Selasa, Oktober 27, 2020

Menggunting dalam Lipatan, Pupuskah Mimpi Bangsa Berdaulat?

MK Versus MA dan Problem Judicial Review

Pasca putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan permohonan uji materi terhadap Peraturan KPU (PKPU) No. 26/2018 yang diajukan oleh Oesman Sapta Odang (OSO) membuat...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

Saatnya, Presiden Evaluasi Panglima TNI

Kerusuhan yang terjadi hingga di Wamena, Jayawijaya, Papua, sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diantisipasi bahkan diredakan. Namun pertanyaannya, mengapa kerusuhan itu tidak mampu...

Menyingkap Misteri dalam Agama

Mahfud MD, yang kini mendapat amanah sebagai Menkopolhukam (Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum & Keamanan), sekali waktu pernah mengatakan bahwa Indonesia bukanlah negara agama...
Damanhury Jab
The Founder Indikator NTT News and Indikator Alor News. Serta Redaktur Indikator Indonesia

Indonesia dalam usia yang ke-79 tahun termangu-mangu di antara himpitan negara perkasa yang mungil dan mengelilinginya. Kemerdekaan yang sejatinya merupakan mimpi bagi setiap warga negara kini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Padahal kemerdekaan Indonesia adalah untuk semua masyarakat Indonesia.

Berbicara tentang hak dan kepemilikan Bangsa Indonesia, maka Ir. Soekarno sang pendiri bangsa ini pernah menegaskan begini “Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan.

Kita hendak mendirikan suatu Negara ‘semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua”.

Tentu penegasan ini bukan sebuah karangan atupun bentuk paradoks yang sengaja dibuat oleh sang founding father. Akan tetapi berangkat dari sebuah hasil mufakat dari musyawarah yang dilakukan lintas perkumpulan dan kalangan.

Kini, Indonesia kembali terpontang – panting lantaran keserakahan beberapa pemain akrobat dialektika yang kerap kali menyuguhkan kegelisahan dikalangan masyarakat yang disokong oleh media informasi. Jika diibaratkan seperti apel, maka semakin banyak ulat-ulat yang merayap menggerogoti buah ini. Semakin tidak karuan lagi kini.

Ketika diambang kontestasi pemilihan presiden saat ini. Berbagai manuver telah dimainkan, isu hoaks, saling menjegal ataupun bahkan intimidasi, selalu tampil sebagai sajian terseksi dalam ruang informasi publik.

Rakyat kebingungan ketika saya ambil contoh kasus Ratna Sarumpaet yang terjerat kasus penipuan setelah mengaku dirinya dianiaya.  Lantaran menyebarkan informasi hoaks akan penganiayaan dan tindak kekerasan terhadap dirinya. Maka sebagai bagian dari tim sukses dari salahsatu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, Ratna, harus menanggung dosa atas turunnya elektabilitas ekspansi paslon yang telah memberikan amanah kepadanya.

Bukan hanya ini saja. Dapat kita saksikan pula Rocky Gerung harus dilarang menjadi tamu di salah satu acara talkshow di stasiun televisi, lantaran argumentasi-argumentasi pedis yang cenderung nyerempet pemerintah kini menjadi momok bagi salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden.

Yang lebih unik lagi adalah, kebijakan di negeri yang katanya demokrasi kini semakin tidak karu-karuan. Berbagai macam praktik makar yang nyatanya menjadi ancaman konstitusi tidak dibasmi dengan serius, seakan-akan meninggalkan kesan adanya pembiaran dalam praktik ini.

Sementara ruang aspirasi tampak sedikit ditutup dan agak berbenturan dengan amanah UUD 19945 pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Lantas, haruskah kita biarkan harapan bangsa ini bangkit dari kejatuhannya tetap merangkak lantaran bertebaran praktik-praktik pemimpin yang hobby sleeding tackling atau sebut saja “Menggunting dalam Lipatan” ini kita biarkan?

Fenomena menggunting dalam lipatan adalah aib terbesar dalam setiap kontestasi apapun di negeri ini, sekecil apapun kesalahan dari lawan bertanding pastilah akan dibesar-besarkan hingga Tuhan dan bala tentara langitpun bisa saja ikut tepok jidat.

Jika begini jadinya, haruskan kita biarkan Impian besar kita sebagai bangsa yang berdaulat harus bobrok dalam genggaman para oknum pelaku picik yang menyesatkan nalar kritis rakyat? Mari kita bangun kesadaran dan rasa cinta tanah air itu dalam jiwa kita, kedaulatan milik rakyat, maka rakyat harus sigap mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat.

Merdeka!!!

Damanhury Jab
The Founder Indikator NTT News and Indikator Alor News. Serta Redaktur Indikator Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.