Kamis, Oktober 29, 2020

Mengenal Beberapa Khazanah dan Pemikir Islam

Trotoar dan Kemalasan kita

Selain sebagai kelengkapan jalan raya, jalur pedestrian sejatinya merupakan ruang vital di kota, pasalnya tempat tersebut menjadi tempat sosialisasi antar warga sehingga dapat meningkatkan...

Peluang Peran ASEAN di Laut Cina Selatan

Rasa pesimisme saya meningkat melihat peran yang bisa dimainkan ASEAN dalam menyelesaikan konflik klaim di Laut Cina Selatan pada saat ini. Hingga Juli 2020 ini,...

Kampanye Bermartabat, Agar Rakyat Berdaulat

Kontestasi Pilpres dan Pileg 2019 seharusnya mampu mendewasakan semua peserta pemilu untuk tidak lagi menggunakan cara-cara tidak bermartabat agar mendapat dukungan pemilih. Misalnya saja sentimen...

Melacak Inferioritas Rasial Bangsa Kita dari Orientalisme

Masih segar di ingatan kita bahwa media-media arus utama beberapa waktu lalu “membombardir” linimasa  masyarakat digital dengan komodifikasi pernikahan lintas-ras antara surfer asal Magelang...
Yohanes Yerius Lando
Yeri Lando Penikmat isu pendidikan

Abad ke-14 dunia Islam mengalami kelesuan, akan tetapi dari Tunisia lahirlah seorang pemikir besar yaitu Ibn Khaldun (Abdurrahman ibn Khaldun, w. 808 H/1406 M) ke pentas dunia. Kelesuan yang dimaksudkan di sini yaitu dalam dunia Islam tidak banyak melahirkan pemikir-pemikir besar seperti abad-abad sebelumnya. Akan tetapi, dunia Islam selalu melahirkan tokoh-tokoh yang cemerlang.

Ibn Khaldun adalah salah satu tokoh besar Islam yang lahir pada abad ketika dunia Islam sedang lesu. Dia dikenal tidak menyukai filsafat sama seperti Al-Ghazali pendahulunya yang tidak menyukai filsafat secara fundamental.

Dengan latar belakang yang demikian, arah pemikirannya tentu banyak dipengaruh Al-Ghazali. Petikan dari opus magnum Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, di mana ia membuat catatan tentang persepsinya mengenai pembagian ilmu pengetahuan dan tentang bagaimana secara fundamental mengkritik filsafat.

“Ibn Khaldun menyanggah kebenaran kosmologi Neoplatonis karena, pembagian wujud yang berakhir kepada Akal Pertama itu adalah tanpa dasar dan bersifat sewenang-wenang. Sedangkan alam kenyataan ini jauh lebih bervariasi daripada yang dikira oleh para filsuf yang ia gambarkan sebagai berpandangan picik itu.

Tambahan lagi, Akal Pertama gagasan para filsuf itu telah meredusir Tuhan menjadi suatu kenyataan, yang meskipun dikatakan absolut dan wajib, namun juga bersifat bukan pribadi (impersonal). Ini tidak saja berlawanan dengan ajaran agama, tapi juga membuat paham ketuhanan menjadi kehilangan fungsinya sebagai sumber moralitas, baik individual maupun sosial. Karena itu filsafat tidak saja palsu, bahkan berbahaya untuk manusia”.

Dalam penerapannya untuk gejala alam, Ibn Khaldun berpendapat bahwa filsafat tidak dapat diandalkan untuk menjelaskan hakikat objek-objek material. Ibn Khaldun menampik klaim filsafat atas dasar postulat bahwa sesuatu yang benar secara filosofis seharusnya tidak saja memang benar, tapi juga dapat dibuktikan dalam alam kenyataan.

Perkembangan sains mungkin dapat menjadi salah satu penyebab pemikiran yang demikian. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri cara berpikir seperti ini merupakan cara berpikir khas kaum positif yang menganggap filsafat tidak mampu menjelaskan hakikat objek-objek material. Filsafat tidak memiliki objek material yang memadai untuk menjelaskan sesuatu yang real. Filsafat hanya mengandalkan rasio dan logika untuk menjelaskan segala sesuatu. Dengan demikian, filsafat bagi Ibn Khaldun sulit diterima untuk menjelaskan sesuatu.

Sebagai seorang pemikir yang anti filsafat tentu Ibn Khaldun tidak berangkat dari ruang hampa. Maksudnya, Ibn Khaldun berani mengkritik filsafat karena dia sudah mempelajari filsafat sebelumnya. Sebagaimana disampaikan oleh Nurcholis Madjid, “….tetapi, sementara mengkritik habis filsafat, mereka mempelajarinya dengan penuh tanggung jawab dan, dengan caranya masing-masing masih menunjukkan penghargaan kepada segi-segi positif tertentu filsafat itu, terutama yang bersangkutan dengan disiplin berpikir teratur.” Dengan demikian, tidak fair jika kemudian kita menganggap Ibn Khaldun yang anti filsafat tidak mempelajari filsafat.

Pandangan Ibn Khaldun dan Al-Ghazali bertolak belakang dengan pandangan Ibn Rusyd yang menganggap filsafat memiliki faedah dalam pemikiran manusia. Mungkin tidak ada objek real yang dipelajari filsafat, tetapi melalui disiplin ilmu ini diperkenalkan logika dan keteraturan dalam berpikir.

Ibn Rusyd tetap setia bahwa filsafat pada dasarnya digunakan oleh semua orang dalam hidupnya. Lalu, menjadi pertanyaan adalah, “apakah sikap Ibn Rusyd ini lebih merupakan hasil dari kecenderungannya yang kuat pada filsafat yang mengorbankan doktrin-doktrin agama; dalam arti, apakah ia melihat kebenaran itu hanyalah kebenaran yang dibuktikan dengan argumen filsafat, sehingga persoalan penafsiran atas doktrin-doktrin agama serta kebenaran-kebenaran yang dikandung wahyu harus didasarkan pada argumen filsafat?

Atau, apakah sikapnya di antara kedua kutub ekstrim ini yakni agama dan filsafat justru sebaliknya, yaitu ia berupaya menerapkan metode filsafat pada agama yang harus diimani terlebih dahulu? Atau sikapnya ingin adanya penyelarasan atau harmonisasi antara agama dan filsafat yang tidak mungkin dipertentangkan karena keduanya adalah dua saudara yang saling melengkapi dan saling membutuhkan?”

Bagi Munawar Rachman, sikap filsuf Andalus ini ingin menyelaraskan kedua kutub tersebut yang sebenarnya masing-masing mengekspresikan hakikat kebenaran. Masing-masing mempunyai sifat dan karakteristiknya sendiri, dan tidak selayaknya terdapat pertentangan atau perbedaan. Maka, tidak mungkin terjadi pertentangan di antara tokoh-tokoh dari masing-masing kutub tersebut, meskipun perbedaan itu tampak di permukaan.

Setelah berakhir zaman Ibn Rusyd dan Al-Ghazali lahir tokoh besar lainnya yaitu al-Afghani. Riwayat hidupnya cukup rumit karena dia dikenal berasal dari Afganistan, tetapi dalam studi-studi selanjutnya dia dikatakan berasal dari Iran. Akan tetapi, bukan itu yang ingin disampaikan di sini, melainkan pokok pemikirannya.

Pandangan pokok al-Afghani ialah “untuk berhasil mengembalikan kejayaannya yang lalu dan sekaligus guna menghadapi Abad Modern, umat harus kembali menjadi pemeluk-pemeluk Islam yang lebih murni. Karena pemahaman serta pengamalan umat akan agamanya seperti yang ia saksikan terbukti membawa kekalahan terhadap bangsa-bangsa bukan Muslim.

Al-Afghani memastikan tentang adanya sesuatu yang salah dalam pemahaman dan pengamalan agama serta adanya suatu bentuk semangat keislaman yang lebih murni, yang kini hilang atau melemah. Al-Afghani berpendapat bahwa semangat itu terletak dalam apa yang menjadi salah satu tema pokok seruannya di atas, yaitu berpikir rasional dan bebas”.

Pandangan Al-Afghani ini berangkat dari kegalauannya melihat dunia Barat yang maju demikian pesat, sedangkan dunia Islam masih asyik dengan kegemilangan sejarahnya. Mereka lupa bahwa dunia Barat sudah jauh lebih maju dibanding beberapa abad sebelumnya. Oleh karena itu, Al-Afghani menyerukan untuk kebangkitan Islam.

Kebangkitan yang dimaksudkan adalah dunia Islam segera mengejar ketertinggalan dari dunia Barat. Hal paling nampak ketika Napoleon Bonaparte dengan mudah menaklukkan Mesir. Pengalaman ini tidak diharapkan oleh dunia Islam jika berkaca pada pengalaman beberapa abad sebelumnya pasukan Muslim begitu perkasa di hadapan pasukan Salib dari Eropa. Akan tetapi, Eropa Barat telah mengalami kebangkitan. Afghani menyerukan bagi semua umat Islam untuk membuka mata dan melihat dunia ‘nyata’ dan mulai belajar.

Yohanes Yerius Lando
Yeri Lando Penikmat isu pendidikan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.