Selasa, Maret 2, 2021

Menempatkan Identitas Perempuan di Tengah Wabah

Cak Nur, Gus Dur, Kuntowijoyo, dan Tradisi Intelektual Islam

“Cobalah kita renungkan apa makna kenyataan sejarah sederhana ini: Ketika Imam Al- Ghazali menulis karya yang ditujukan untuk mengkritik  para filsuf muslim, khususnya Ibn...

Inti Pendidikan dalam Pesantren

Salah satu the great tradition di Indonesia ialah tradisi pengajaran agama Islam seperti pesantren di Jawa. Alasan mendasar kehadiran pesantren ialah untuk mentransmisikan Islam...

Efek Domino Covid-19

Sudah lebih dari 2 bulan virus corona (COVID-19) mewabah di seluruh penjuru dunia. Melansir data dari John Hopkins University, tercatat kasus virus corona mencapai 156.112...

Bullying dan Kerancuan Masa Depan Pendidikan Kita

Pendidikan sejatinya memiliki tujuan untuk menghaluskan budi anak. Pendidikan tentu saja merupakan alat yang paling mumpuni dalam menempa karakter anak agar menjadi pribadi yang...
Fatiha Izza Tuslamia
Mahasiswa S1 Keperawatan UIN Alauddin Makassar yang juga merupakan kader HMI Cabang Gowa Raya dan aktif bergelut di Forum Awardee Beasiswa Unggulan Indonesia Timur

Hidup diawali dengan menghirup udara dan diakhiri dengan mengembuskan udara. Maka proses bernapas yang dilakukan merupakan peringatan nyata bahwa hidup begitu singkat. Sesingkat jeda antara hirup dan embus. Ketika lahir, alat kelamin sudah ditentukan oleh alam. Karena perbedaan kelamin, perbedaan peran sosial pun lahir. “Perempuan” adalah peran sosial yang diciptakan oleh masyarakat, dan bukan oleh alam.

Semua orang memasuki gerbang kehidupan melalui perempuan. Sebagian besar manusia menjadi penghuni rahim perempuan sembilan bulan lamanya. Ketika pertama kali menginjak dunia, setiap orang juga dibimbing oleh perempuan. Cara-cara dunia juga pertama kali diajarkan oleh perempuan.

Menjaga perempuan adalah menjaga peradaban. Perempuan adalah simbol keindahan nan kuat, dengan kasihnya, kesabaran, dan ketekunannya, ia bisa bergerak di ranah domestik maupun ranah publik.

Sebagian besar perempuan di Indonesia masih berkutat dengan aktivitas menangani urusan-urusan domestik. Fakta ini bisa dilihat dari peran perempuan yang hanya sebagian kecil berkecimpung dalam ranah publik.

Padahal sosok perempuan secara fisik tak kalah kuat dengan lelaki. Perempuan memiliki kelebihan khusus dalam intelektual atau pemikiran, yakni kemampuan perempuan dalam kreativitas otak yang mampu berpikir ganda.

Jika laki-laki dalam menghadapi persoalan hanya bisa fokus pada satu hal saja, hal ini tidak berlaku pada perempuan. Perempuan bisa berpikir bercabang antara karier dan pekerjaan rumah, bisa memiliki peran yang ganda pula. Untuk itu, sudah bukan zamannya lagi sosok perempuan takut untuk unjuk diri di setiap kegiatan.

Ketakutan-ketakutan beberapa perempuan pada umumnya hanya persoalan konstruksi masyarakat yang sudah melekat akan pelabelan perempuan harusnya berada di belakang. Dalam pembangunan bangsa, perempuan sangat memiliki kontribusi besar dan peranan yang penting, dengan pemikirannya yang cermat, harusnya perempuan-perempuan dapat mewarnai perkembangan bangsanya.

Saat ini, yang dibutuhkan adalah jumlah perempuan yang turut serta dalam pembangunan harus setara dengan jumlah laki-laki dengan melakukan pembangunan secara aktif. Perempuan tidak perlu malu untuk berkarier dan berkiprah untuk negaranya sendiri.

Perempuan hebat adalah perempuan yang mampu menyuarakan kebenaran di ruang publik. Tidak hanya sampai disitu, perempuan perlu menjadi elemen penting dan strategis dalam pengambilan kebijakan untuk pembangunan bangsa. Karena menjadi perempuan berarti menjadi perawat kehidupan.

Ada apa dengan perempuan? Mengutip kata Najwa Shihab, “Tak akan ada pemberdayaan lebih kekal berkelanjutan tanpa melibatkan perempuan”.

Perempuanlah yang banyak mengisi rongga gerakan sosial mulai dari pengumpulan logistik, memastikan kecukupan pangan, menyumbang pemikiran dan strategi, hingga aksi memimpin barisan depan dalam demonstrasi.

Kita membutuhkan perempuan di mana saja, termasuk di tingkat paling atas untuk mengubah dinamika, membentuk dialog, serta memastikan bahwa semua suara wanita didengar dan tindakan mereka diperhatikan. Jangan berpikir hanya karena kita perempuan, kita tidak bisa melakukan sesuatu lalu berhenti untuk melangkah maju. Kehidupan bertopang di bahu perempuan.

Perempuan memainkan peran yang sangat diperlukan dalam memerangi wabah — sebagai pekerja perawat kesehatan, sebagai ilmuwan dan peneliti, sebagai penggerak sosial, sebagai pembangun dan penghubung perdamaian di masyarakat, dan sebagai pengasuh. Sangat penting untuk memastikan bahwa suara perempuan didengar dan diakui.

Kita perlu mengubah persepsi tentang bagaimana kita memandang diri sendiri. Kita harus menunjukkan diri sebagai perempuan dan menjadi pemimpin. Di seluruh dunia, ada banyak contoh perempuan yang bangkit dan menjadi pemimpin, menentukan takdirnya di tangan mereka sendiri, memperjuangkan kehidupan banyak orang serta menginspirasi kita semua.

Angela Merkel (Jerman); Jacinda Ardern (Selandia Baru); Mette Frederiksen (Denmark); Sophie Wilmès (Belgia); Katrín Jakobsdótti (Islandia); Sanna Marin (Finlandia); Tsai Ing-Wen (Taiwan).

Mereka adalah para petinggi politik yang dinilai sukses menangani wabah COVID-19. Kesamaan mereka: perempuan. Peran gender as caregiver yang membuat mereka bisa lebih komprehensif dalam strategy & action. Salah satu kunci sukses mereka: pengambilan keputusan yang sigap dan pro-aktif.

Mereka adalah para petinggi politik dari negara-negara yang hapiness index-nya top rank dunia. Negara-negara dimana kesadaran akan lingkungan hidup yang sangat tinggi. Dan sepengetahun saya, lockdown tidak masuk skala prioritas negara-negara tersebut. Lebih mengandalkan kesadaran penduduk dan peran negara yang kuat dalam kerangka welfare state. Alias negara kapitalis yang humanis ala Keynes (John Maynard Keynes).

Mereka  sukses membawa masing-masing negara mereka melalui puncak wabah dan kini mampu mempertahankan sedikit jumlah pasien terjangkit maupun korban meninggal. COVID-19 membuktikan bahwa tidak ada perjuangan yang bisa berakhir sukses tanpa adanya partisipasi perempuan.

Namun, publikasi terhadap keterlibatan perempuan hampir tidak ada atau sangat kurang. Walaupun berita ini sangat layak dipublish di khalayak, namun, dokumentasi tentang keterlibatan perempuan tersimpan dalam tutur di antara perempuan saja tanpa ada yang menguaknya. Identitas inilah yang seharusnya bisa dimunculkan bahwa setiap masyarakat punya hak yang sama untuk turut serta dalam kegiatan bentuk apapun.

Perempuan mengharapkan pengakuan atas perjuangan mempertahankan kehidupan untuk dirinya sendiri, keluarga, anak-anak sekarang dan masa depan, bahkan mengenai kehidupan banyak orang. Pengalaman kelompok perempuan tentang alam dan sumber dayanya, serta perjuangan perempuan mempertahankan tanah, lingkungan, negara dan rakyatnya di tengah wabah COVID-19 merupakan pengetahuan yang autentik serta menakjubkan, yang sangat filosofis dan belum terungkap.

Fatiha Izza Tuslamia
Mahasiswa S1 Keperawatan UIN Alauddin Makassar yang juga merupakan kader HMI Cabang Gowa Raya dan aktif bergelut di Forum Awardee Beasiswa Unggulan Indonesia Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.