OUR NETWORK

Menelisik Bagaimana Makian “Jancok” Bekerja

Namun ternyata, “Jancok” tetap memiliki ketergantungan pada hal lain untuk mendapatkan artinya

Lumrah dan jamak diketahui bahwa “Jancok” merupakan makian, kata kotor, sekumpulan huruf yang kita anggap sebagai hal tabu yang tak layak untuk diucapkan.

Namun ternyata, “Jancok” tetap memiliki ketergantungan pada hal lain untuk mendapatkan artinya– karena dalam beberapa komunitas maupun wilayah tertentu, “Jancok” memang biasa digunakan untuk bahasa kemesraan/kedekatan antar personal.

Pada umumnya, negatif maupun positifnya makna dalam “Jancok” bisa terlihat dari dua hal. Yakni lewat struktur kalimat di mana kata “Jancok” itu muncul, dan yang kedua adalah lewat di mana kemunculan (secara geografis) kalimat yang memuat kata

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Apakah “Jancok” tidak memiliki otoritas maknanya sehingga ia harus bergantung dengan hal lain? Demikian tulisan ini mencoba menelisik bagaimana “Jancok” bekerja.

Ferdinand de Saussure, seseorang yang secara umum diakui sebagai tokoh peletak dasar ilmu bahasa modern, yang juga pencetus Semiology (dalam istilah Saussure) atau kini juga biasa disebut Semiotika (ilmu tanda), menjelaskan beberapa poin dalam bukunya Cours de Linguistique General, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Pengantar Linguistik Umum (Gajah Mada University Press, 1988), di antaranya adalah tentang penanda dan petanda.

Penanda (signifier) adalah citra bunyi, susunan huruf-huruf. Sementara petanda (signified) adalah konsep tentang bentuk/gambaran yang hadir di kepala kita begitu kita mendengarkan sebuah penanda.

Penanda dan petanda, keduanya memiliki hubungan yang Arbitrer, dalam arti, terdapat kesemena-menaan antar keduanya. Penanda tidak memberikan indikator/petunjuk apapun untuk perwujudan sebuah petandanya. Sebuah konsep akan muncul begitu saja begitu kita mendengar citra akustik dari sebuah penanda –mungkin dikarenakan pengalaman kita sebelumnya dengan petanda tersebut, baik secara visual maupun imajinatif.

Misalnya saja ketika seseorang berkata “Kursi”, apa yang kita dengar adalah Vokal U dan I dan juga konsonan berupa K, R, S. Lima alfhabet tersebut, yaitu K-U-R-S-I (penanda) tidak memiliki petunjuk dan relasi langsung terhadap apa yang harus muncul di pikiran kita (petanda) setelah mendengarnya, yakni: gambaran tentang “sebuah benda yang digunakan untuk tempat duduk”.

Saya membayangkan, bagaimana penanda dan petanda melakukan “pekerjaanya” jika penanda yang muncul bukan dalam kelas kata benda seperti kursi, melainkan nomina, seperti: bacaan, minuman, atau adjektiva, seperti: baik, dermawan, brengsek. Dan hasilnya adalah sama saja.

Ketika saya mendengar penanda berupa “Brengsek”, petanda/konsep yang muncul di kepala saya adalah sebuah hal yang kini kita sebut dengan ke-brengsek-an. (Saya tidak yakin ketika seseorang mendengarkan kata “Brengsek” maka di pikirannya muncul makna brengsek secara definitif seperti yang ada dalam KBBI)

Dalam hal ini, akan terdapat perbedaan petanda “Brengsek” dalam masing-masing individu. Seorang karyawan yang pernah dimarahi bosnya tanpa alasan, misalnya, ketika mendengar penanda tersebut, tentu ingatannya akan segera menghubungkan kata tersebut dengan sebuah keadaan yang tercipta di kantor tempat ia bekerja, maupun dengan subyek penutur (si bos) yang melakukan aktifitas yang secara personal tidak menyenangkan baginya.

Berbeda dengan seorang yang kalah taruhan sepak bola, penanda “Brengsek” mungkin akan membawanya pada sebuah petanda tentang aksi/tindakan kelalain pemain belakang tim yang kala itu ia pegang. Atau bagi seseorang di belahan dunia yang lain (yang juga penggemar sepak bola) bisa jadi penanda tersebut membawanya pada gambaran tentang aksi nekat supporter tim lawan yang menimbulkan kekacauan sehingga berdampak terhadap berlangsungnya pertandingan.

Hal ini akan berbeda pada setiap individu, namun konsep/idenya tetaplah sama: ketika kita mendengar kata “Brengsek”, kita dibawa menuju petanda tentang gambaran sebuah aktifitas/tindakan/kondisi yang secara pribadi “memualkan”. Kondisi yang melandasi kita untuk pada akhirnya berekspresi dengan mengatakan: “Ah, brengsek!”

Lalu bagaimana jika saya terapkan penanda dan petanda ini pada “Jancok”?

Ketika seseorang mengatakan penanda berupa “Jancok”, petanda apa yang bisa saya tangkap tanpa terlebih dahulu ada citra tertentu yang sengaja saya lekatkan padanya? Maksud saya, saya tak menemukan konsep yang jelas tentang “Jancok” tersebut seperti halnya ketika saya menemukan petanda dari “Kursi”, “Kekasih”, “Baik”, “Brengsek.

Berbeda dengan “Brengsek” yang sudah terdaftar di KBBI, sehingga membantu saya mencapai petanda, “Jancok” tidak. Selain itu “Jancok” juga tak jelas masuk dalam kelas kata apa. Apakah ia tergolong Nomina? Adjektiva? Verba? Atau hanya sebatas Nonsense untuk mengungkapkan ekspresi tertentu?

Paling-paling saya hanya bisa menangkap petanda “Jancok” setelah ia digunakan untuk memaki– karena “Jancok” tak memiliki makna, kalaupun ada, itu hanya sebatas Akronim yang kebenarannya masih simpang-siur.

Oleh sebab itu, sebagai makian, “Jancok” akan berbeda dengan makian lain seperti “Babi” atau “Anjing”, misalnya, yang memberikan pemahaman dalam pikiran saya bahwa makian tersebut bekerja dengan menghubungkan obyek yang dimaki dengan (petanda) hewan Babi, maupun hewan Anjing.

“Jancok”  sebaliknya, tahu-tahu ia sudah menjadi kata-kata kotor tanpa pernah bisa saya jelaskan apa penyebabnya dan bagaimana pula cara ia “menyaikiti” saya ketika saya menyebutnya sebagai makian.

Sebagai penanda ekspresi, “Jancok” mungkin bisa disetarakan dengan ekspresi lain yang petandanya baru muncul setelah kita mengaitkannya dengan penutur, seperti “Lho” atau “Hmm”. Keduanya memiliki kesamaan dengan “Jancok”.

“Hmm” yang muncul setelah seseorang membolak-balik buku pelajarannya dan akhirnya mendapatkan kejelasan tentang apa yang ia baca, tentu berbeda dengan “Hmm” yang muncul ketika teman yang duduk semeja dengan kita tengah memanggil kita namun saat itu kita masih disibukkan oleh gadget.

Begitu pula halnya dengan “Lho”. “Lho” yang terdegar dari bibir seorang pemain saham setelah ia membaca headline berita pagi tentang merosotnya pergerakan chart yang ia lawan posisinya dalam tradingnya semalam, tentu berbeda petandanya dengan “Lho” yang muncul ketika seseorang tak sengaja membalas SMS untuk sang pacar ke nomor ibunya.

Hanya saja mungkin dalam kasus pertama, kata “Lho” tersebut memiliki beberapa perubahan, misalnya di warna suara, di mana pengucapannya memakai nada yang lebih tinggi dan vokal “o” yang diseret lebih panjang.

Harusnya seperti kedua kata di atas itu pula lah “Jancok” dihakimi. Sebagai sebuah kata yang tidak terdaftar maknanya di KBBI, ia bisa digunakan untuk banyak hal. Kadang bisa untuk mengungkapkan kekesalan, kadang untuk ungkapan senang, kadang ketakjuban, makian, kekecewaan, kesedihan, atau bahkan mungkin bisa digunakan untuk rayuan.

Namun pada akhirnya, sebagai makhluk yang berbudaya, kita tentu tak boleh ceroboh dengan mengatakan “Jancok” di sembarang tempat/kondisi. Hanya saja di luar itu, dalam ranah pengetahuan, “Jancok” juga tak ada salahnya untuk dibicarakan. Konvensi umum menyepakati bahwa “Jancok” merupakan ekspresi negatif, sementara system tanda menunjukkan bahwa Jancok” tidak memiliki kesalahan apa-apa.

Penikmat Sastra, tinggal di Malang, Jawa Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…