Rabu, Maret 3, 2021

Mengapa Orang Madura Agamanya Disebut NU?

Hobbesian dan Cara Masyarakat Mendidik Anak

Anak sebagai aset kehidupan harus dijaga sekuat tenaga. Hasil pertemuan sel dua sejoli yang dibuahi hingga dikeluarkan dari kegelapan rahim. Tak main-main, saat di...

Seorang Katolik dan Anjing Masuk Masjid, Salahnya Di Mana?

Hingga perhari ini, perbincangan mengenai seorang Ibu yang memboyong anjingnya ke dalam masjid masih berlanjut. Bagi sebagian orang, ini merupakan tindakan penistaan agama. Sebagian...

Sandiaga Tidak Perlu ‘Syahadatkan’ Bali Melalui Pariwisa

Tidak ada yang salah dengan ide membantu wisatawan muslim menemukan masjid dan rumah makan halal. Namun, jika gagasan mengenai pariwisata halal akan membuat eksklusifitas...

Menulislah Maka Kita Beradab

Liburan natal dan tahun baru ini terasa bagai angin segar. Waktu senggang yang melimpah membuat hidup terasa nikmat. Hari yang biasa diisi rutinitas, kini...
Moh Syahri
Penulis Lepas, Mahasiswa, senang menulis tentang isu kekinian baik agama, sosial, politik dan budaya, mengkaji hubungan baik antar umat agama. Penulis buku antologi inspirator untuk Indonesia (Artidjo Alkostar Simbol Orang Madura) dan buku antologi kontribusi untuk negeri (Melatih Kacakapan Berbicara di Pesantren), Anggota Pelatihan Juru Bicara Pancasila wilayah jawa timur, Anggota Komunitas Bela Indonesia wilayah jawatimur, anggota peace train,

Saya sebagai orang Madura awalnya juga kaget, mengapa agamanya orang Madura kok disebut NU. Padahal tidak ada agama NU yang ada agama Islam, Kristen, Budhha, Katolik, Hindu dan Konghucu.

Lantas kenapa orang-orang menganggap agamanya orang Madura itu NU? Tidak lebih itu hanya sekadar guyonan atau candaan anekdot lucu atas kagumnya tradisi amaliah NU yang begitu kental dan menjamur di Madura. Sehingga sampai ada yang mengatakan NU dengan ayam-ayamnya.

NU di Madura sudah seperti mendarah daging dalam tubuh orang Madura. Bahkan pergerakan NU saat ini begitu masif dan masuk pada pelosok desa. Seperti pelatihan Banser NU yang laksanakan di tiap kecamatan dengan mengkader anak muda milenial. Ansor yang belakangan ini juga pergerakannya nampak di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi pengajian dan ceramah rutin bulanan kiai pesantren yang ikhlas mendatangi rumah warga secara bergiliran.

Tidak perlu menakut-nakuti apalagi mencoba membid’ah-bid’ahkan amalan-amalan dan tradisi keislaman orang Madura yang masih setia dan terus mendekat kepada ulama kharismatik sebagai pijakan utama dalam segala tindakannya.

Salah satu contoh yang sangat mencolok adalah kehati-hatiannya dalam memulai bercocok tanam yang dengan terlebih dahulu sowan ke kiai demi keberkahan hasil taninya, memulai berdagang demi kelancaran dagangannya dan lain-lain. Hebatnya, orang Madura merasa sungkan dan bersalah jika membeli motor atau apapun tapi tidak diselamati dulu sebelum dipakai karena itu akan mengurangi keberkahan.

Bukan hanya itu, hal-hal yang menjadi keraguan dan dilema dalam menjalani hidup tidak segan-segan mereka meminta petuah kepada kiai NU, bukan kepada mbah Google. Sebab mereka tidak yakin ada mbah google yang NU yang ada hanya mbah kiai yang NU. Orang Madura sangat tidak mungkin menuhankan Mbah Google yang belakangan ini kerap dijadikan senjata dan tuhan kedua oleh kelompok mabuk agama.

Ketaatan seseorang kepada kiai tidak mungkin membuat sesuatu yang bisa memancing keributan. Justru akan banyak mendedikasikan hidupnya untuk memberikan manfaat dan kebaikan. Itulah ajaran NU.

Ada kiai kampung yang terus menjaga marwah ahlussunah wal jamaah, kiai yang jauh dari gemerlap media, kiai yang ikhlas tanpa embel-embel bayaran dan gaji bulanan. Kiai yang lebih memilih terkenal di langit daripada di bumi.

Tahlil, shalawatan menjadi rutinitas yang terus dipelopori oleh kiai dan ibu nyai dan muslimat kampung di Madura. Hampir tiap malam rutinitas amaliah NU terus menggema di sudut-sudut perkampungan warga Madura. Mulai dari yasinan, perkumpulan kelompok tani yang diwadahi oleh NU. Maka teror untuk meruntuhkan dan menyerang amaliah NU tak akan pernah berhasil.

Tradisi keilmuan di pesantren Madura tidak hanya berkutat di pesantren saja, adanya Bahtsul Masail yang terus digelar di pelosok-pelosok dan masjid-masjid tiap daerah mampu membuat amunisi baru dalam memperkokoh Amaliah NU. Dan luar biasanya, para kiai sepuh, kiai muda, para santri dan kaum muda tidak segan-segan menghadirinya dan sangat antusias.

Di tengah menggelagaknya politik yang kian memanas, saling adu domba, caci maki, saling tuduh menuduh dan saling menyesatkan, bahkan sasarannya tak jarang juga mengarah kepada NU.

Justru, kiai kampung di Madura lebih memilih diam dan tak mau mengambil sikap karena yakin doa pendiri NU dan para pengurus saat ini sudah sangat dipercaya karena tak mungkin Allah memilih pengurus yang tak mampu mengemban kepengurusannya, apalagi sekelas ormas NU yang jelas memiliki tujuan mulia demi kemaslahatan agama dan negara.

Moh Syahri
Penulis Lepas, Mahasiswa, senang menulis tentang isu kekinian baik agama, sosial, politik dan budaya, mengkaji hubungan baik antar umat agama. Penulis buku antologi inspirator untuk Indonesia (Artidjo Alkostar Simbol Orang Madura) dan buku antologi kontribusi untuk negeri (Melatih Kacakapan Berbicara di Pesantren), Anggota Pelatihan Juru Bicara Pancasila wilayah jawa timur, Anggota Komunitas Bela Indonesia wilayah jawatimur, anggota peace train,
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.