Rabu, Januari 27, 2021

Mengenal Sebuah Kinerja Sistem Produksi Lewat Film “War of The P

Palestina dan Kematangan Mental

Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama, di usia 17 tahun sudah aktif di sebuah kelompok teater, yang hasil pementasannya ia gunakan untuk mendirikan dan...

Kita Semua Ingin Ada Buzzer

Akan hambar linimasa, jika buzzer tidak ada. Buzzer adalah penyambung lidah kita. Ada rasa was-was menghantui jika kita posting isi hati tentang sebuah tragedi....

Membuka Ruang Publik Milenial Membatasi Staqus Quo

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY.  Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Membuka generasi milenial,  menjadi trigger konsepsi ruang publik...

Warkop, Minat Baca dan Wifi

Anda-anda sekalian pasti pernah berkunjung ke warkop alias warung kopi, entah yang ada di Mall atau yang ada di pinggir jalan. Tentunya, anda sekalian...

Salah satu corak yang dibahas dalam tulisan ini adalah dari film “War of the planet of apes”. Ya film tentang monyet yang dapat berbicara itu. Sebuah bentuk perkembangan evolusi yang terbantukan oleh keberadaan manusia. Tetapi tidak mengenai jalan cerita dari film tersebut yang akan terulas. Melainkan hal-ihwal pranata persisteman untuk kebutuhan pembangunan maupun berbagai hal yang mendukung tumbuh kembang peradaban.

Sebuah padanan kata yang saya bola-balikkan demi memanjangkan definisi yang mengawali pembahasan akan sistem yang sebelumnya tersebut. Tetapi sistemisasi ini tidak dalam bentuk corak bagan organisasi seperti yang terpampang ditembok-tembok perkantoran. Tidak, malah lebih sederhana dari hal itu. Sistem yang saya hubungkan lewat film “War of the planet of apes” ini. Lebih menekankan mengenai salah satu scene yang saya anggap dapat mencotohkan salah  satu bentuk sistem yang paling sederhana. Dan mungkin saja, yang mendasari seluruh sistem.

Mungkin tidak perlulah saya kisahkan dari awal sampai akhir jalan cerita film ini. Pokoknya mengenai kera-kera yang membuat komunal sendiri. Kera-kera ini dapat melakukan komunikasi maju satu sama lainnya. Dan dapat berproduksi serta terampil. Layaknya manusia purba dahulu kala. Disuatu saat ketika kera-kera ini tertangkap oleh manusia. Mereka diperkerjakan dengan paksaan. Karena mereka diancam oleh senjata api. Hal yang dapat langsung membunuh mereka seketika. Sehingga mau tidak mau mereka harus bekerja karena paksaan tersebut. Sementara para pemegang senjata api itu, atau manusia tinggal berdiri dan mengawasi sembari meminum bir masing-masing.

Bagian film itu lah yang menjadi salah satu ulasan. Dapat terlihat jika hubungan antara kera dan manusia di scene itu adalah antara bawahan dan atasan. Bawahanlah yang bekerja, sementara atasan hanya duduk mengawasi saja. Sementara kera-kera itu tidak diberikan porsi makan selayaknya mereka bekerja dengan penuh kelelahan karena paksaan itu. Kebuutuhan makan mereka pastinya berlebih karena harus melakukan pekerjaan yang di scene itu adalah membangun tembok juga.

Sebenarnya bisa saja kera-kera itu tidak mau. Tetapi terdapat alat disini yang dapat mengkontrol mereka yaitu senjata api. Yang senantiasa dapat menembak mereka yang tidak mau bekerja. Karena keinginan untuk hidup itulah mereka terpaksa bekerja. Padahal kera-kera itu sebenarnya juga tidak membutuhkan manusia-manusia pembawa senjata tersebut. Tetapi karena terkondisikan oleh tertangkapnya mereka juga. Terpaksa mereka melakukan itu.

Dan setelah pembahasan antara hukum senapan dan paksaan itu. Saya melanjutkan ke sebuah bentuk pemberontakan paling sederhana. Yang dapat memberhentikan pekerjaan yang sebelumnya tidak dapat dihentikan tanpa mandat dari mandor mereka. Yaitu ketika tokoh utama dari pihak kera-kera yang bernama “Caesar” sudah muak terhadap perilaku penyiksaan yang dilakukan para manusia itu. Dia meneriakkan kata berhenti dengan lantangnya karena tidak kuat melihat penderitaan kaumnya.

Dia membuat berhenti semua aktifitas di tempat itu. Dan menarik perhatian segala pihak baik kera maupun manusia. Hanya dengan satu teriakan lantang, semua kegiatan terhenti. Hingga akhirnya dia didekati oleh pemimpin pasukan manusia itu. Dan mengancam akan menembak kepalanya. Dan Caesar sendiripun dengan berani mendekatkan kepalanya ke moncong pistol tersebut. Pada akhirnya atas ancaman tersebut. Kera-kera lainnya memulai pekerjaannya kembali karena takut akan kehilangan pemimpin mereka.

Ancaman dan todongan senjata. Alat yang dipakai atasan untuk membuat bawahan mereka tidak membelot dan tetap melakukan apa yang mereka mau. Ketakutan akan kehilangan pemimpin mereka, ketakutan akan kehilangan hidup mereka, kera-kera itu masing-masing. Digunakan oleh manusia-manusia yang punya senjata itu untuk mempekerjakan mereka. Bukan atas kemauan mereka. Karena kesuperioran manusia-manusia itu dalam persenjataan. 

Lalu satu berontakan oleh satu kera saja. Langsung ditodong oleh pistol. Karena ketakutan dari manusia itu terhadap pengaruh yang ditimbulkan oleh Caesar tadi. Karena sebenarnya para manusia itu yang berposisikan sebagai atasan. Pastilah tetap membutuhkan kera-kera itu. Dan alat untuk menjalankan keterbutuhan mereka itu yang seperti sedari tadi diulangi adalah ancaman. Ancaman akan ditembak lah maupun dipecutlah. Ancaman yang membuat kera-kera itu senantiasa harus patuh terhadap mereka. Padahal kera-kera itu dibutuhkan oleh para manusia-manusia tersebut.

Umpamanya dibawa dalam kasus dimana tidak ada persenjataan. Dan kera-kera dan manusia-manusia diposisikan sama seperti yang tertuang sebelumnya. Kelas atas dan bawah. Satu pembrontakan seperti yang dilakukan Caesar tadi akan menimbulkan riuh yang kemudian menjadi gelombang hingga menenggelamkan para manusia yang sebelumnya diatasnya.

Coba bayangkan seperti itu dikondisi seperti itu. Pemberontakan yang dilakukan oleh kera-kera yang dibutuhkan oleh manusia tadi. Seperti dengan tidak melakukan apa yang mereka suruh maka akan membuat apa yang menjadi kebutuhan manusia-manusia tersebut tidak terpenuhi. Dikarenakan kebutuhan manusia di film tersebut adalah pembangunan tembok, coba diganti dengan pangan. Maka pastilah manusia-manusia itu kelaparan. 

Karena setelah scene pembelotan Caesar itu. Membuat pemimpin manusia terpaksa melakukan kompromi agar rencananya berjalan sebagaimana ia harap dalam waktu yang ia targetkan. Pemberontakan tersebut berujung kompromi dari pihak atas. Karena pihak atas memang membutuhkan yang bawah. Dan juga sebenarnya mau tidak mau kera-kera itu menanggapi kompromi tersebut karena adanya ancaman senjata berapi.

Coba kalau tidak ada senjata itu yang menahan mereka. Pemberontakan itu akan menghancurkan dan meluluhlantakkan apa yang telah mengekang dan menyiksa mereka. Kebebasan mereka akanlah pasti mereka terima karena usaha mereka sendiri. Karena sedari awal kera-kera itu tidak berkebutuhan bekerja dengan sistem seperti itu.

Lalu coba cocokkanlah yang sekiranya ialah menjadi  berhubungan didalam dunia sekaran ini. Benarkah ancaman juga yang mendasari timbulnya sistem produksi. Mungkin ya, mungkin tidak. Karena penjabaran tersebut saya rasa terlampau belum saya mengerti. Hanya saja saya ingin menuliskan apa yang telah saya dapat dari film yang baru-baru saja muncul ini. Karena kesewenangan pihak yang paling membutuhkan yaitu manusia dalam salah satu scene film ini. Dan padahal yang paling penting ialah pihak bawah.

Karena yang berada di kelas bawah disini. Adalah tonggak yang memberikan tempat si atas. Apabila yang berada di atas tidak memiliki alat jika dalam film ini senjata api. Maka mana mau yang dibawah melakukan hal tersebut. Terkecuali terdapat sebuah kerjasama secara musyawarah yang mufakat. Dimana semuanya serta merta setuju untuk bahu membahu satu sama lain dan memberikan tempat diatas bagi yang sekiranya memang berkemampuan menurut semua pihak untuk berada diatas sebagia pengawas, pengatur juga pekerja. Tetapi apabila difilm itu seperti itu maka film itu dipastikan membosankan karena tidak adanya konflik dan pemberontakan.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.