Kamis, Desember 3, 2020

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Jalan Buntu Itu Bernama Kehidupan

Kehidupan tidak selalu menjadi tempat yang dipenuhi cahaya, ditumbuhi mawar berwarna, serta diiringi alunan musik yang merdu. Kehidupan juga tak jarang perlu dimaknai sebagai...

Sumbangsih Milenial Dipertanyakan oleh Ibu Megawati

Menjadi sebuah perdebatan baru di tengah pandemi covid-19. Belum usai dengan demo penolakan Undang-Undang Cipta Kerja sekarang ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri justru...

Pemuda dan Wacana Ruang Publik

Semenjak bergulirnya masa reformasi, Indonesia seolah mulai diakrabkan kembali dengan istilah demokrasi. Pertimbangannya waktu itu, demokrasi adalah sistem pengganti terbaik dari represifnya orde baru....

Kecemasan di Masa Pandemi

Saat ini, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19 yang sangat mengkhawatirkan. Hampir semua Negara-negara di Dunia sedang mengalami pandemi covid-19 ini, termasuk Indonesia dan juga...
Khalqinus Taaddin
Pengarang. Menulis 3 buah buku yang berjudul Kegelisahan Dalam Kesendirian, Serba Serbi, dan Glapisme.

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota adalah julukan pemerintah Hindia-Belanda yang ditunjukkan untuknya.

Selain diketahui sebagai gurunya bapak Proklamor Kemerdekaan Indonesia Ir. Soekarno, Tjoakroaminoto juga dianggap sebagai ratu adil pada zamannya, sebab gagasan-gagasannya dianggap melampui zaman dan selalu berpihak pada rakyat serta pada tanah air Indonesia. Namun, kerendahan hatinya ia justru menolak sebutan itu. Ia menginginkan dan terus mengingatkan bangsa Indonesia untuk menciptakan Indonesia merdeka yang terlepas dari penjajah.

Tjokroaminoto dengan nama lengkap Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1883. Ayahnya yang bernama Tjokroamiseno merupakan bangsawan yang sangat disegani oleh masyarakat karena bekerja sebagai wedana di Kleco Madiun. Sedangkan kakeknya sebagai Bupati  Ponorogo yang bernama Tjokronegoro. Tjokroaminoto yang sangat berpengaruh pada rakyat jelata ini tidak memiliki pendidikan formal, tercatat ia sebagai lulusan akademi pamong praja Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA) di Magelang.

Karir Tjokroaminoto berawal dari pertemuannya dengan pendiri SDI (Serekat Dagang Islam), Haji Samanhudi di Surabaya pada tahun 1912. Kemudian, ketika itu Tjokroaminoto mengusulkan agar nama SDI (Serekat Dagang Islam) di ganti menjadi Serekat Islam (SI) agar cakupannya lebih luas tapi tanpa meninggalkan misi dagang. Usul itu kemudian langsung diterima dan Haji Samanhudi meminta menyusun anggaran dasar Serekat Islam. Pada tanggal 10 September 1912 Serekat Islam pun berdiri dengan Haji Samanhudi sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai komisaris untuk Jawa Timur.

Tiga tahun setelah itu, pada tahun 1915 Tjokroaminoto menjadi ketua Central  SI yang merupakan gabungan dari SI daerah-daerah. Sejak saat itu ia terus berjuang mengukuhkan eksistensi SI. Dalam naungan organisasi ini Tjokroaminoto berjuang untuk menghapus diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi.

Dengan kata lain, SI berusaha menghilangkan dominasi ekonomi dari penjajah Belanda dan para pengusaha keturunan China. Satu tahun kemudian, S1 diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia-Belanda. Walaupun Tjokroaminoto sebagai manusia darah biru, namun ia sangat berbeda dengan bangsawan lainnya dengan berupaya keras untuk keluar dari belenggu budaya Jawa. Dalam hal ini tidak heran jika ia tidak memilih bergabung dengan Budi Otomo sebagai wadah perjuangannya. Padahal, ia sangat layak bergabung dalam organisasi ekslusif priyayi lainnya.

Gagasan Tjokroaminoto selain menyuarakan kemerdekaan Indonesia ialah kebebasan politik serta perlunya membangkitkan kesadaran hak-hak kaum pribumi. Ia juga secara intens melakukan gerakan penyadaran untuk anak-anak muda yang indekos dirumahnya yang di Surabaya. Disamping itu Jauh sebelumnya, Tjokroaminoto juga menginginkan  bangsa Indonesia kelak mempunyai pemerintahan sendiri serta terbebas dari belenggu kolonialisme penjajah.

Dalam hal ini, pada Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam pada tahun 1916 ia melontarkan gagasan untuk mewujudkan cita-citanya itu, dimana Tjokroaminoto ditengah-tengah kongres melontarkan ingin membentuk parlemen yang lahir dari rahim bangsa Indonesia sendiri sehingga melalui parlemen tersebut dapat melahirkan undang-undang.

Tak lama setelah Tjokroaminoto mengusulkan pembentukan parlemen, tepatnya pada tahun 1918 pemerintah kolonial Belanda bersedia membentuk Dewan Rakyat atau Volksraad, Tjokroaminoto beserta tokoh lainnya seperti, Agus Salim dan Abdul Muis terpilih sebagai anggota Dewan Rakyat yang dibentuk oleh kolonial Belanda itu, mereka pun berniat untuk membentuk parlemen sejati dengan mengeluarkan mosi agar anggota parlemen dipilih secara langsung oleh rakyat serta membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat, tetapi kandas. Sebab, pemerintah Belanda menolak mosi yang diusulkan oleh ketiga tokoh wakil SI itu. Tak lama kemudian ketiga Dewan Rakyat itu keluar dari Voksraad dan bersikap non-kooperasi dengan pemerintah.

Selanjutnya, pada tahun 1923 SI mengadakan Kongres Akbar di Madiun, pada kongres ini SI diubah menjadi partai dengan nama Partai Sarekat Islam (PSI), melalui partai ini Tjokroaminoto bertekad untuk menentang pemerintahan Belanda yang semakin kuat menancapkan kapitalisme dan kolonialisme-nya di tanah air Indonesia. Akan tetapi, sebelum melihat bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Tjokroaminoto terlebih dahulu meninggal pada 16 Desember 1934. Sebagai tokoh besar dengan gagasan-gagasannya, ia berhasil mewariskan kepada generasi muda setelahnya seperti Soekarno, Sjahrir dan Hatta.

Soekarno pernah mengatakan “Tjokroaminoto adalah salah satu guru saya yang amat saya hormati, keperibadiannya dan Islamisme-nya sangat menarik hati saya”.

Akan tetapi setelah beberapa generasi Tjokroaminoto seperti terlupakan, kiprahnya seakan-akan disamarkan oleh generasi bangsanya sendiri yang seharusnya gagasan-gagasannya bisa diimplementasikan oleh generasi-generasi setelahnya, ia juga merupakan salah satu di antara Bapak Republik Indonesia.

Khalqinus Taaddin
Pengarang. Menulis 3 buah buku yang berjudul Kegelisahan Dalam Kesendirian, Serba Serbi, dan Glapisme.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.