OUR NETWORK

Mengenalkan Spiritualitas Jawa

Sunyata The Poetics of Emptiness memuat filosofi kekosongan yang telah dikenal secara dekat oleh masyarakat Nusantara terutama Jawa.

Melalui karya berjudul Sunyata The Poetics of Emptiness, Paviliun Indonesia hadir dalam seminar berjudul The Tale of The Void, yang dilaksanakan Minggu (8/7), di kota Venezia, Italia. Hadir sebagai panel pembicara kurator Ary Indra, moderator David Hutama dan Renato Rizzi, Professor University of School of Architecture Venice (IUAV). Acara ini merupakan rangkaian dari acara dua tahunan, Venice Architecture Biennale yang ditahun 2018 ini mengangkat tema Freespace.

Sunyata The Poetics of Emptiness memuat filosofi kekosongan yang telah dikenal secara dekat oleh masyarakat Nusantara terutama Jawa. Konsep suwung yaitu kekosongan yang memberikan pengaruh yang mendalam dan secara implisit dan eksplisit kerap mengandung unsur spiritual dan “kehadiran kekuatan energi lain” tercermin dan terasa dalam bangunan dan arsitektur nusantara.

“Void dalam arsitektur tradisional nusantara merupakan konsep yang telah dikenal  dan juga telah diterapkan pada banyak bangunan sebagai jawaban pada tantangan gografikal juga sebagai cara memberikan ruang pada kebutuhan ritual dan juga kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama manusia,” ujar Ary. Karya yang sarat nilai budaya ini mendapat apresiasi dari penggiat arsitektur dunia.

Konsep Freesapce menjadi tema kali ini tak lain karena kecenderungan manusia yang akhir-akhir ini bertumpu pada hal-hal yang bersifat tangible dan melupakan bahkan menolak hal-hal yang bersifat intangible. Kondisi ini terlihat  sebagai akibat kemalasan berpikir dan munculnya dorongan yang kuat untuk mendominasi yang lain.

“Manusia saat ini berada pada periode yang sangat mengerikan dimana ada anggapan publik yang menganggap bahwa hal yang eksak seperti misalnya teknologi sangat dibutuhkan sebagai alat untuk mendominasi dan menguasai  sesama,” jelas professor Renato Rizzi

Hal ini menurutnya membuat manusia terjebak dan tidak bisa memahami bahwa ada hal-hal yang nilainya jauh lebih tinggi dan jauh melampaui kekuasaan  namun tidak mendominasi, yang disebut arche.

“Dalam dunia arsitektur, Arche adalah sesuatu yang intangible, tidak bisa dinilai tapi justru kekuatannya  lebih tinggi dan kita sebut grace (anugerah). Grace ini hanya bisa hadir melalui pribadi yang singular, pribadi yang mengenal dirinya sendiri, yang hadir secara spesifik dan unik pada pribadi masing-masing,” ujarnya.

Ia menambahkan dengan hadirnya tema Freespace ini, diharapkan manusia dapat menarik diri, dari hiruk pikuk kebutuhan manusia pada dunia material dan teknologi, untuk sejenak merenung dan berkontemplasi, memberi waktu pada tiap pribadi untuk mengenal sisi masing-masing yang tangible dan intangible serta memanfaatkan keduanya dalam porsi yang seimbang.

Kebanggaan terhadap dunia arsitektur Indonesia ini tak lepas dari peran BEKRAF yang mengaadkan proses seleksi pemilihan karya dan kurator medio 2017 yang lalu. Desember 2017, terpilih enam kurator Ary Indra, David Hutama, Dimas Satria, Jonathan Aditya, Ardy Hartono dan Johanes Adika dengan karya berjudul Sunyata: The Phoetics of Emptiness.

SUka nulis, thats my passion

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…