Minggu, Februari 28, 2021

Mengapa Saya Tertarik dengan Jaringan Islam Liberal

Tiga Alasan Trump Berani Mengakui Yerusalem Ibukota Israel

Keputusan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih selalu menuai kontroversi. Seperti pada Desember 2017 lalu, dunia internasional kembali digemparkan dengan keputusan Donald Trump yang mengakui...

Karya Nyata untuk Pelajar Indonesia (Refleksi 57 Tahun IPM)

Semua orang yang pernah singgah di muka bumi pasti mempunyai cerita masa lalu. Entah itu menyenangkan, menyedihkan, maupun seabrek perasaan lainnya. Pasti dirasakan oleh...

Mencari Para Lulusan Sekolah?

Kita ini dididik untuk memihak yang mana? (WS.Rendra: 1977) Begitulah kegelisahan Rendra lewat sajaknya mewakili kegelisahan kita yang prihatin dengan kondisi persekolahan saat ini. Suatu Kenyataan...

Fundamen Pelayanan Publik Terkini

Relasi rakyat dengan negara telah berubah hari ini. Memang, bukan sama sekali radikal 180 derajat akan tetapi terjadi dinamika relasi yang tengah bergerak. Dalam...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Semenjak nyantri di Pesantren sejujurnya saya sangat tidak suka dengan orang-orang liberal yang tergabung dalam komunitas JIL. Ketidaksukaan saya bermula ketika saya cukup sering membaca buku-buku Hartono Ahmad Jaiz, salah seorang ustaz Wahabi yang berprofesi sebagai wartawan.

Dengan membaca buku-buku Hartono, praktis wajah orang-orang JIL di mata saya tak ubahnya seperti setan berwujud manusia yang memilik agenda besar untuk menyesatkan kaum beriman. Gerakan mereka didanai oleh orang-orang Barat. Mereka punya agenda yang merusak. Dan karena itu mereka harus dijauhi, atau kalau perlu dilaknat dan dihinakan seperti halnya Firaun yang dihinakan al-Quran.

Namun, sekitar satu-dua tahun sebelum lulus, saya dikenalkan dengan buku-buku Quraish Shihab, salah seorang ulama moderat yang hingga sekarang dihormati oleh banyak kalangan. Saya mulai kepincut dengan buku Membumikan al-Quran, Wawasan al-Quran, Lentera Hati, Secercah Cahaya Ilahi, Jilbab, satu jilid pertama dari Tafsir al-Mishbah dan buku-buku lainnya.

Ketika itulah saya mulai sadar bahwa cara pandang saya yang terasuki doktrin Wahabi itu ternyata salah besar. Islam tak sesempit yang mereka bayangkan. Islam itu luas bak lautan yang terhampar panjang. Dan keluasan ajaran Islam itu mestinya mampu menampung aneka ragam pandangan.

Dari buku-buku Quraish Shihab itulah saya mulai mempelajari wajah Islam yang dialogis, cair, sejuk, teduh, damai, dan menghargai perbedaan. Meski hanya pernah berjumpa sekali ketika di Kairo, sosok Quraish Shihab, saya rasa, telah merubah pandangan saya yang dulu sempit, kaku, kolot dan teracuni oleh doktrin Wahabi itu.

Setelah itu saya semakin sering membuka website JIL. Di dalam website ini, saya menemukan tulisan-tulisan yang ilmiah, segar, mencerahkan, dan memukau. Saya tidak mengingkari bahwa dalam website ini ada juga tulisan-tulisan yang, dalam hemat saya, sudah jauh menyimpang dari doktrin keislaman yang sudah mapan (dan itu ciri khas mereka sebenarnya).

Tapi, saya teringat ungkapan salah seorang ulama yang mengatakan bahwa di antara ciri-ciri yang menunjukan kealiman seseorang itu ialah kemampuan untuk melihat madu di dalam wadah yang terpenuhi dengan racun mematikan. Maksudnya, mampu melihat manfaat, kebaikan dan kebenaran di tengah padatnya informasi yang menyimpang.

Saya memang bukan orang alim. Tapi, saya tidak mau menjadi orang bodoh yang menolak kebaikan dan kebenaran dari kelompok yang selama ini disesat-kafirkan oleh banyak orang.

Kelompok ini belakangan sudah tidak terlihat aktif lagi dalam menggelorakan ide-ide keislaman progresif yang sejak yang dulu mereka sebarkan. Saya menduga keras bahwa ini pasti gara-gara Pilkada. Hahahaha

Tapi, lepas dari itu semua, saya ingin mengutarakan tiga hal yang membuat saya tertarik dengan komunitas yang bermarkas di Utan Kayu ini.

Pertama, orang-orang JIL ini, sejauh yang saya amati, memiliki kemampuan menulis yang memukau. Saya sering menganjurkan kepada adik-adik kelas saya di al-Azhar yang ingin mampu menulis untuk sering-sering membaca artikel di JIL. “Kamu belajar gaya penulisan mereka aja. Soal konten pemikiran, tidak perlu kamu amini semua.” Tutur saya kepada mereka.

Saya suka karena umumnya gaya penulisan mereka ilmiah, argumentatif, mengalir, tidak kaku, kadang lucu, dan yang pasti, ketika masuk kesana, kita akan diperkenalkan dengan istilah-istilah kemoderenan dalam dunia pemikiran Islam.

Selama di Mesir saya hanya mengunyah buku-buku berbahasa Arab. Dan saya merasa bahwa bacaan saya itu akan sia-sia jika tidak saya tuangkan dalam bentuk tulisan.

Salah satu tempat yang baik untuk belajar menuangkan tulisan ilmiah adalah JIL. Ya, dari orang-orang JIL lah saya mulai belajar menulis. Meskipun sampai saat ini saya selalu merasa kalau tulisan saya masih acak-acakan.

Belajar menulis dari orang-orang JIL tentu saja tidak berarti kalau kita harus menjadi bagian dari mereka atau mendukung semua pandangan-pandangan keislaman yang mereka kemukakan.

Jika Anda memang benar-benar kuatir terpengaruhi oleh pemikiran mereka, sebuah pepatah Arab mengatakan: “Khudz ma shafâ wa da’ ma kadar” (Ambil yang bening, dan tinggalkan yang keruh). Ini yang pertama.

Kedua, JIL ini selalu mengemukakan pandangan-pandangan keislaman yang modern dan memerhatikan denyut nadi perkembangan zaman. Pandangan-pandangan tersebut, sekali lagi, tidak harus seutuhnya Anda amini.

Tapi, setidaknya, dengan membaca artikel-artikel mereka kita akan diberikan tambahan wawasan mengenai diskursus-diskursus keislaman modern. Selain menambah wawasan, kita juga dilatih untuk menyampaikan bantahan.

Karena, bagaimana mungkin anda membantah satu pandangan yang dianggap menyimpang tanpa anda baca terlebih dahulu pandangan yang mereka sampaikan? Karena itu, dengan membaca artikel mereka, kita diberi tiga keuntungan sekaligus: Satu, dilatih untuk menulis dengan baik. Dua, diberikan tambahan wawasan. Tiga, didorong untuk menelurkan bantahan.

Ketiga, berbeda halnya dengan kelompok Wahabi yang berpikiran sempit dan mudah menyesatkan, orang JIL ini justru mendidik kita untuk berpikir kritis dan terbuka dengan keanekaragaman pandangan. Selain itu, mereka juga mengampanyekan Islam yang toleran.

Di satu sisi, tentu ini bagus demi kelangsungan negeri kita. Meskipun, di sisi lain, dalam merumuskan toleransi itu kita dan mereka bisa berbeda pandangan. Misal, demi upaya membumikan toleransi, mereka cenderung memandang semua agama benar.

Sebagai Muslim tradisional, saya tentu saja tidak setuju dengan pandangan mereka ini. Tapi yang jelas, spirit untuk membangun koeksistensi antar umat beragama adalah sesuatu yang kita amini bersama.

Setidaknya tiga hal inilah yang membuat saya tertarik dengan komunitas Jaringan Islam Liberal. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki tentunya. Karena memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan yang Maha Kuasa.

Secara pribadi, saya tidak sepenuhnya simpatik dengan gerakan yang dilakukan oleh komunitas ini. Tapi yang jelas, saya melihat ada sisi kebaikan dalam kelompok ini yang tidak seharusnya kita tolak hanya karena mereka sering disesatkan oleh banyak kalangan.

Al-Quran mengajarkan kepada kita untuk bersikap adil dalam menilai suatu kelompok. “…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa…” (QS 5: 8). Di sisi lain, Nabi Saw juga bersabda bahwa hikmah itu adalah harta hilang kaum beriman (dhallat al-Mu’min). Di manapun ia menemukan, maka hikmah itu lebih berhak untuk dia dapatkan.

Semua orang bisa menyuarakan pendapat yang diyakininya benar. Tapi, tidak semua orang mampu melihat kebenaran dari pendapat orang lain yang diyakininya tidak benar. Kebenaran itu bisa saja kita temukan pada mereka yang kita anggap tidak benar. Sebagaimana kesalahan juga sangat mungkin kita terima dari orang-orang yang selalu kita anggap benar.

Kairo, Saqar Quraish, 12 Juli 2017.

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Berita sebelumnyaMenghapus Golongan
Berita berikutnyaBedol Ibu Kota bukan Bedol Desa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.