Selasa, Maret 9, 2021

Menggugah Spirit Diversity Hari Lahir Pancasila

Keunikan Pentas Seni Teater Pandora

Pementasan Teater Pandora yang dilaksanakan pada tanggal 11-13 September 2017 kemarin, sedikit terlihat unik. Panggung besar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) disulap dengan sedemikian rupa...

Bersih-Bersih Noda Pemilu

Sri Soemantri M mengatakan bahwa demokrasi pancasila ditemukan dalam UUD 1945, khususnya alinea keempat, yang kemudian dipatrikan kembali dalam sila keempat Pancasila yakni, “Kerakyatan...

Pak Polisi, piye Novel Baswedan?

Begitu banyak kasus- kasus besar yang mengganggu ketenangan publik selama dua bulan terakhir ini. Namun jika diklasifikasikan berdasarkan tingkat kriminalnya plus derajat kebiadabannya maka...

Mari Bernostalgia Wahai Pemuda

Seluruh penjuru bangsa mengakui bagaimana kesaktian sumpah pemuda menyatukan pemuda negeri ini, latar belakang budaya daerah dan suka bangsa yang berbeda tidak menghambat keyakinan...
Fatony Darmawan
Rakyat biasa yang hobi menulis,seorang pelajar dan seorang penikmat opini publik.

“Lahirnya Pancasila”, secara jamak kata tersebut terlontar pertama kali lewat mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato Sukarno semasa sidang pertama BPUKPKI tepatnya 1 Juni 1945.

Kala itu sidang yang digelar di Gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta menyimpan agenda pembahasan dasar negara. Sidang berlangsung alot dari 29 Mei-1 Juni. Tokoh-tokoh silih berganti menyampaikan usulannya menyoal dasar negara.

Adalah Mr. Mohammad Yamin, Mr. Supomo, dan  The Founding Fathers secara asik bergantian menyampaikan usulan-usulannya. Tinggal giliran Sukarno, usulannya diterima secara aklamasi oleh seberinda anggota Dokuritsu Junbi Cosakai. Usulan tersebut nantinya menjadi bahan baku untuk dimasak dan berproduk menjadi alat pemersatu bangsa “Pancasila” hingga saat ini.

Dari sepenggal rapat BPUPKI pertama, menghasilkan sebuah konsensus bersama dari golongan kebangsaan dan golongan Islam dimana harus ada dasar pembangunan sebuah negara.

Namun hampir sewaktu berlalu, sebentuk rumusan dasar negara sukar terwujud. Tindak lanjut dari permasalahan ini, BPUPKI pada tanggal 22 Juni 1945 membentuk Panitia Sembilan. Panitia ini sempat direvisi oleh Sukarno atas dasar untuk menyeimbangkan kandungan dalam Panitia yang antar golongan kebangsaan dan golongan Islam dinilai tidak sebabat.

Tujuan utama dari Panitia Sembilan ini tak jauh dari dasar negara. Yaitu menggelar musyawarah guna menyusun tujuan dan maksud dari sebuah Negara Indonesia merdeka,utamanya bertemali untuk menindak-lanjuti konsensus pada sidang pertama yang dinilai masih menggantung mau dibawa kemana.

Sebentar berproses, panitia ini sukses menelurkan Jakarta Charter atau bangsa kita lanyah menyebutnya dengan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta adalah hasil kucuran peluh keringat sewaktu rembugan antara golongan nasionalis dengan golongan Islam.Fakta ini termaktub dalam buku karya Endang Saifuddin Anshari (1997) yang menuliskan Piagam Jakarta ini, menurut Ir. Soekarno, Ketua Panitia Sembilan,merupakan hasil kompromi yang dicapai dengan susah payah antara golongan nasionalis dan golongan Islam.

Lahirnya Piagam Jakarta ini tidak serta merta disambut oleh riuh kebanggaan dari semesta raya bangsa Indonesia. Sedulur kita dari Indonesia Timur menyodorkan sebentuk penolakan keras menyoal Piagam Jakarta.

Musababnya tak lain karena mereka tak senada dengan apa yang tertuang pada poin pertama. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”dinilai kurang  karib dengan bangunan kebudayaan masyarakat Indonesia Timur yang dihuni mayoritas agama non-Islam.

Mengutip pernyataan Bung Hatta yang termuat dalam karya Affandi Ridhwan (2000),bahwa “Inilah perubahan yang maha penting yang akan menyatukan seluruh rakyat Indonesia”. Dilanjutkannya, seorang opsir muda Kaigun (Angkatan Laut Jepang) yang Bung Hatta sendiri lupa akan nama opsir muda tersebut.

Namun sejengkap pesan disampaikannya kepada Bung Hatta, yakni menyoal keberatan para pemeluk agama Protestan dan Katholik di wilayah Timur Indonesia terhadap beberapa unsur Islami dari Piagam Jakarta adalah pada poin pertama. Ditambahkannya lagi,para pemeluk agama Protestan dan Katholik mengancam akan membentuk negara sendiri.

Pernyataan senada mendarat lewat tulisan Bahtiar Effendy (1998), yang menyibak sebuah fakta bahwa bertemali dengan desakan perubahan oleh Bung Hatta tersebut, empat tokoh golongan Islam meliputi, Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, Kasman Singodimejo, dan Teuku Muhammad Hasan turut putus kata dengan pengahapusan butir-butir Islam pada sila pertama Piagam Jakarta tersebut.

Perubahan akhir Piagam Jakarta menelurkan Sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang bercokol sebagai sila pembuka Pancasila hingga detik ini. Naskah resmi Pancasila ini baru disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah Indonesia merdeka melalui rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bersamaan dengan disahkannya UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara.

Realitas ini memamerkan suatu perwujudan toleransi yang amat cakap.Penyusunan Piagam Jakarta yang notabene bukan perkara sepele, justru diwarnai dengan rembugan panjang antara golongan kebangsaan dengan golongan Islam, harus dikorbankan demi perbedaan yang menyodok datang dari sedulur Indonesia Timur.

Kepentingan kebangsaan jelas tergambar. Bagaimana jika tetap dipaksakan Piagam Jakarta menjadi dasar negara kita hingga saat ini,benih-benih perpecahan akan merebak subur di tanah pertiwi. Dari kacamata kebangsaan Bung Hatta, orang-orang timur tetaplah kawan-karib yang akan memberi predikat persatuan-kesatuan kepada Indonesia.

Ya, torehan spirit keberagaman pada masa itu bak hilang digerus ego individualis bangsa kita. Peringatan hari lahir Pancasila boleh saja bercokol sebagai agenda yang meramaikan awal Juni.Namun esensi dari peringatan ini sendiri perlu diketarani ben cetha.

Seringkali peringatan semacam ini hanya sebagai formalitas saja di lembaga-lembaga negara, pendidikan maupun instansi lain. Formalitas ditunjukkan lewat gelar Upacara Bendera. Bentuk formalitas kental peringatan hari-hari besar yang menyangkut paut sejarah bangsa Indonesia ini lebih masyur jika dilakoni disamping rasa tepa selira kita untuk menjalankan semangat dikandung badan semesta NKRI.

Spirit Pancasila selaku alat pemersatu bangsa adalah generator penggerak nasionalisme. Sejenak mari bertukar sudut pandang dengan Bung Hatta yang tekak mendesak perubahan Piagam Jakarta.

Refleksi dari apa yang beliau rasakan, korbankan, dan daya juang pikiran untuk tetap bertubuh satu Indonesia sukar kita jumpai lagi masa ini. Semangat ini hilang, doa Indonesia semoga spirit diversity dalam Pancasila tetap panjang umur.

Fatony Darmawan
Rakyat biasa yang hobi menulis,seorang pelajar dan seorang penikmat opini publik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.