Selasa, Maret 2, 2021

Mengawal Janji Lewat Peringatan Solidaritas Asia-Afrika

Analisis Ekokritik pada Film Dokumenter Semesta

Pada era modern ini karya sastra dikelompokkan menjadi empat genre, yaitu prosa, puisi, drama dan film. Meskipun tidak sedikit ilmuan sastra yang tidak mengklasifikasikan...

Arsiparis, Antara Kertas Lusuh dan Kesadaran Pengarsipan

Profesi arsiparis memang kurang dikenal dan masih asing di telinga masyarakat. Berdasarkan Undang undang Nomor 43 TH 2009 arsiparis adalah seseorang yang memiliki kompetensi...

Ketika “yang umum” diselingkuhi

Setiap pasangan di muka bumi ini pasti tak mau diselingkuhi. Bahkan poligami, status beristri lebih dari satu, juga saat ini menjadi topik hangat yang...

Hujan dan Segala Kemungkinan

Saat ini kita sedang memasuki musim hujan. Ingatan kita akan hujan tidak terlepas dari bahaya alam yang akan terjadi. Seperti banjir, tanah longsor dan...
Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta

Sudah 63 tahun berlalu, sebuah konferensi besar melibatkan negara-negara di dua benua, Asia dan Afrika. Terekam dalam sejarah, 29 negara hadir di kota kembang, untuk membahas perdamaian dunia dan kerja sama Internasional. Hari bersejarah yang berlangsung 18 April 1955, mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang berpengaruh dalam memperjuangkan perdamaian dunia.

Konferensi Asia Afrika atau yang disingkat KAA, digelar pada saat yang genting. Di mana masih banyak negara yang menjerit karena peperangan, membutuhkan dorongan semangat dan tambahan kekuatan moral bagi pejuang bangsa-bangsa di Asia Afrika. Dari penyelenggaraan konferensi tersebut, lahirlah Dasasila Bandung, suatu pernyataan politik yang tercantum prinsip-prinsip dalam menjaga perdamaian dunia.

Melalui sepuluh poin yang disepakati negara Asia-Afrika, mereka yang hadir membulatkan suara. Bahwa kedamaian adalah hak semua bangsa, dan hak bagi semua manusia di seluruh muka bumi.

Demi mengingat momen bersejarah puluhan tahun lamanya, di tahun 2015, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi meresmikan hari Solidaritas Asia-Afrika. Pemerintah memutuskan tanggal 24 April diperingati guna mengukuhkan kota Bandung sebagai ibukota Asia-Afrika.

Namun bagi saya, sejatinya hari solidaritas Asia-Afrika lebih dari sekedar pengukuhan kota Bandung. Melainkan pengingat bahwa kita sebagai bangsa pertama yang merdeka setelah perang dunia kedua, pernah berkomitmen menjaga perdamaian dunia. Itu artinya, kita siap membela perdamaian yang saat ini dirampas dari pelukan masyarakat Afrika.

Lihat bagaimana Benua Hitam tersebut begitu nelangsa dirundung duka. Tidak terhitung lagi jumlah penduduk yang harus meregang nyawa karena kelaparan dan gizi buruk. Bahkan beberapa tahun lalu, jagad dunia maya dihebohkan dengan sebuah foto yang diabadikan Kevin Carter. Foto yang diambil tahun 1994 itu memperlihatkan seorang anak yang tubuhnya sangat kurus, mati karena kelaparan. Yang membuat hati lebih merana, disamping jasadnya terlihat seekor burung gagak bersiap menerkam memakan tubuh sang anak.

Belum kering air mata menangis melihat kelaparan di Afrika. Mereka juga harus mengangkat senjata melawan bangsanya sendiri. Banyak dari mereka yang harus berkalang tanah ketika tank membombardir pusat kota, ketika rudal pesawat menghujam bumi. Bahkan ketika saudara menodongkan senjata tepat di kepala. Republik Afrika Tengah, Somalia, Republik Demokratik Kongo, dan Libiya adalah contoh kecil dari hancurnya sebuah negara karena peperangan melawan bangsanya sendiri. Sebuah cerminan bahwa perdamaian dunia belum sepenuhnya ada.

Sejujurnya, Indonesia memiliki hutang besar kepada Afrika. Disaat Belanda tak hilang akal mempengaruhi dunia, membolak-balikan fakta. Mesir hadir sebagai negara pertama yang mengakui secara penuh, negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Tepatnya tanggal 22 Maret 1946, Kairo memandang Indonesia sebagai saudara karena mayoritas warganya adalah muslim.

Pengakuan Mesir terhadap Indonesia diperkuat dengan ditandatanganinya Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dengan Mesir di Kairo. Menjelang ditandatanganinya Perjanjian tersebut Duta Besar Belanda melakukan protes sebelum ditandatanganinya perjanjian tersebut. Menanggapi protes tersebut PM Mesir tidak bergeming dan tetap konsisten mengakui Indonesia.

Sebetulnya hubungan mesra Indonesia sudah lama terjalin, bahkan saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sejak berabad-abad yang lalu, sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13, saat pelaut asal Indonesia mencapai beberapa negara di Benua Afrika seperti Zanzibar, dan Madagaskar. Lewat para pelaut, hubungan disegala bidang terbentuk, meliputi perdagangan dan pertukaran budaya.

Bahkan di Afrika Selatan, seorang pribumi menancapkan namanya sebagai salah satu pahlawan. Dia adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati atau biasa dikenal dengan sebutan Syekh Yusuf Almaqassari Al-Bantani lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626. Lewat beliau, Afrika Selatan mengenal Islam, dan saat ini sisa peninggalannya dapat kita saksikan dengan berkunjung ke kampung Makkasar di pust kota Cape Town.

Melihat hangatnya sejarah hubungan Indonesia dan Afrika, kita seharusnya lebih sadar. Sadar bahwa mereka yang disana, walaupun berjarak puluhan jam perjalanan udara adalah saudara kita, yang patut dibela, dan dibantu. Kesengsaraan yang sat ini kita hadapi, tidak sebanding dengan luka yang dirasakan masyarakat Afrika. Peringatan hari solidaritas Asia-Afrika menjadi momentum yang kuat untuk mengawal janji, yang telah disepakati 63 tahun yang lalu. Janji untuk memperjuangkan kehidupan yang damai bagai seluruh umat manusia.

Kita sebagai bangsa yang besar, justru disibukkan dengan “adu domba”. Adu domba antar agama, adu domba antar etnis bahkan adu domba atar penguasa. Kita lupa, bahwa ribuan kilometer jauhnya dari Nusantara.

Jutaan orang menangis meraung memohon iba, menggantungkan asa dari pertolongan bangsa seperti kita. Namun apa mau dikata, nyatanya panggung politik lebih asik daripada ikut berduka oleh hilangnya rasa iba. Pikiran kita terpaku oleh berita penistaan agama, tanpa peduli bahwa ada sebuah benua yang dinistakan kehidupannya.

Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.