Kamis, Maret 4, 2021

Mengakomodasi Gender Equality pada Tema Debat Capres–Cawapres

Kritik Penghentian Tugas Komisi Penanggulangan AIDS

Kasus HIV-AIDS di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan indikasi penurunan. Berdasarkan data Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia...

Hoax dan Ancaman Disintegrasi

Oleh Fanny S Alam  Koordinator Region Bandung Yayasan Bhinneka Nusantara Tidak dapat dihindari lagi betapa masyarakat sekarang melihat publikasi media secara terbuka serta tidak terhitung...

Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pada 6-9 Februari 2020 telah melaksanakan Tanwir yang ke XXVIII. Musyawarah tertinggi setelah Muktamar ini, berhasil dan sukses di laksanakan....

Asian Games Sarana Pemersatu Bangsa

Olahraga merupakan sarana yang multiguna. Dengan olahraga badan bisa lebih sehat, menciptakan lapangan kerja, menyuguhkan hiburan, mengharumkan nama bangsa, bahkan menjadi sarana pemersatu bangsa. Pesta...
ULYA SAIDA
Mahasiswa Pasca Sarjana Kajian Gender UI . Staf Pengawasan Bawaslu Jakarta Timur

Tahun 2019 menjadi tahun bersejarah, sebab ini pertama kalinya dalam sejarah demokrasi Indonesia melakukan pemilihan umum langsung secara serentak untuk pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Presiden dan Wakil Presiden. Selama kurun waktu kurang lebih 6 bulan masyarakat akan disuguhkan oleh euforia pesta demokrasi ini.

Rangkaian tahapan kampanye yang telah dimulai sejak September 2018 akan lebih terasa denyutnya pada tahun 2019 ini. Peserta Pemilu berlomba-lomba melakukan kampanye secara lebih massif  pada awal tahun ini. Tidak terkecuali kedua Calon Presiden dan Wakil Presiden serta tim pemenangannya.

Sebagaimana diatur dalam pasal 275 ayat (1) huruf h Undang-undang No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, salah satu metode kampanye yang dapat dilakukan dalam Pemilu adalah debat pasangan calon tentang materi kampanye pasangan calon.

Pada Pemilu tahun 2019, KPU beserta dua tim pemenangan kandidat capres cawapres telah bersepakat terkait tema-tema yang akan dihadirkan dalam debat antar capres dan cawapres. Ada 5 (lima) tema debat yang akan dilaksanakan. Tema debat pertama yakni Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme.

Debat kedua mengenai Energi dan Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dan Infrastruktur. Debat ketiga yakni Pendidikan, Kesehatan, Katenagakerjaan serta Sosial dan Kebudayaan,. Debat keempat mengenai Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan serta Hubungan Internasional. Tema kelima adalah Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi serta Perdagangan dan Industri.

Alergi Kesetaraan Gender 

Menarik ketika melihat hasil kesepakatan terkait tema-tema yang disuguhkan pada debat capres cawapres tahun ini, ada tema-tema yang dimunculkan kehadirannya berbeda dari tema debat pemilu sebelumnya. Namun yang perlu dikritisi adalah tidak adanya tema debat yang mengangkat mengenai isu perempuan dan anak maupun mengenai gender equality (kesetaraan gender) secara eksplisit.

Entah memang isu ini dianggap kurang menarik untuk dibahas atau memang isu ini tidak memiliki ruang pada debat-debat skala nasional di Indonesia?

Padahal dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau yang lebih dikenal sebagai Sustanable Development Goals (SDG’s), gender equality termasuk dalam salah satu agenda dunia pembangunan untuk mencapai kemaslahatan umat manusia.

Gender equality memiliki ruang tersendiri pada pembahasan skala dunia, sebab separuh dari potensi dunia ada di perempuan. Maka penting bagi Indonesia juga untuk dapat mengadopsi dan menerapkan kesetaraan gender ini pada proses pembagunan di Indonesia.

Namun KPU maupun kedua tim pemenangan seolah alergi terhadap isu gender equality ini. Padahal gender equality bukan hanya isu yang dimiliki kaum perempuan saja tetapi laki-laki juga terlibat di dalamnya,

Perempuan Sebagai Pemilih Potensial 

Jumlah pemilih tahun 2019 mencapai 192.828.520 orang yang terdiri dari 96.557.044 pemilih perempuan dan 96.271.479 pemilih laki-laki. Jumlah pemilih perempuan yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pemilih laki-laki sebenarnya bisa jadikan sebagai salah satu tema yang dapat diangkat dalam debat capres cawapres.

Menggaet pemilih perempuan sebenarnya dapat dijadikan opsi yang tepat bila tim pemenangan capres-cawapres jeli melihat peluang. Namun spirit mengenai gender equality tidak hanya sebatas pada elektabilitas pasangan calon melainkan lebih menekankan pada mewujudkan cita-cita bangsa demi kehidupan manusia yang lebih baik serta menghadirkan perspektif gender pada calon pemimpin bangsa. Semoga dengan tema-tema debat yang telah disepakati dapat memunculkan dan membahas mengenai isu perempuan dan anak  serta gender equality di dalamnya.

ULYA SAIDA
Mahasiswa Pasca Sarjana Kajian Gender UI . Staf Pengawasan Bawaslu Jakarta Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.