Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Meneguhkan Teologi Beragama dalam Tahun Politik

Apa Lawan Media Sosial?

Pada tanggal 21 Mei 2019 jelang pukul 23.00 WIB ketika saya hendak mengucapkan “selamat malam” dan “semoga mimpi indah” kepada kekasih di kota lain....

Anarki, Mengapa Ditakuti?

Aksi yang dilakukan oleh kelompok “Anarko Sindikalisme” di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Malang dan Surabaya, pada peringatan May Day (Hari Buruh) tahun 2019...

Dosen Keren dan Impian Artikel di Muat Jurnal Internasional

Menristekdikti pernah mengeluarkan siaran pers, yang salah satunya menyebut ancaman penghentian tunjuangan Guru Besar dan Dosen yang tidak mempublikasikasikan tulisannya di jurnal internasional. Tentu...

Muhammad Sang Pembebas

Islam adalah agama penyempurnaan. Islam lahir dari zaman nabi Adam. Pada masa Muhammad lah ajaran Islam itu disempurnakan dan telah membahas segala hal mengenai...
anen sutianto
Penulis adalah penikmat buku-buku sosial keagamaan, sufistik dan pecinta kuliner. Berkhidmat di Kementerian Agama.

Kini kita tengah berada dalam situasi yang sarat emosionalitas beragama dalam bingkai kehidupan berbangsa. hari ini kita disuguhkan suhu politik yang kian memanas jelang pileg dan pilpres 2019 yang hanya menunggu hitungan pekan dan hari.

Tensi dan eskalasi hiruk pikuk politik mulai meninggi dari masing-masing calon dan pendukungnya. Di sisi lain, nampak ada ancaman sekaligus tantangan tersendiri bagi kehidupan bangsa dalam bingkai kerukunan umat.

Memaknai situasi hari ini, paling tidak ada tiga dimensi penting untuk memaknai bersama dengan pikiran jernih. Pertama, atmosfir politik ini terus menghangat karena hari ini kelanjutan dari rangkaian pemilukada serentak 2018 kemarin.

Tercatat, tak kurang sebanyak 171 daerah akan berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah tahun lalu. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang itu masih menyisakan letupan-letupan emosionalitas berdemokrasi di kalangan sebagian umat. Dan itu perlu disikapi dengan bijak dan arif oleh capres dan cawapres serta caleg.

Kedua, tahun politik hendaknya dimaknai titik balik rekonsiliasi. Momentum ini selaiknya dijadikan sebagai kekuatan setiap elemen bangsa untuk bersatu padu. Mengantarkan bangsa ini ke arah yang lebih baik, maju dan bermartabat.

Selama ini, disadari atau tidak telah terjadi disparitas kepentingan yang kemudian memunculkan perpecahan di kalangan umat dan kehidupan berbangsa. Kerukunan acapkali umat terciderai oleh segelintir kepentingan elit dan intrik politik oportunis.

Berbicara kerukunan umat, penulis meyakini itu sebagai embrio sekaligus modal dasar untuk membangun peradaban mulia sebuah bangsa. Kerukunan umat menjadi pertaruhan terakhir maju mundurnya sebuah negara. Tak ada kehidupan masyarakat yang harmonis, damai, aman, tenteram, dan maju tanpa diawali terciptanya kerukunan di dalam tananan sosial.

Ketiga, tahun politik 2019 hendaknya juga dimaknai sebagai momentum untuk mengembalikan wajah damai agama, khususnya Islam. Jika di tahun-tahun sebelumnya kita dipertontonkan aksi anarki, kekerasan, dan intoleransi yang mengatasnamakan agama.

Maka di tahun politik ini kita selaku umat Islam berkewajiban mengembalikan Islam dimaknai secara generik. Oleh karenanya, diperlukan sebuah terobosan intlektual (intellectual breaktrough) untuk mengembalikan jati diri bangsa yang ramah dan santun dengan tagline teologi rahmatan lil alamin.

Teologi Rahmatan lil Alamin

Berbekal teks normatif agama, Alquran, seyogianya dipahami sebagai sebuah doktrinitas yang universal. Alquran menjadi hudan li al-nass wa bayyinat min al-huda wa furqan, dan keberadannya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, petunjuknya sangat luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi aspek kehidupannya.  (Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’I, 2000: 27).

Melalui teks-teks suci Alquran, sejatinya Allah menegaskan akan pentingnya teologi yang di sebut teologi rahmatan lil alamin. Istilah ini sengaja penulis pilih untuk menampilkan dan mengedepankan ciri Islam sebagai agama yang damai, penuh kasih, anti kekerasan, dan menyapa semua makhluk –terlepas dari perbedaan asal usul agama dan keyakinan. Hal ini tentunya berdasar pada firman Allah swt: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Qs. Al-Anbiya/21:107).

Jika kalimat rahmatan lil alamin disinergikan dengan kata Islam yang berarti patuh dan berserah, jelas kata itu kian menegaskan dengan amat gamblang bahwa teologi rahmatan lil alamin adalah keniscayaan yang mutlak. Agaknya inilah yang menjadi kunci peradaban Islam di sepanjang sejarahnya dan akan terus menjanjikan di masa depan.

Teologi rahmatan lil alamin sejatinya bertujuan mengukuhkan kelembutan dan pengutamaan khusnuzan atau prasangka baik. Konsekuensi dari argumen ini adalah penolakan mutlak tindakan kekerasan, sekalipun dengan dalih menegakan amar ma’ruf nahyi munkar. Praktik teologi rahmatan lil alamin pun telah dianjurkan Rasulullah Saw, seperti termaktub dalam hadits: “Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia, maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah”. (HR. Bukhari).

Konsep teologi rahmatan lil’alamin menyaratkan dua aspek. Pertama, Islam perlu dimaknai sebagaimana adanya Islam itu secara generik yang bermakna kedamaian dan keselamatan bagi seluruh makhluk. Jadi, orang yang mengaku beragama Islam seyogianya dia mesti mampu menebar benih-benih perdamaian dan jaminan keselamatan bagi siapa saja yang berada di sampingnya. Tak peduli dia berbeda suku, ras, bangsa, ataupun keyakinan maka umat muslim wajib memberikan garansi hidup aman dan nyaman.

Kedua, teologi rahmatan lil alamin perlu ditarik ke dalam dimensi sosial. Mendekatkan perspektif transendetal dan kehidupan dunia dengan memberikan ruang yang luas bagi proses sosial, maka konsepsi rahmatan lil’alamin menemukan momentum dalam kehidupan dunia. Konteks sosial kemasyarakatan memang menjadi lahan subur bagi implementasi dan pengembangan konsepsi rahmatan lil’alamin.

Beragama (Islam) seharusnya mendorong setiap pemeluknya untuk dapat melahirkan sikap toleran, empati dalam perspektif sosial kemasyarakatan. Inilah pantulan dari gagasan rahmatan lil’alamin yang ditawarkan oleh Islam sebagai agama yang mengusung nilai-nilai universal. Sebagai individu kesadaran sosial dalam masyarakatnya yang dilandasi oleh moralitas sosial yang berangkat dari perspektif agama dan nilai sakral masyarakatnya yang terinternalisasi dalam kesadaran dirinya. Inilah yang mendorong loyalitas individu di dalam masyarakatnya di mana mereka berada.

Ala kulli hal, menyongsong tahun politik mestinya dibarengi optimisme bahwa ruang dan kesempatan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara masih terbuka lebar. Centang-perenang kehidupan masyarakat saatnya dirajut kembali dengan benang kerukunan.  Jalinan harmonisme kehidupan bermasyarakat penulis yakini bisa dijembatani dengan mengetengahkan Islam sebagai doktrinal rahmatan lil alamin. Islam yang mampu menjadi pembawa kedamaian dan keselmatan bagi siapapun dan dimanapun, itulah makna generik Islam. Wallahu a’lam bishawab.

anen sutianto
Penulis adalah penikmat buku-buku sosial keagamaan, sufistik dan pecinta kuliner. Berkhidmat di Kementerian Agama.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.