Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Menggunting dalam Lipatan, Pupuskah Mimpi Bangsa Berdaulat? | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Menggunting dalam Lipatan, Pupuskah Mimpi Bangsa Berdaulat?

Kegagalan Produksi Makna Kru Setnov

Ada hal yang menarik jika kita mengkaji teori ekonomi dan sosial. Apalagi ketika kita mengkaji teori marxisme. Dalam teori marxisme, ada dua hal yang...

Apa Kabar Politeknik dan Pergerakan Mahasiswanya?

Politeknik adalah salah satu sistem pendidikan nasional jenis perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Politeknik bergerak dalam jalur vokasi untuk menyelenggarakan pendidikan profesi dalam...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Aktivis atau Ratu Dramaturgi?

Indonesia merupakan Negara yang dipenuhi oleh beberapa aktivis yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam Negara yang menganut sistem politik demokrasi, kehadiran seorang aktivis tentunya...
Damanhury Jab
The Founder Indikator NTT News and Indikator Alor News. Serta Redaktur Indikator Indonesia

Indonesia dalam usia yang ke-79 tahun termangu-mangu di antara himpitan negara perkasa yang mungil dan mengelilinginya. Kemerdekaan yang sejatinya merupakan mimpi bagi setiap warga negara kini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Padahal kemerdekaan Indonesia adalah untuk semua masyarakat Indonesia.

Berbicara tentang hak dan kepemilikan Bangsa Indonesia, maka Ir. Soekarno sang pendiri bangsa ini pernah menegaskan begini “Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan.

Kita hendak mendirikan suatu Negara ‘semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua”.

Tentu penegasan ini bukan sebuah karangan atupun bentuk paradoks yang sengaja dibuat oleh sang founding father. Akan tetapi berangkat dari sebuah hasil mufakat dari musyawarah yang dilakukan lintas perkumpulan dan kalangan.

Kini, Indonesia kembali terpontang – panting lantaran keserakahan beberapa pemain akrobat dialektika yang kerap kali menyuguhkan kegelisahan dikalangan masyarakat yang disokong oleh media informasi. Jika diibaratkan seperti apel, maka semakin banyak ulat-ulat yang merayap menggerogoti buah ini. Semakin tidak karuan lagi kini.

Ketika diambang kontestasi pemilihan presiden saat ini. Berbagai manuver telah dimainkan, isu hoaks, saling menjegal ataupun bahkan intimidasi, selalu tampil sebagai sajian terseksi dalam ruang informasi publik.

Rakyat kebingungan ketika saya ambil contoh kasus Ratna Sarumpaet yang terjerat kasus penipuan setelah mengaku dirinya dianiaya.  Lantaran menyebarkan informasi hoaks akan penganiayaan dan tindak kekerasan terhadap dirinya. Maka sebagai bagian dari tim sukses dari salahsatu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, Ratna, harus menanggung dosa atas turunnya elektabilitas ekspansi paslon yang telah memberikan amanah kepadanya.

Bukan hanya ini saja. Dapat kita saksikan pula Rocky Gerung harus dilarang menjadi tamu di salah satu acara talkshow di stasiun televisi, lantaran argumentasi-argumentasi pedis yang cenderung nyerempet pemerintah kini menjadi momok bagi salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden.

Yang lebih unik lagi adalah, kebijakan di negeri yang katanya demokrasi kini semakin tidak karu-karuan. Berbagai macam praktik makar yang nyatanya menjadi ancaman konstitusi tidak dibasmi dengan serius, seakan-akan meninggalkan kesan adanya pembiaran dalam praktik ini.

Sementara ruang aspirasi tampak sedikit ditutup dan agak berbenturan dengan amanah UUD 19945 pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Lantas, haruskah kita biarkan harapan bangsa ini bangkit dari kejatuhannya tetap merangkak lantaran bertebaran praktik-praktik pemimpin yang hobby sleeding tackling atau sebut saja “Menggunting dalam Lipatan” ini kita biarkan?

Fenomena menggunting dalam lipatan adalah aib terbesar dalam setiap kontestasi apapun di negeri ini, sekecil apapun kesalahan dari lawan bertanding pastilah akan dibesar-besarkan hingga Tuhan dan bala tentara langitpun bisa saja ikut tepok jidat.

Jika begini jadinya, haruskan kita biarkan Impian besar kita sebagai bangsa yang berdaulat harus bobrok dalam genggaman para oknum pelaku picik yang menyesatkan nalar kritis rakyat? Mari kita bangun kesadaran dan rasa cinta tanah air itu dalam jiwa kita, kedaulatan milik rakyat, maka rakyat harus sigap mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat.

Merdeka!!!

Damanhury Jab
The Founder Indikator NTT News and Indikator Alor News. Serta Redaktur Indikator Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.