Selasa, Oktober 20, 2020

Meneropong Politik Asertif Kampus

Retorika Pemerintah Soal Virus Korona

Pada hari Sabtu yang lalu, 1/3/20, saya bersama dengan dua orang teman, ngobrol santai di sebuah rumah makan di pinggiran Jakarta. Obrolan itu sampai...

Swedia, Pasca Orde Zlatan

Memang sulit memisahkan Swedia dan Zlatan. Besar kemungkinan anda akan merespon Zlatan Ibrahimovic terlebih dahulu –sebelum menyebut IKEA atau ABBA- , saat saya menyebut...

Dilema Kemajuan Teknologi Bagi Generasi Milenial

Akhir-akhir ini generasi milenial dihebohkan oleh kartu pra kerja yang akan diluncurkan oleh pemerintah. Kartu pra kerja merupakan kartu yang diperuntukkan kepada lulusan SMA/SMK...

Azwar Anas, Please Deh Tidak Usah Baper!

Siapa yang tak kenal Azwar Anas, orang nomor wahid di Banyuwangi terkenal karena program pembangunan dan kepeduliannya akan kondisi wong cilik. Kala itu, berkat...
Muhammad Alif malifa
Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret,

Sore itu, bus Trans Jakarta koridor 1, Blok M – Kota Tua, yang membawa saya menuju Jl. Jend. Sudirman mendadak berhenti sebelum halte Gelora Bung Karno (GBK) karena rombongan pengemudi sepeda motor yang memasuki jalur busway.

Kejadian ini sering terjadi di ibu kota, akan tetapi yang membuat saya terkejut adalah tulisan kaos para penumpang dan pengemudi sepeda motor tersebut yang menunjukan alumni dari sebuah kampus besar di Kota Depok yang bertuliskan deklarasi dukungan kepada salah satu calon Presiden dan Wakil Presiden.

Tak hanya sampai di situ, dua hari kemudian saya menghadiri diskusi Kedaulatan Ekonomi yang mendatangkan praktisi dan pakar di bidang ekonomi yang diselenggarakan di bilangan Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan. Diskusi berlangsung lancar sampai pada penghujung acara, panitia menyerahkan deretan daftar alumni kampus ternama di Jawa Barat kepada ketua tim sukses pasangan capres tertentu. Aih, sepertinya hanya saya peserta dari UNS.

Seketika saya dibuat heran oleh dua kejadian ini. Mengapa untuk mendeklarasikan dukungan politik harus membawa embel-embel alumni kampus? Apakah sebuah diskusi yang berujung untuk memberikan dukungan politik menjadi tidak laku apabila tidak mencantumkan label alumni?

Pengalaman ini semakin meneguhkan perkataan Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran (1983): “Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”.

Andai ia masih hidup dan menjadi mahasiswa di tengah kegelian suasana politik ini. Sudah dapat dipastikan inspirator Mapala Pradjna Paramita (sekarang Mapala Universitas Indonesia) itu akan tersentak melihat keambiguan mahasiswa yang terjebak dalam pusaran kepentingan elit politik.

Bagaimana tidak? Tercatat dalam 3 bulan terakhir berlangsung 9 deklarasi dukungan oleh mahasiswa baik untuk pasangan kosong satu ataupun kosong dua di kampus besar di Pulau Jawa. Tentu mereka lantang menyatakan sikap karena mendapat ‘contoh’ dari para alumni. Ah, Jangan sampai kematian Soe Hok Gie menjadi sia-sia.

Keikutsertaan kampanye secara langsung oleh mahasiswa dalam kontestasi pemilihan umum berpotensi memperkeruh kondisi. Akarnya adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 Pasal 86 yang menegaskan bahwa institusi pendidikan merupakan tempat terlarang untuk kampanye. Dampaknya, mahasiswa mencari panggung sendiri untuk mengekspresikan pilihan politik di luar kampus. Padahal masyarakat menaruh harapan di setiap pundak mas-mbak untuk menjadi mitra kritis pesta akbar demokrasi tahun ini, bukan sebaliknya.

Esensi vs Eksistensi

Perguruan tinggi yang setiap tahun melahirkan ribuan manusia siap karya, saat ini sedang terjebak dalam kritis identitas akibat hingar-bingar pemilu. Hal ini menunjukan substansi keberadaan perguruan tinggi itu sendiri yang masing terseret oleh sisa sistem orde baru. Ditambah alih saling memperebutkan dukungan dari mahasiswa dan alumni seakan mencerminkan perebutan predikat intelektual.

Ya, kedua kandidat yang menyisakan kurang dari 90 hari masa kampanye kian membidik kampus sebagai segmen pasar segar sebagai branding baru dalam memoles jagoannya. Semakin banyak dukungan dari civitas akademika, semakin besar pula klaim atas makna intelektualitas.  Luar biasa.

Masyarakat kampus dipandang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding emak-emak yang duduk di kursi wakil rakyat. Mereka menyandang status kaum terdidik yang tidak semua pemudia di usianya mampu mengenyam pendidikan serupa. Sehingga dengan sendirinya mereka membawa aksesibilitas yang rentan dimanfaatkan oleh agen politik.

Maka esensi pendidikan tinggi yang seharusnya mencerdaskan anak bangsa justru luntur oleh satu-dua golongan yang membenturkan kampus dengan politik. Tampil dengan membawa nama almamater namun isi kepala seakan baru satu semester. Menonjolkan eksistensi dan melupakan esensi

Harap maklum jika mahasiswa yang seharusnya sibuk dengan kegiatan akademis kini lebih asyik berpolitik praktis. Saling menggaungkan kehebatan dan mendebat hal yang remeh, dimulai seperti siapa yang paling bagus mengaji sampai siapa yang memiliki tubuh paling atletis. Maka beruntunglah Jokowi dan Prabowo, kalian memiliki juru bicara cerdas dan gratis!

Pencerdasan Pemilih

Teringat perkataan Prof. Chusnul Mar’iyah, Presiden Direktur Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP, Universitas Indonesia, pada forum Indonesia Lawyer Club 8 Januari silam, yang mencemaskan pemilu tahun ini yang hanya berkutat pada pilpres semata. Padahal akan diselenggarakan lima pemilihan secara bersamaan yang empat diantaranya memilih anggota legislatif pusat dan daerah. Pileg menjadi miskin narasi dalam setiap diskusi dan media hanya terfokus membahas pilpres saja. Ada-ada saja pemilu tahun ini.

Pada akhirnya, jika ingin berkampanye dalam pesta demokrasi ini, mulai lah dengan mengkampanyekan kerabat untuk datang ke TPS pada 17 April mendatang. Terlebih, banyak mahasiswa rantau yang terancam tidak menggunakan hak suara yang telah menghabiskan Rp. 24,9 Triliun dari total APBN 2019.

Sangat disayangkan jika suara milenial terdidik kandas tak digunakan hanya karena jarak yang memisahkan. Jadilah juru-juru kampanye untuk menekan angka golput. Bersikap tegas dengan membangun narasi positif terhadap masyarakat dan kritis menyikapi atmosfer demokrasi. Sehingga tidak ada deklarasi-deklarasi lanjutan yang semakin mempolarisasi perguruan tinggi. Itulah politik asertif kampus!

Muhammad Alif malifa
Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret,
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.