Kamis, Januari 21, 2021

Mendulang Pundi dari Bisnis Fotografi

Bedah Buku Karya Kepala Sekolah dan Guru Purwakarta

Bedah Buku karya Kepala Sekolah dan Guru yang masih  merupakan rangkaian kegiatan Festival Literasi Purwakarta bertema "Kecerdasan Berbahasa Dalam Sejuta Pena " yang sebelumnya...

Inisiasi Nasionalisme dalam MPLS Peserta Didik Baru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menyita perhatian publik, melalui rencana menggandeng Tentara Nsional Indonesia (TNI) dalam pembinaan pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Digandengnya...

Indonesia Mendekati China: Diplomasi Vaksin atau LCS?

Mendekati China pada saat ini tampaknya menjadi salah satu agenda penting bagi diplomasi Indonesia. Menurut saya, upaya diplomasi Indonesia ini sangat wajar mengingat posisi...

Ketika Agama Melahirkan Nalar Kritis

Selama beberapa tahun terakhir ini situasi negara ini sedang dirangsek oleh ide “penistaan agama.” Fenomena ini mencuat ke ruang publik saat Basuki Tjahaja Purnama...
Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta

Manusia memiliki sejarah dan kenangan masing-masing. Lewat kenangan, mereka menceritakan pengalaman kepada anak dan cucu. Dalam membantu merekosntruksi bayangan dari cerita tersebut, fotografi menjadi semacam “memori travel” yang dapat membawa manusia seakan kembali kepada masa dimana foto tersebut diabadikan.

Ya, diabadikan, karena melalui foto, kita dapat melihat ayah dan ibu kita saat menikah. Padahal kita belum ada saat foto itu diambil, dan bahkan cucu kita kelakpun bisa saja melihat foto tersebut.

Di era milenial sekarang ini, industri fotografi berkembang. Banyak masyarakat yang menyukai foto, dan menginginkan momen-momen bersejarahnya diabadikan dengan ciamik melalui foto. Namun jumlahnya tidak sebanding dengan fotografer yang menguasai betul teknik fotografi.

Hal itu membuat para fotografer banyak menerima permintaan untuk melayani foto wisuda, pernikahan, prewedding, ulang tahun, dan sebagainya. Dengan adanya aplikasi untuk menshare foto semacam Instagram, menciptakan budaya “pamer” di Indonesia. Masyarakat berlomba-lomba membagikan foto momen-momen penting dalam hidupnya

Dalam hal ini yang diuntungkan adalah si fotografer. Semakin banyak masyarakat yang mengenalnya, maka perimintaan untuk mendokumentasikan momen-momen penting tersebut semakin tinggi.

Sebut saja Rio motret yang cukup kondang dan sering diminta mendokumentasikan pernikahan para artis. Lalu, bagaimana dengan kebanyakan fotografer  yang memiliki hobi dan ketertarikan dibidang fotografi namun belum memiliki nama besar apalagi studio foto sendiri?.

Sebetulnya tidak ada masalah dengan nama besar fotografer asalkan mereka memiliki strategi. Yang paling efektif adalah memainkan tarif, jika masih terhitung fotografer baru, lebih baik menekan tarif dan lebih mencari portofolio. Semakin banyak pengalaman yang didapat, fotografer berhak menaikan tarif.

Yang perlu diingat ketika mulai menjajaki dunia fotografi komersial adalah segmentasi yang ditargetkan. Dan segmentasi yang paling mudah didapat adalah segmen menengah kebawah. Hal ini berkorelasi dengan tarif yang terhitung murah ketika baru mulai menjadi fotografer.

Jika fotografer sudah memiliki pengalaman dan porto folio yang cukup. Perlu media untuk menunjukan karya dan instagram menjadi jawaban bagi para fotografer pemula. Membuat akun baru, dan mengemas tampilan yang menarik dalam akun tersebut juga membantu menaikan pamor sang fotografer.

Hal tersebut sangat mudah dilakukan oleh fotografer pemula hingga fotografer professional sekalipun. Dengan mengatur tampilan atau yang pupuler disebut feed akan memanjakan calon klien untuk melihat hasil karya yang pernah diambil si juru foto.

Dan jangan sekalipun berpikiran untuk membeli followers, karena warganet sudah cukup pintar dalam menganalisi korelasi antara jumlah followers dan jumlah like yang didapat. Jika dirasa tidak masuk akal, warganet tidak akan sekalipun melirik kembali.

Perlombaan dalam mencari eksistensi bagi fotografer memang sangat ketat. Semakin banyak orang yang tertarik menekuni bidang fotografi. Belajar foto tidak harus melalui lembaga, karena kita bisa menemukan ilmu tersebut dimana saja.

Namun sejujurnya, fotografi komersial adalah tentang perang strategi. Siapa yang bisa melihat peluang, dia yang akan eksis dan berkembang.

Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.