OUR NETWORK

Mengapa Masih Percaya Teori Konspirasi di Era Digital?

Bersekongkol untuk mencuri di toko perhiasan adalah salah satu contoh konspirasi

Konspirasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi dalam jaringan, adalah sebuah persekongkolan. Persekongkolan merupakan tindakan berkomplot untuk melakukan sebuah tindak kejahatan. Dalam Oxford Dictionary, konspirasi dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mengerjakan sebuah tindakan yang tidak sesuai hukum.

Menurut Keeley, 1999 dan Pigden, 1995, konspirasi melibatkan dua orang atau lebih untuk merencanakan sesuatu yang dilakukan secara rahasia. Bersekongkol untuk mencuri di toko perhiasan adalah salah satu contoh konspirasi. Contoh lain dari konspirasi adalah berkomplot untuk mengatur skor pertandingan sepak bola.

Teori konspirasi merupakan sebuah tandingan terhadap teori ilmiah yang sudah teruji dan dipublikasikan oleh para ahli (Evans, 2018). Teori konspirasi berusaha menjelaskan bahwa ada pihak-pihak yang memiliki kekuatan, berkomplot secara rahasia untuk menimbulkan sebuah situasi yang berdampak masif secara sosial dan politik (Douglas, Uscinski, Cichoka, Nefes, Ang, & Deravi, 2019).

Pihak yang biasanya diyakini terlibat dalam teori konspirasi adalah badan pemerintah, seperti agensi intelijen, merk dagang yang berpengaruh, seperti produk makanan, obat-obatan, dan perushaan minyak, dan kelompok minoritas dengan stigma tertentu, seperti kelompok Islam di Amerika Serikat dan kelompok Yahudi (van Prooijen & van Vugt, 2018).

Jika konspirasi berkaitan dengan sebab-akibat dari kejadian yang benar-benar terjadi, teori konspirasi berkaitan dengan dugaan tanpa bukti, yang berarti bisa saja dugaan tersebut benar atau salah, terhadap sebuah konspirasi (Douglas, Uscinski, Cichoka, Nefes, Ang, & Deravi, 2019).

Masyarakat yang mempercayai sebuah teori konspirasi berjumlah tidak sedikit, setidaknya dalam penelitian sebelumnya disebutkan bahwa 60% dari penduduk Amerika Serikat percaya bahwa John F. Kennedy dibunuh oleh CIA. (Douglas, Uscinski, Cichoka, Nefes,Ang, & Deravi, 2019). Kemudian, 49% dari penduduk kota New York percaya bahwa peristiwa 9/11 didalangi oleh pemerintah Amerika Serikat sendiri (van Prooijen & van Vugt, 2018).

Dengan terbukanya akses informasi di era digital, orang-orang sebetulnya bisa menggali informasi lebih dalam mengenai suatu hal, sehingga tidak mudah mempercayai hal tersebut sampai mempercayai sebuah teori konspirasi di baliknya. Namun, meski akses informasi yang begitu luas dan teknologi berkembang pesat, orang-orang masih meyakini adanya teori konspirasi, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor epistemik, faktor eksistensial, dan faktor sosial.

Faktor epistemik

Faktor epistemik berkaitan dengan keinginantahuan seseorang untuk mempercayai sebuah teori konspirasi (Douglas, Sutton, & Cichoka, 2017). Faktor epsitemik juga menjelaskan bahwa orang dengan kemampuan bepikir dan tingkat pendidikan yang rendah akan mempercayai sebuah teori konspirasi.

Selain itu, orang yang mempercayai mengenai hal yang berhubungan dengan supranatural pun cenderung percaya terhadap sebuah teori konspirasi. Kemudian, seseorang yang terjebak dalam situasi yang serba tidak pasti juga cenderung mempercayai adanya sebuah teori konspirasi (Douglas, Uscinski, Cichoka, Nefes, Ang, & Deravi, 2019) Contohnya, ketika harga barang berfluktuasi, orang cenderung mempercayai adanya kartel yang memainkan harga barang. Padahal, keberadaan kartel tersebut belum dapat dibuktikan secara nyata.

Faktor eksistensial 

Faktor eksistensial berhubungan dengan keinginan untuk memiliki rasa aman dandapat mengendalikan lingkungan sekitar (Douglas, Sutton, & Cichoka, 2017). Ketika eksistensinya terancam, seseorang akan menuding adanya sebuah teori konspirasi yang dapat menghilangkan eksistensinya.

Kemudian, mempercayai sebuah teori konspirasi pun berkaitan dengan apabila seseorang atau sekelompok secara politis tidak memliki kekuatan atau pengaruh (Douglas, Uscinski, Cichoka, Nefes, Ang, & Deravi, 2019).

Faktor sosial 

Faktor sosial dalam mempercayai sebuah teori konspirasi bertujuan agar citra dari in-group selalu baik. Ketika in-group dituding dengan narasi yang buruk, anggota in-group mempercayai adanya sebuah teori konspirasi yang membuat citra kelompoknya menjadi buruk.

Selain itu, faktor sosial dalam teori konspirasi juga berkaitan dengan keinginan seseorang untuk tampil beda dari orang di sekitarnya dan dapat meningkatkan self-esteem dari orang tersebut, sebab sebuah teori konspirasi dianggap sebagai informasi yang rahasia dan hanya segelintir orang yang dapat mengetahuinya.

Orang yang percaya dengan sebuah teori konspirasi pun dapat diindikasikan memiliki perasaan yang kuat terhadap nasionalisme, partai politik, dan kelompok agama. Dalam studi yang dilakukan oleh Golec de Zavala dan Cichoka pada tahun 2012, orang Polandia dengan rasa nasionalisme yang tinggi mempercayai adanya sebuah teori konspirasi Yahudi. Orang Yahudi dianggap akan menguasai dunia dan mengancam identitas nasional.

Mahasiswa Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…