Kamis, Oktober 22, 2020

Mengajarkan Sejarah Melalui Pendekatan Lingkungan

Cita-Cita Menjadi Seorang Pewarta

Seniorku memiliki profesi sebagai wartawan di salah satu media massa. Sudah beberapa bulan ini aku memperhatikan pekerjaannya. Rasanya aku mulai jatuh cinta pada pekerjaan...

Ada Apa dengan Pajak E-Commerce?

Di era sekarang dunia seakan terasa sempit dan penuh dengan kemudahan. Hal ini tidak terlepas dari peranan teknologi yang semakin canggih sehingga tak bisa...

Drama Kota Pintar

Meski fase sedang hangat-hangatnya sudah berlalu. Tapi saya kira ini waktu yang paling tepat untuk mengajukan pertanyaan tentang, adakah hal-hal berubah ketika kota menjadi...

Pandemik Covid-19 dalam Perspektif PAUD

Hadirnya pandemik Covid 19 secara nyata memunculkan multiplier efect, semua sisi kehidupan terdampak, seluruh umat manusia secara langsung atau tidak langsung merasakannya. Ketika kebijakan belajar...
Sasongko Dwi Saputro
Mahasiswa ilmu sejarah yang mencintai kebebasan untuk berfikir, penggemar liga sepakbola bukan arus utama

“Pangeran Diponegoro mengobarkan perang yang merepotkan penjajah Belanda!” suara seorang guru di salah satu SMA di saat menerangkan pelajaran sejarah di hadapan murid-muridnya, disusul suara-suara kantuk siswa yang mengindikasikan kebosanan untuk menyerap pelajaran pada hari itu.

Realita itu sering terjadi di kalangan siswa sekolah dasar maupun menengah ketika mempelajari sejarah di bangku kelas. Pelajaran sejarah di Indonesia terlalu membosankan, bukan hanya cara pengajaran, namun juga apa yang dikonstruksi negara dalam pengajaran pelajaran sejarah untuk para siswa.

Saya kemudian mengingat sebuah ungkapan John Bowman yang terkenal bahwa, every generation writes its own history atau apa yang Carl Becker dalam essaynya What are Historical Fact sebagai, “we build our conception of history partly of our present needs and purposes,.

Namun faktanya, setelah negara ini berdiri selama 73 tahun lamanya, konstruksi pendidikan sejarah Indonesia hampir tidak pernah keluar dari konstruksi sejarah politik dan semakin jauh dari realitas kekinian. Di mana dalam konstruksi sejarah politik, sejarah dilekatkan pada upaya pelaku-pelakunya untuk merebut kekuasaan, termasuk dengan cara-cara yang berbau kekerasan dan perang berdarah.

Di satu sisi konstruksi (mitos) politik dalam sejarah Indonesia, terutama tentang narasi kejayaan maritim dan mitos kerajaan nasional seperti Sriwijaya dan Majapahit yang ditulis saat bangsa Indonesia sedang menyusun identitas nasionalismenya, sebagai bentuk perlawanan terhadap narasi sejarah Neerlando-sentris yang menempatkan orang-orang Indonesia sebagai tokoh pinggiran.

Namun konstruksi sejarah seperti itu tetap dilestarikan hingga saat ini. Hal itu kemudian terlihat dari periodisasi sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah, yang terbentang dari periode prasejarah, kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, munculnya kerajaan-kerajaan Islam, awal kolonialisme barat, era kebangkitan nasional, penjajahan Jepang dan kemerdekaan Indonesia, orde lama, dan orde baru (struktur kronologi menurut buku Sejarah Nasional Indonesia jilid I-VI/ Kuntowijoyo 2008 : 22), dan reformasi.

Maka dapat ditarik sebuah penilaian bahwa pengajaran sejarah dengan pendekatan politik secara tak langsung berperan untuk melestarikan upaya-upaya kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang marak di Indonesia selama ini.

Oleh karena itu, konstruksi sejarah nasional oleh negara secara tidak langsung digunakan sebagai alat pembenaran atas tindakan-tindakan intoleransi berbasis SARA, pelanggaran HAM oleh negara, dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan (ex : korupsi dan otoritarianisme).

Maka sejarah baru harus ditulis, sesuai apa yang dibutuhkan oleh generasi mudanya yang telah mengalami perubahan yang amat signifikan. Sejarah harus diajarkan sesuai dengan isu-isu yang saat ini sedang berkembang di Indonesia, terutama isu lingkungan dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, pengajaran sejarah berdasarkan perspektif lingkungan dan hak asasi manusia diharapkan dapat mendekatkan manusia sehari-hari.

Memang sejarah lingkungan terhitung masih baru dalam kajian sejarah, namun keberadaannya penting untuk melihat bagaimana peran manusia dalam lingkungan serta bagaimana interaksi yang terjadi di antara keduanya, sebagai entitas yang saling membutuhkan.

Dengan melihat sejarah sebagai upaya manusia untuk mengelola lingkungan, maka sejarah akan menjadi relevan dengan masalah-masalah generasi kekinian. Dalam pengajaran sejarah berdasarkan perspektif lingkungan, kita dapat mengkaji motif para aktivis lingkungan, pemilik tanah (baik tanah adat maupun pribadi), maupun pengusaha dalam konteks pemenuhan atas kebutuhan manusia.

Hal lain yang relevan dengan pengajaran sejarah baru ini dapat kita lihat dari proses hubungan manusia dengan makhluk hidup yang lain, misal harimau atau pohon beringin.

Dalam konteks ini, sejarah dapat diajarkan pula dengan memadukan perspektif lingkungan dengan budaya, misal di Jawa, pohon beringin selalu dikeramatkan dan dinamai sama seperti orang biasa, karena orang-orang Jawa tahu bahwa pohon beringin merupakan penyedia cadangan air yang sangat besar, sehingga mereka bakal menjaganya dengan menciptakan mitos-mitos tertentu.

Di sini pentingnya ahli sejarah, baik guru maupun dosen-dosen sejarah di Indonesia untuk semakin mendekatkan sejarah dengan realitas kekinian, serta masalah-masalah generasi milennial di era global yang semakin kompleks. Oleh karena itu, dapat saya simpulkan secara singkat bahwa pengajaran sejarah di satuan pendidikan dasar dan menengah perlu ditinjau ulang, sudah sesuaikah dengan kebutuhan generasi kekinian atau masih belum menyentuh akarnya sama sekali?

Sasongko Dwi Saputro
Mahasiswa ilmu sejarah yang mencintai kebebasan untuk berfikir, penggemar liga sepakbola bukan arus utama
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.