Rabu, Maret 3, 2021

Mengacuhkan Gazprom di Piala Dunia 2018

Hubungan antara Agama dan Gerakan Feminis

Kemunculan  gerakan feminis telah menjadi babak baru dalam sejarah umat manusia tentang arti penting kesetaraan dan menghapus segala macam penindasan yang menghubungkan  relasi antara...

Menuju Pendidikan yang Memerdekakan

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya lebih tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya...

Kontroversi Penundaan Kredit Selama Setahun

Di tengah wabah virus corona yang mengguncangkan seluruh dunia, Indonesia adalah salah satu negara yang masih membuka pintu bandaranya untuk pelancong menjalani liburan. Belum...

Menajamkan Mitigasi Bahaya Alam

Elisabeth Byrs dari kantor Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) pernah mengatakan, Jepang adalah negara yang paling siap menghadapi bencana. Jepang salah satu negara terkaya...
Rulli Rachman
penulis dadakan, pengen punya toko buku sekaligus warung kopi

Tahun lalu, tepatnya pada tanggal 18 Juli, Pengadilan Internasional mendakwa Rusia sebesar 5,4 juta Euro terkait tindakan mereka naik ke kapal dengan bendera Belanda – Arctic Sunrise dan menahan 30 orang aktifis Greenpeace.

Ketiga puluh orang ini biasa dikenal juga dengan sebutan ‘Arctic 30’. Aksi penangkapan Arctic 30 terjadi sebagai buntut dari protes yang dilakukan Greenpeace pada bulan September 2013. Greenpeace menolak rencana eksplorasi Gazprom di Kutub Utara (North Pole). Penolakan ini didasari atas kekhawatiran terhadap perubahan iklim dunia akibat pemanasan global. Dan ini sebagian besar disebabkan karena konsumsi energi tak terbarukan seperti minyak dan gas bumi.

Isu soal kutub utara ini memang bukan hal baru. Fungsi vital kutub utara sebagai wilayah yang mampu menjaga kesetimbangan suhu bumi yang terus meningkat ini yang mendorong motivasi aktivis Greenpeace. Studi yang dilakukan oleh Climate Accountability Institute menunjukkan bahwa 90 perusahaan minyak dan gas bumi bertanggungjawab atas lebih dari dua pertiga emisi yang terjadi di dunia, salah satunya Gazprom.

Selain itu, rencana aktifitas produksi Gazprom di platform Prirazlomnaya dikhawatirkan akan meningkatkan resiko terjadinya kebocoran minyak (oil spill) yang akan mencemari setidaknya tiga cagar alam yang dilindungi.

Saya teringat soal Gazprom ketika beberapa kali tak sengaja membaca logo badan usaha milik Rusia tersebut muncul di advertisement board di sepanjang sisi lapangan. Gazprom memang jadi salah satu sponsor (bahasa kerennya, strategic partnership) FIFA sejak tahun 2013 hingga 2018 ini.

Khusus untuk gelaran Piala Dunia yang memang diadakan di Rusia, Gazprom menjadi sponsor utama. Jadi kita pun akan melihat logo Gazprom di bagian backdrop ketika Sergio Ramos diwawancara soal kekalahan timnya dari Rusia.

Bicara Gazprom, ingatan kita juga akan menuju pada aksi gelar spanduk raksasa, yang juga dilakukan oleh para aktivis Greenpeace di atap stadion St. Jakob Park pada Oktober 2013 silam. Aksi ini dilakukan tak lama setelah ketiga puluh orang tadi ditahan oleh otoritas keamanan Rusia.

Kenapa di stadion St. Jakob Park? Karena malam itu sedang berlangsung pertandingan Liga Champions antara Schalke 04 melawan tuan rumah FC Basel. Gazprom adalah salah satu sponsor klub Schalke 04 sejak tahun 2007. Nilai transaksi sponsorship dikabarkan sekitar 125 juta Euro.

Kepindahan Manuel Neuer ke Bayern pada tahun 2011 kabarnya sempat mendapat penolakan dari Vladimir Putin.

Daniel Voskoboynik dalam tulisannya yang berjudul Fossil Fuels and Football menyebutkan bahwa sejarah sepak bola dan industri energi, khususnya minyak dan gas bumi memang sudah terjalin mesra sejak lama.

Iran dan Qatar mengenal olahraga sepak bola dari para pekerja Anglo-Iranian Oil Company (sekarang BP). Operator derek yang bekerja di lapangan minyak milik Ploiesti berperan besar dalam membawa khasanah sepak bola ke Rumania. Bahkan sebagian besar anggota timnas Rumania pada Piala Dunia tahun 1930 adalah pekerja Ploiesti.

Tahun 1950, Inter Milan dibeli oleh pengusaha minyak besar Italia, Angelo Moratti yang dengan kucuran dananya klub tersebut mampu bicara banyak di kancah domestik dan Eropa. Masih di negara yang sama, konglomerat minyak Francesco Sensi mengambil alih kepemilikan AS Roma pada tahun 1993 dan (uangnya) berperan besar ketika seteru abadi Lazio ini mendatangkan Gabriel Batistuta, Hidetoshi Nakata dan Cafu.

Buat para pembenci Real Madrid, kalian boleh bersorak gembira sekarang. Santiago Bernabeu yang sudah sejak lama dianggap sebagai kuil yang sakral dan bertabur bintang-bintang sepak bola legendaris, tak lama lagi akan berganti nama menjadi ‘IPIC Bernabeu’. Ini menyusul kesediaan sang bohir baru Madrid : Abu Dhabi’s International Petroleum Investment Company, untuk merenovasi stadion yang kabarnya menghabiskan dana sebesar 400 Juta Euro.

Bahkan terkadang yang terjadi sebaliknya, pensiunan pemain sepak bola terjun ke dalam industri energi. Salah satu penjaga gawang terbaik sepanjang sejarah Chile, Eduardo Simian saat ini berperan besar dalam usaha pengembangan industri minyak di negaranya.

Sementara di dalam negeri, kita ketahui bersama bagaimana pada tahun 2011 Arifin Panigoro sang pemilik Medco Group, sempat mengusung Liga Primer Indonesia (LPI) yang menimbulkan kisruh dualisme liga.

Praktik perputaran uang ini yang menimbulkan sentimen negatif terhadap klub-klub besar semacam Chelsea dan Manchester City yang disebut-sebut “membeli piala”. Hal ini tak lepas dari kemampuan finansial klub tersebut untuk mendatangkan pemain-pemain dengan banderol selangit.

Perputaran uang dalam dunia olahraga yang berasal dari sektor industri adalah sebuah hal yang tidak bisa dielakkan. Franklin Foer dalam bukunya berjudul How Soccer Explains The World : The Unlikely Theory of Globalization, menyebutkan bahwa setidaknya ada 6 (enam) negara yang menganut faham demokrasi sosial yang berhasil menjuarai Piala Dunia. Negara-negara ini antara lain Inggris (1966), Jerman Barat (1974 dan 1990), Italia (1982 dan 2006), dan Perancis (1998). Hal ini terkait dengan hakikat perekonomian negara demokrasi sosial yang bertumpu pada sektor industri.

Menurut Franklin Foer, tidak ada negara demokrasi sosial yang memenangkan Piala Dunia, yang tidak memiliki basis industri yang substansial. Negara industri mengindikasikan banyaknya pemasukan, yang berarti bahwa liga domestik bisa semakin kompetitif karena dukungan aliran dana yang cukup (baca : melimpah). Dan semakin kompetitifnya liga maka akan semakin meningkatnya kualitas individual pemain.

Perjanjian kerjasama antara Gazprom dan FIFA ditandatangani pada tahun 2013 oleh presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter dan CEO Gazprom Alexei Miller. Menariknya, Alexei Miller saat ini juga menjabat sebagai presiden asosiasi sepak bola Rusia.

Barangkali setiap laga Piala Dunia 2018 bisa kita saksikan dengan nyaman karena dukungan utama dari Gazprom, perusahaan energi yang pernah berkonflik head to head dengan organisasi pencinta lingkungan Greenpeace karena mereka telah mengeksploitasi Kutub Utara demi untuk profit yang akan diputar kembali di laporan keuangan FIFA, Schalke 04, Zenit St. Petersburg dan Red Star Belgrade.

Barangkali kita bisa seperti Mahfud Ikhwan yang tidak merokok, bahkan membenci perokok, tapi bisa tetap menikmati tayangan sepak bola kompetisi lokal di televisi yang beberapa tahun lalu sukses terlaksana karena sokongan dana perusahaan rokok (Dari Kekalahan ke Kematian, 2018).

Barangkali tim favorit yang kita unggulkan satu per satu tereliminasi, tapi kita tetap setia memelototi layar kaca demi untuk ‘menikmati’ sepak bola dan mengetahui siapa yang berhasil membawa pulang trophy Jules Rimet kali ini. Animo masyarakat dunia yang bertambah besar di gelaran Piala Dunia tahun ini bisa jadi akan memicu FIFA untuk kembali melobi Gazprom, atau perusahaan energi yang lain untuk kembali berpartisipasi dalam kerjasama di tahun-tahun berikutnya.

Barangkali kita termasuk dalam barisan yang asik nonton Piala Dunia sambil makan kacang dan minum kopi, tanpa peduli bahwa Gazprom telah berkontribusi sebesar 1,47 persen dalam naiknya suhu bumi akibat pemanasan global. Dan brengseknya, saya salah satu yang termasuk dalam barisan tersebut.

Rulli Rachman
penulis dadakan, pengen punya toko buku sekaligus warung kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.