Sabtu, Februari 27, 2021

Menerka Keemasan Pemuda Abad XX dengan Pemuda Milenial

Kekerasan di Sekolah, Salah Siapa?

Lembaga pendidikan yang seharusnya ideal untuk mendidik siswa malah tidak melakukan tugasnya dengan benar. Dilansir dari website kpai.go.id kasus kekerasan terhadap guru meningkat drastis...

Prostitusi, Hak Asasi, dan Standar Moral Kita

Saya percaya bahwa seseorang dapat hidup tanpa agama, tapi sebaliknya ia tak akan dapat hidup tanpa sebuah komune. Komune adalah segala nilai (sekaligus masyarakat...

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Sidik Nugroho*) Beberapa waktu lalu kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan yang sudah berlangsung sejak 1984 ini adalah momen untuk menengok kembali, sampai sejauh...

Perubahan Budaya Bermain dari Tradisional ke Virtual

Ada sebuah pernyataan kontroversial yang dituangkan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens: A Study of Play Element in Culture. Ia mengatakan bahwa aktivitas bermain lebih...
Fatony Darmawan
Rakyat biasa yang hobi menulis,seorang pelajar dan seorang penikmat opini publik.

Letupan sumpah pemuda 90 tahun silam dari para pemuda sepanjang Sabang sampai Merauke mengkiaskan spirit persatuan yang amat kekar. Menyembul organisasi kepemudaan semacam Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong Soematranen Bond(1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Roekoen dan Pemoeda Kaoem Betawi.

Meski masih bersifat kedaerahan,namun hal tersebut  mewartakan geliat pemuda untuk membangun kualitas dirinya melalui diplomasi dan organisasi .

Masa kolonial senantiasa diliputi penindasan terhadap hak-hak manusia, utamanya hak mengutarakan pendapat. Organisasi kedaerahan yang mereka bangun,lambat laun ambruk karena pergerakanya cenderung mudah dibaca oleh Belanda.

Namun hal tersebut justru menjadi momentum awal menetasnya persatuan dan rasa senasib sepenanggungan. Sentimen kedaerahan berhasil dirubuhkan dan perjuangan berbelok haluan berlandaskan nasionalisme.

Generasi Emas Abad XX

Sulit menepis anggapan bahwa generasi pemuda 90 tahun silam merupakan generasi paling emas bangsa Indonesia. Cara mereka berpikir sudah sangat maju dan memandang kepentingan banyak orang bahkan negara tempat mereka bernaung.

Zaman itu pemuda tumbuh tanpa dikemuli rasa gengsi, hedonisme, dan konsumerisme. Realitasnya pemuda abad XX adalah manusia tangguh nan cerdas menyikapi perkembangan zaman meski ditekan penjajah.

Kesadaran berbangsa dan bernegara tidak serta merta timbul begitu saja.Menariknya pihak Belanda lah yang sebenarnya mempelopori. Mengacu salah sebuah bunyi Trias Van Devente yang menjadi sisi terang  yakni edukasi Semenjak itu, keran pendidikan mengalir deras membasahi penduduk bumiputera.

Sekolah-sekolah gagah berdiri dan menjadi tempat mengadu pikiran.Meski terbentur diskriminasi antara anak pegawai negeri yang cenderung mudah menggaet pendidikan kelas I namun kaum pribumi tetap antusias dan rakus akan ilmu yang disajikan di sekolah kelas II.

Pendidikan menjadi rahim lahirnya para pemuda cendekia.Golongan cendekiawan tersebut mampu memutar roda pergerakan nasional melalui organisasi-organisasi yang tak lagi berkutat pada daerah masing-masing. Ditandai dengan berdirinya Budi Utomo (1908) yang lingkupnya adalah negara dengan tujuan merdeka.

Tidak berselang lama sesudah berdirinya Budi Utomo, segera diikuti dengan tumbuhnya organisasi-organisasi lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Taman Siswa, mereka telah menjadi perintis kemerdekaan dengan memanfaatkan organisasi sebagai wadah solidaritas sekaligus media bercakap gagasan.

Di tengah pluralitas dan etnosentrisme yang masih kental,pemuda kala itu berani bertindak nyata mewujudkan adanya bentuk nasionalisme. Adalah Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 yang berhasil menetaskan Sumpah Pemuda. Atas keberhasilan Kongres Pemuda II, popularitas pemuda abad XX membuncah. Para pemuda dijuluki dengan Angkatan Penegas karena prestasinya mendongkrak dan menegaskan persatuan.

Keberanian dari para pemuda abad XX berhasil mengkoyak-koyak ketentraman singgahsana tuan kolonial di tanah pertiwi. Belanda mulai melancarkan aksi guna memperlemah persatuan yang bercokol menjiwai pemuda. Segelintir pejabat Belanda berusaha menyulut semangat daerahisme dari penduduk pribumi. Lagi-lagi pemuda kala itu tegak berdiri di garda terdepan berselempang persatuan dan toleransi.

Pudar

Dapat dilihat siklus yang digelar para pemuda tahun 1908 hingga 1945.Peran pemuda terlihat begitu vital. Mereka  seakan sangat paham apa yang dibutuhkan bangsa ini. Sejarah telah mensketsakan siklus yang asik yakni membangun rasa kebangsaan dan nasionalisme lewat kebangkitan nasional (1908), membangun persatuan dan kesatuan dengan tercetusnya sumpah pemuda (1928), serta titik puncak perjuangan yang juga digagas pemuda lewat peristiwa Rengasdengklok hingga proklamasi (1945). Tiga pondasi tersebut berhasil membawa NKRI mengarungi waktu hingga ke Era milenial saat ini.

Namun menilik kapasitas pemuda Indonesia saat ini,bukan tidak mungkin mewujudkan Indonesia emas tahun 2045 hanya sepintas angan-angan. Arus pembaratan yang menerjang semakin tidak terkendali. Sajian sejarah sumpah pemuda tak ubahnya sebagai sebuah pengetahuan belaka yang hanya kita dalami di bangku sekolah. Sedangkan implementasinya patut dipertanyakan.

Di era digital, memantik perpecahan amatlah gampang.Modernisasi telah mendorong mudah dan bebasnya interaksi secara massal. Lantaran media sosial juga bercokol sebagai media interaktif paling digandrungi anak muda. Beberapa oknum tidak bertanggung jawab menyisipkan benih-benih perpecahan lewat media sosial tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang harus mampu dijawab pemuda era global.

Hingga perodisasi hari ini perpecahan masih menghiasi media-media sebagai berita utama. Tagar-tagar provokatif juga meramaikan jagad media sosial setiap harinya.meski maraknya IT  juga sukses menghadirkan pemuda yang cerdas dan berprestasi sesuai dengan kebutuhan zaman.

Namun bangsa ini masih kekurangan terhadap pemuda-pemuda yang peduli akan keberlangsungan persatuan negaranya. Individualisme meningkat tajam karena yang dikejar hanya tujuan daripada dirinya sendiri. Redupnya peran pemuda di era global semakin menegaskan pudarnya nilai-nilai Sumpah  Pemuda 90 tahun silam.

Perjuangan pemuda era sekarang tidak cukup sebatas organisasi dan diplomasi seperti pemuda abad  XX.Kecerdasan dan kreativitas buah pendidikan dengan kehadiran teknologi di sana-sini harus disuburkan. Pemikiran skeptis harus ditumpas digantikan keberanian menggagas perubahan.Pemuda tidak boleh meringkuk diam. Sumpah Pemuda Jilid II ala kaum milenial tidak perlu diikrarkan namun cukup dibuktikan dengan tindakan.

28 Oktober 2018 ini kita butuh jeda akan hiruk pikuk perpecahan yang menderu negeri ini.Kita perlu menimbang dan merefleksikan diri guna memaknai perjuangan para pemuda pernah pontang-panting berpikir dan bertindak demi keberlangsungan persatuan. Sumpah Pemuda 90 tahun silam menjadi lonceng pengingat getirnya rasa persatuan di era saat ini supaya kita dapat berbenah.Sembari berharap pemuda milenial ini dapat lebih emas dari pemuda abad XX.

Fatony Darmawan
Rakyat biasa yang hobi menulis,seorang pelajar dan seorang penikmat opini publik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.