Senin, April 12, 2021

Menggagas Sang Surya Air, Solusi Mahalnya Tiket Pesawat

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Bang Nusron yang Sedang Gaduh

Sebagai Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah I (Pulau Sumatera dan Jawa) Nusron Wahid seharusnya tidak terlalu ikut campur di satu tempat atau...

Pemilu 2019 dan Upaya Menghimpun Harapan

Tahun 2018 sudah memasuki bulan penghabisan. Tak ayal lagi, sebagai tahun di mana keputusan-keputusan politik sudah disepakati, tentu pergumulan mengenai taktik dan strategi menuju...

Reformulasi Tafsir Jihad

Salah satu doktrin Islam yang paling banyak menimbulkan kontroversi dalam penafsirannya adalah perintah jihad. Dalam kitab-kitab klasik, pembahasan tentang jihad selalu disatukan dengan kasus...
irsyad madjid
Ketua Umum PC IMM Malang Raya 2018-2019, Peneliti di Pegiat Riset Ekonomi (Perisai) Institute

Masyarakat di tanah air sedang mengalami kegelisahan yang disebabkan oleh mahalnya harga tiket pesawat di tengah musim mudik lebaran. Sebagai Negara kepulauan yang bergantung pada sistem penerbangan sebagai penghubung 17 ribu pulau yang tercatat, persoalan ini sesungguhnya amat serius.

Bayangkan saja, Kemenhub melaporkan pada tahun 2018 total 18,7 juta penduduk Indonesia yang melakukan mudik lebaran, 4,8 juta orang/25.6 % diantaranya menggunakan pesawat terbang. Angka ini merupakan yang paling tinggi dibanding moda transportasi yang lainnya.

Alhasil, kenaikan harga tiket pesawat sangat berefek pada jumlah pemudik tahun ini. Data terakhir dari Kemenhub tertanggal 07 Juni 2019, jumlah pemudik tahun ini ternyata turun sekitar 1 juta orang dan penurunan terbesar hingga 37 % terjadi pada pos penerbangan.

Celakanya, pemerintah seolah tak bisa berkutik dan ingin mengambil langkah praktis yang terkesan populis namun tak mampu menyelesaikan masalah. Presiden misalnya, meminta Pertamina untuk menurunkan harga Avtur sedangkan menhub akhirnya hanya menekan maskapai lewat penurunan Tarif Batas Atas (TBA) tiket pesawat.

Masalah yang tak kunjung selesai

Namun setelah harga Avtur dan TBA turun pun, belum ada perubahan yang signifikan. Padahal, jika tak segera diselesaikan, hal ini akan memunculkan kegaduhan yang akan mengganggu stabilitas nasional. Misalnya saja, ekonom senior INDEF malah menilai bahwa strategi tiket mahal penerbangan dilakukan agar jalan tol dipergunakan oleh masyarakat.

Prasangka liar ini pun semakin berkembang, karena beberapa kali kita melihat keputusan-keputusan konyol sekaligus lucu yang dilakukan pemerintah karena gugup dan gagap menghadapi problem ini. Mulai dari menteri perhubungan yang menegur agen travel hingga wacana Presiden untuk mendatangkan maskapai asing demi menekan struktur duopoli pasar yang ternyata melanggar UU No. 1 Tahun 2009.

Masalah duopoli menjadi salah satu sebab yang patut dicurigai. Struktur pasar yang saat ini hanya dikuasai oleh dua perusahaan yakni Lion Air dan Garuda Indonesia dengan total market share fantastis: 96 %. Hal ini menjadi riskan, karena kekuatan terkait penentuan harga berada sepenuhnya pada tangan produsen bukan lagi melalui dari konsensus tak langsung produsen dan konsumen yang menghasilkan titik ekuilibrium.

Terlebih, aroma kartel akibat duopoli pasar sudah tercium dengan hilangnya ketersediaan tiket AirAsia pada beberapa agen tiket yang ditengarai karena mendapat tekanan dari Lion dan Garuda. Padahal, sebagai satu-satunya maskapai yang masih menggratiskan bagasi penerbangan domestik, AirAsia sebenarnya berpotensi menjadi market leader pada kelas penerbangan berbiaya hemat.

Melihat struktur pasar yang seperti ini, nampaknya tiket murah penerbangan seperti dulu akan berakhir menjadi mimpi. Hal ini pun diamini oleh Menko Perekonomian dan juga KPPU yang sudah menginvestigasi kasus ini, meskipun belum ada hasil.

Sederet problematika ini menjadi semakin ironi karena masyarakat tak mempunyai opsi lain dalam memilih maskapai. Padahal, sebelum melonjaknya sekitar 40-120 % harga tiket pesawat penerbangan domestik secara bersamaan yang dimulai akhir tahun lalu, masih terdapat banyak opsi dalam kelas penerbangan murah (Low Cost Carrier).

Namun, dengan bergeraknya harga kelas penerbangan murah ke ekuilibrium baru yang sulit dijangkau oleh masyarakat, pilihannya terpaksa menjadi : siapa yang menyediakan opsi harga paling murah. Sesuai dengan statement Rusdi Kirana ketika di wawancarai oleh Majalah Angkasa “pesawat saya adalah  yang terburuk di dunia, but you have no choice”. 

Urgensi Muhammadiyah untuk hadir

Oleh karena itu, melihat potensi krisis yang akan terjadi, nampaknya Negara kembali butuh sang penyelamatnya. Layaknya 100 tahun yang lalu ketika Negara mengalami krisis intelektual karena pendidikan dan kesehatan hanya milik mereka yang ningrat dan bangsawan, kali ini pun pesawat seakan hanya milik mereka yang ningrat dan bangsawan.

Sehingga, ide akan hadirnya maskapai penerbangan Muhammadiyah pun menjadi hal yang serius untuk diwujudkan. Hal ini juga selaras jika merujuk pada amanat Muktamar ke 47 yakni pengembangan amal usaha dan gerakan sosial lewat program ekonomi sebagai modal kekuatan strategis Muhammadiyah. Ekspansi di industri penerbangan adalah salah satu cara memainkan peran strategis ekonomi lewat inisiatif untuk memperbaiki struktur pasar.

Pun ternyata pengembangan amal usaha pada bidang transportasi sebenarnya bukanlah hal baru. Dalam catatan KH. Syoedja diceritakan bahwa Kiai Dahlan pernah sangat geram ketika ingin memberangkatkan warga Muhammadiyah untuk berhaji pada tahun 1922, akibat mahalnya biaya tiket kapal laut yang masih tergantung pada pelayaran asing milik Belanda dan India.

Kiai Dahlan pun berujar, bagaimanapun caranya Muhammadiyah harus dapat menegakkan pelayaran sendiri daripada membiarkan kongsi-kongsi pelayaran menggaruk keuntungan dari jamaah muslimin yang ingin berangkat Haji.

Maka bagi Muhammadiyah, ekspansi amal usaha ke bidang transportasi sebenarnya adalah dorongan ideologis dan merupakan hutang sejarah.

Nilai plus dari semua ini adalah, di luar dari aturan yang ketat, industri penerbangan adalah bisnis yang berpotensi menguntungkan bagi Muhammadiyah. Di tengah kondisi pasar domestik yang sedang jengah, rakyat merindukan hadirnya pihak ketiga yang merusak potensi kartel pada industri ini. Apalagi mengingat  laporan Tirto.id yang mengutip sumber dari CAPA-Centre for Aviation bahwa pasar domestik Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan akan terus berkembang.

Data membuktikan, hanya dalam waktu 12 tahun, pengguna angkutan udara tumbuh drastis dari angka 30 Juta orang di 2005 menjadi total 97 juta orang pada tahun 2017. Maskapai Sang Surya Air nama maskapai imajiner saya, sebaiknya masuk pada kelas Low Cost Carrier untuk mendorong pergerakan harga ke titik ekuilibrium baru yang lebih terjangkau.

Tantangannya pasti berat, karena duo pemilik singgasana akan melakukan segala hal untuk menghalangi upaya ini. Namun dari segi market, Muhammadiyah tak akan memulai pencarian konsumen dari nol.

Selain masyarakat golongan menengah ke bawah yang ingin CLBK dengan harga tiket yang murah, basis dari anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang ditaksir lebih dari 30 juta orang adalah kekuatan tersendiri. Bandingkan dengan total penumpang Citilink yang hanya 14,6 Juta pertahun dan mendekati jumlah konsumen penguasa di kelas penerbangan murah, yakni Lion Air di angka 33,4 juta penumpang pertahun.

Apalagi, mengutip tulisan Pak M. Pakanna, terdapat 15 triliun dana likuid (jangka pendek) persyarikatan yang belum terpakai. Idle cash yang hanya tersimpan di rekening giro atau deposit pada bank konvensional itu lebih baik diputar pada bisnis ini dibanding hanya mengharapkan return yang ditaksir hanya sekitar 0,5-1 %. Terlebih, modal itu sudah melebihi syarat Menhub yakni minimal modal 8 triliun untuk mendirikan maskapai penerbangan.

Pada akhirnya, dibanding duduk diam menyaksikan kegugupan pak Budi Karya memarahi agen travel atau kegagapan kontra nasionalis pak Jokowi memanggil maskapai asing hanya untuk melayani penerbangan domestik, sebaiknya Muhammadiyah kembali datang (sekali lagi) sebagai penyelamat.

irsyad madjid
Ketua Umum PC IMM Malang Raya 2018-2019, Peneliti di Pegiat Riset Ekonomi (Perisai) Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.