Rabu, Januari 27, 2021

Menelisik Tingkat Religiusitas Seseorang

Menebarkan Narasi Kebajikan Islam, Membendung Radikalisme

Peristiwa teror bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, menimbulkan reaksi masyarakat yang bermacam-macam. Melaui gerakan tagar anti terorisme, gerakan peduli terhadap para korban...

Newsdifabel, Media yang dari Umum ke Khusus

Mari bicara soal stigma difabel. Labelisasi kaum difabel tentunya sudah menjamur bagi banyak masyarakat awam. Jahatnya lagi, kaum difabel sudah terlalu lengket dengan pekerjaan...

Konflik Umat Hindu-Islam, Narasi Deprivasi Muslim Dunia

Pada hari Minggu, 23 Februari 2020, terjadi kericuhan di pinggiran kota New Delhi, India yang melibatkan masyarakat Muslim dan Hindu di sana. Kericuhan yang...

Guru Honorer Terkejut! Ada Apa?

Informasi mengejutkan sekaligus membahagiakan guru honorer dan sarjana sebelum bahkan sesudah pemilihan kepada daerah (pikada) ramai diberitakan semua media, cetak maupun online tentang perekrutan...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Ketika kita mendengar perselisihan antar umat beragama terutama di negara kita Republik Indonesia tercinta ini perasaan miris muncul di benak kita. Walaupun perseteruan antar umat beragama itu tidak hanya terjadi di negara kita tidak sepatutnya kita membiasakan dengan hal hal tersebut. Sebagai negara dengan slogan Bhineka Tunggal Ika tidak ellok rasanya bila kita juga melakukan hal yang sama di negeri ini.

Konflik antar umat beragama memang cukup cepat melebar eksesnya karena masing masing mempunyai jumlah massa besar dan tentunya spirit akan nilai nilai religious membungkus cantik motivasi keduniawian seseorang.

Sepanjang sejarah munculnya konflik yang dilandasi agama sebenarnya penuh kepentingan duniawi di dalamnya. Bisa untuk melanggengkan kekuasaan, atau untuk memperoleh kekayaan materi semata. Dan seringkali umat yang dirugikan karena tidak mengetahui motivasi tokoh tokoh agama yang menyerukan peperangan.

Umat Perlu Memahami Motivasi Tokoh Agama yang Menganjurkan Kekerasan

Sebenarnya kondisi ini bisa diminimalkan bila seluruh umat beragama tidak taklid buta terhadap ucapan tokoh agamanya. Semua orang punya kepentingan pribadi yang kita semua tidak tahu. Seringkali kita terkecoh dengan penampilan fisik seseorang hingga kita menganggap kesucian dan tingkat keimanannya sudah tinggi. Percayalah tingkat ketaqwaan seseorang hanya Tuhan yang tahu kita hanya menduga duga saja.

Asal muasal perselisihan ini bisa kita lihat dari tingkat religiusitas seseorang dalam menganut agamanya. Tak soal ia menganut agama apa namun religiusitas seseorang bisa nampak bagaimana ia mengaplikasikan agamanya. Saya yakin dan percaya tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dalam kehidupan.

Cinta, kasih, sayang dan berserah diri adalah ajaran yang hampir setiap agama mempunyainya. Kita bisa memepertanyakan bila ada kejahatan maupun tindak kekerasan yang berlabel ajaran agama apakah benar seseorang itu telah mengamalkan ajaran agamanya?

Indikator tingakat kesalehan sesorang dengan tingkat pemahaman yang tinggi bisa diamati lewat sikap kelembutan dan kerendahhatian seseorang.

Semakin religius seseorang ia akan semakin terlihat menghindari kekerasan bahkan mengutuknya. Kita bisa lihat tokoh tokoh baik dia Agama Islam, Hindu, Budha, kristen, katolik dan semuanya. Di antara tokoh tokoh tersebut bisa sebut nama nama; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Dalai Lama, Yusuf Al Qardhawi, Sri Paus Yohanes II, dan Imam Khomeini adalah orang orang biasa yang mempunyai religiusitas tinggi yang mengecam kekerasan di dunia.

Mereka adalah contoh konkret bahwa dalam melaksanakan agama bukan dengan khotbah khotbah yang menggelegar tapi bagaimana mereka beraksi dan tetap kukuh dalam menentang kekerasan walaupun itu terjadi pada dirinya mereka tidak membalas dengan kekerasan pula.

Mereka yang saya sebut di atas adalah orang orang yang tidak mendapat materi dari apa yang ia perjuangkan. Bahkan yang tragis ada beberapa yang rela mati untuk memperjuangkan idenya.
Itulah teladan yang bisa kita tiru bagaimana mereka memperlakukan kekerasan yang ia terima bahkan ada salah satu yang menjadi martir dalam memeperjuangkan idealismenya menetang kekerasan.

Sebelum kita mengikuti seruannya kita bisa menengok dan mempelajari sejarah hidup tokoh tersebut. Layakkah mereka kita ikuti seruannya disaat mereka sendiri masih belum tulus karena masih terbungkus nafsu pribadi. Dan apabila kita mengikutinya tentunya itu disebabkan adanya kesamaan motivasi diri kita dengannya.

Agama adalah suatu yang personal yang tentunya harus penuh kehati-hatian bila menyuarakan ajarannya di tengah keberagaman agama di negara kita.

Terlebih lagi akhir akhir ini bagaimana isyu agama semakin menjadi jadi untuk dialamatkan pada seseorang baik itu yang seagama maupun yang berbeda agama. Kita perlu menjadi umat yang cerdas agar tidak termakan dengan mudah hasutan hasutan yang mengatasnamakan agama.

Agama adalah wilayah personal seseorang yang dalam hubungannya dengan sang pencipta begitu pribadi dan rahasia. Bukankah Tuhan pun membenci orang yang sering ujub dalam beribadah?

Religiusitas Seseorang Tidak Ada Yang Tahu

Kita seringkali ceroboh memaknai religiusitas seseorang. Seringkali kita menilai dari perilaku yang nampak saja dari religiusitas seseorang. Itulah salah satu wilayah public yang gampang sekali menipu kita dengan penampakan apa yang terlihat secara zahir.

Adakah kita pernah menelisik kehidupan pribadi seseorang ketika ada di depan orang dan ketika mereka sedang sendirian. Seorang yang taqwa seringkali sama perilakunya baik saat dihadapan orang banyak maupun sedang sendirian; sama sama santun.

Mari berkaca pada diri masing masing sudahkah kita menghayati ajaran agama kita secara kaffah. Sudahkah kita Bersikap santun sebagaimana kita beribadah kepadanya yang membutuhkan ketenangan tanpa berikap riuh rendah dan bising.

Religius bukanlah dilihat dari cara berpakaian maupun kerasnya teriakan. Religius adalah kesantunan yang senantiasa selalu menciptakan kedamaian dan ketenangan berlandaskan agama masing-masing. Agama harus menjadi Rahmatan Lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam bukan rahmat bagi sebagian golongan. Anda Setuju? Salam.

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.