Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Mengapa Orang Madura Agamanya Disebut NU?

Hanya di Indonesia, Politik Hoax Kalah

Kemurkaan terhadap Jokowi semakin bertambah-tambah. Strategi proganda firehouse of falsehood tidak berdaya mengalahkan figur yang terlanjur stigma plonga-plongo ini. Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara resmi...

Hari Angkutan Nasional, Ayo Naik Bus!

Hari Angkutan Nasional yang jatuh pada hari Selasa, 24 April 2018, tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Informasi tentang Hari Angkutan Nasional sangat sulit...

Menjamin Pembangunan Infrastruktur dengan Pihak Swasta

Penggunaan dana haji untuk pembiayaan infrastruktur menimbulkan pro dan kontra. Maklum saja, pemerintahan Jokowi-JK memasukkan pembangunan infrastruktur sebagai program prioritas pemerintah. Namun, terdapat kendala...

Paradoks Perkara yang Berat

Siapa tak kenal Imam Malik, seorang mujtahid besar yang diakui kealiman dan kesholehannya. Meski demikian, Ulama yang sempat bercita-cita menjadi penyanyi dimasa kecilnya ini,...
Moh Syahri
Penulis Lepas, Mahasiswa, senang menulis tentang isu kekinian baik agama, sosial, politik dan budaya, mengkaji hubungan baik antar umat agama. Penulis buku antologi inspirator untuk Indonesia (Artidjo Alkostar Simbol Orang Madura) dan buku antologi kontribusi untuk negeri (Melatih Kacakapan Berbicara di Pesantren), Anggota Pelatihan Juru Bicara Pancasila wilayah jawa timur, Anggota Komunitas Bela Indonesia wilayah jawatimur, anggota peace train,

Saya sebagai orang Madura awalnya juga kaget, mengapa agamanya orang Madura kok disebut NU. Padahal tidak ada agama NU yang ada agama Islam, Kristen, Budhha, Katolik, Hindu dan Konghucu.

Lantas kenapa orang-orang menganggap agamanya orang Madura itu NU? Tidak lebih itu hanya sekadar guyonan atau candaan anekdot lucu atas kagumnya tradisi amaliah NU yang begitu kental dan menjamur di Madura. Sehingga sampai ada yang mengatakan NU dengan ayam-ayamnya.

NU di Madura sudah seperti mendarah daging dalam tubuh orang Madura. Bahkan pergerakan NU saat ini begitu masif dan masuk pada pelosok desa. Seperti pelatihan Banser NU yang laksanakan di tiap kecamatan dengan mengkader anak muda milenial. Ansor yang belakangan ini juga pergerakannya nampak di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi pengajian dan ceramah rutin bulanan kiai pesantren yang ikhlas mendatangi rumah warga secara bergiliran.

Tidak perlu menakut-nakuti apalagi mencoba membid’ah-bid’ahkan amalan-amalan dan tradisi keislaman orang Madura yang masih setia dan terus mendekat kepada ulama kharismatik sebagai pijakan utama dalam segala tindakannya.

Salah satu contoh yang sangat mencolok adalah kehati-hatiannya dalam memulai bercocok tanam yang dengan terlebih dahulu sowan ke kiai demi keberkahan hasil taninya, memulai berdagang demi kelancaran dagangannya dan lain-lain. Hebatnya, orang Madura merasa sungkan dan bersalah jika membeli motor atau apapun tapi tidak diselamati dulu sebelum dipakai karena itu akan mengurangi keberkahan.

Bukan hanya itu, hal-hal yang menjadi keraguan dan dilema dalam menjalani hidup tidak segan-segan mereka meminta petuah kepada kiai NU, bukan kepada mbah Google. Sebab mereka tidak yakin ada mbah google yang NU yang ada hanya mbah kiai yang NU. Orang Madura sangat tidak mungkin menuhankan Mbah Google yang belakangan ini kerap dijadikan senjata dan tuhan kedua oleh kelompok mabuk agama.

Ketaatan seseorang kepada kiai tidak mungkin membuat sesuatu yang bisa memancing keributan. Justru akan banyak mendedikasikan hidupnya untuk memberikan manfaat dan kebaikan. Itulah ajaran NU.

Ada kiai kampung yang terus menjaga marwah ahlussunah wal jamaah, kiai yang jauh dari gemerlap media, kiai yang ikhlas tanpa embel-embel bayaran dan gaji bulanan. Kiai yang lebih memilih terkenal di langit daripada di bumi.

Tahlil, shalawatan menjadi rutinitas yang terus dipelopori oleh kiai dan ibu nyai dan muslimat kampung di Madura. Hampir tiap malam rutinitas amaliah NU terus menggema di sudut-sudut perkampungan warga Madura. Mulai dari yasinan, perkumpulan kelompok tani yang diwadahi oleh NU. Maka teror untuk meruntuhkan dan menyerang amaliah NU tak akan pernah berhasil.

Tradisi keilmuan di pesantren Madura tidak hanya berkutat di pesantren saja, adanya Bahtsul Masail yang terus digelar di pelosok-pelosok dan masjid-masjid tiap daerah mampu membuat amunisi baru dalam memperkokoh Amaliah NU. Dan luar biasanya, para kiai sepuh, kiai muda, para santri dan kaum muda tidak segan-segan menghadirinya dan sangat antusias.

Di tengah menggelagaknya politik yang kian memanas, saling adu domba, caci maki, saling tuduh menuduh dan saling menyesatkan, bahkan sasarannya tak jarang juga mengarah kepada NU.

Justru, kiai kampung di Madura lebih memilih diam dan tak mau mengambil sikap karena yakin doa pendiri NU dan para pengurus saat ini sudah sangat dipercaya karena tak mungkin Allah memilih pengurus yang tak mampu mengemban kepengurusannya, apalagi sekelas ormas NU yang jelas memiliki tujuan mulia demi kemaslahatan agama dan negara.

Moh Syahri
Penulis Lepas, Mahasiswa, senang menulis tentang isu kekinian baik agama, sosial, politik dan budaya, mengkaji hubungan baik antar umat agama. Penulis buku antologi inspirator untuk Indonesia (Artidjo Alkostar Simbol Orang Madura) dan buku antologi kontribusi untuk negeri (Melatih Kacakapan Berbicara di Pesantren), Anggota Pelatihan Juru Bicara Pancasila wilayah jawa timur, Anggota Komunitas Bela Indonesia wilayah jawatimur, anggota peace train,
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Beberapa Khazanah dan Pemikir Islam

Abad ke-14 dunia Islam mengalami kelesuan, akan tetapi dari Tunisia lahirlah seorang pemikir besar yaitu Ibn Khaldun (Abdurrahman ibn Khaldun, w. 808 H/1406 M)...

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.