islam radikal tetapi lebih dari itu, ia harus mampu kita kembangkan untuk menghadang laju perkembangan radikalisme Islam atau Islam gembar-gembor di negeri yang majemuk ini.

Diakui ataupun tidak, radikalisme Islam dan yang sejenis merupakan ancaman terbesar bangsa ini dalam menebar toleransi dan menyemai harmoni di negeri ini.  Radikalisme Islam bukan hanya wacana dan retorika, melainkan realitas yang terus berdialektika dengan dinamika yang terus berkembang dewasa ini.

Wajah Islam yang santun senantiasa harus terus kita hadirkan dalam setiap tatanan kehidupan negeri ini, baik dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Hingga pada akhirnya, wajah  Islam yang santun ini menjadi paradigma berpikir dan bahkan menjadi worldview bagi umat Islam yang mayoritas ini.

Dengan begitu, negeri ideal yang dicita-citakan bersama dan disebut oleh Al-Qur’an “baldatun toyyibatun wa Rabbun ghafur” akan dengan mudah bisa kita wujudkan.  Yaitu negeri yang aman, tentram dan damai tanpa kekerasan-kekerasan. Bagaimana menurut anda?

    

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.