in

Mendamaikan (Kembali) Wajah Islam


Wajah Islam sekarang ini tak bisa tidak, kita katakan tengah berbalut “baju” yang menampilkan citra keras, ekstrem, radikal dan konotasi semacamnya. Bagaimana tidak ? bahkan disaat menuliskan tulisan ini, saya merasa was-was tentang tanggapan yang mungkin saja muncul bila tulisan tersebut terpublikasi secara umum di media. Sebab, apa saja yang kira-kira bertentangan dengan cara pikir kelompok yang mendaku diri paling islam, maka bersiap saja dengan konsekuensi, paling tidak anda akan disebut munafik ataupun kalau seiman, level iman anda berada pada taraf yang rendah sampai-sampai patut untuk dipertanyakan.

Namun, sepanjang kelompok silent majority tetap saja berdiam dan enggan berdiskursus di media, walaupun harus berseberangan dengan opini populis yang dikonstruksikan oleh segelintir kelompok, maka narasi tunggal keislaman dengan wajah “garang” tidak akan pernah mampu untuk di counter, apalagi setelah Pilkada DKI berlangsung.

Nahh.. sebelumnya mesti dipahamai internalisasi nilai-nilai yang dipahami kelompok tersebut tengah mengisi habitus (keseharian) masyarakat dengan doktrin Islam yang mereka Pahami. Untuk itu, terma counter disini, lebih tepat diartikan sebagai perlawanan atas hegemoni tafsiran Islam sebagaimana dipahami oleh kelompok tersebut.

Supaya penjelasan mengenai persoalan ini menjadi terang dan jelas. Tulisan dari Bassam Tibi tentang Islam dan Islamisme cukup bijak dijadikan pisau analisis agar tidak terjadi kesalahan dalam berpikir. Islam dan Islamism adalah dua terma yang bisa mengecoh, ia berdekatan namun memiliki pemaknaan yang saling berseberangan. Menurut Tibi, Islam adalah agama, satu hal yang given, sedangkan islamisme adalah politik yang diagamaisasikan. Seringkali masyarakat menerima begitu saja dua terma tersebut tanpa mengkritisi secara mendalam pokok persoalan. Melihat massifnya pergerakan kelompok tersebut di media maupun ruang-ruang publik, tak ayal membentuk framing wajah islam yang pada akhirnya diwakili oleh kelompok yang secara worldview menginginkan satu tatanan pemerintah atas dasar Islam, bisa saja mewujud dalam konsepsi khilafah, negara Islam, maupun pemerintahan Islam (Nizam Islami). Mereka tidak segan-segan memberi label thagut pada sesama, bahkan paling ekstrem sampai mengkafirkan(takfiri). Bagi kelompok seperti ini, tatanan yang ada tidaklah dilandasi atas hukum Tuhan, sehingga masyarakat yang berada didalamnya pun tak luput dari kesesatan. Oleh karenanya, dengan melandasi pada doktrin “jihad”, perjuangan dengan kekerasan tak menjadi soal untuk dilakukan. Mark Juergensmeyer menyebutnya sebagai “Perang Dingin Baru” yakninya pertarungan antara konsep sekular tentang tantanan masyarakat dengan politik yang diagamaisasikan.


Hal ini didukung dengan fakta tentang gerakan Islamisme transnasional yang tengah merebak. Organisasi semacam Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, ISIS begitupun dengan pengaruh Arab Saudi melalui lembaga keilmuan untuk mempromosikan doktrin wahabi adalah bagian dari upaya untuk merubah tatanan yang dianggap thagut.

Di indonesia fenomena ini semakin mencuat setelah era reformasi, dimana gerakan tersebut semakin terang-terangan untuk mempromosikan ajarannya. Terlihat paradoks memang, apabila misi yang diusung adalah untuk menggantikan demokrasi namun nyatanya gerakan tersebut berselindung dibalik jubah demokrasi, dengan prinsip kebebasan berkumpul dan berserikat. Secara tidak langsung terjadi anomali yang menggelikan.

Sudah semestinya wajah Islam indonesia berganti muka. Bukankah doktrin utama ajaran Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Politisasi ayat-ayat Al-qur’an yang kadang dipahami secara tekstual harus dilawan dengan Islam yang damai dan indah. Banyak cerita meyejukkan ketika Rasulullah hidup dan seharusnya menjadi panutan bagi kita dalam beragama dan bernegara. Pernah ketika Nabi Muhammad Saw menetap di Madinah, beliau pernah didatangi serombongan orang Nasrani asal Najran —kawasan selatan Jazirah Arab. Saat itu Rasulullah sedang berada di dalam masjid dan bersiap menunaikan shalat Ashar. Rombongan Nasrani yang dipimpin Uskup Abu al-Haritsah berniat mendiskusikan masalah-masalah agama dan keimanan kepada Rasulullah. Apa yang dilakukan Rasul? Beliau ternyata membolehkan rombongan Nasrani itu memasuki masjid. Bahkan, Rasul mengizinkan Abu al-Haritsah dan rombongannya melakukan kebaktian dengan cara mereka di dalam masjid.

Begitupun cerita tentang keluhuran budi Umar bin Khattab kepada seorang Yahudi miskin yang rumahnya akan digusur oleh Gubernur Amr bin ‘Ash. Namun sang khalifah malah melarang dan memarahi gubernur yang bertindak sewenang-wenang. Wajah islam seperti inilah yang kita rindukan. Tidak menindas sewaktu berkuasa dengan senantiasa menganjurkan untuk mengayomi sesama. Sejalan dengan ungkapan Ali bin Abi Thalib, “mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Islam Indonesia pada dasarnya telah memiliki pondasi yang kuat dalam mengayomi berbagai perbedaan. Kebhinekaan yang selama ini diusung semakin kokoh dengan luhurnya akhlak para pendiri bangsa. Ada banyak kepentingan pada awal negara ini berdiri, namun tetap saja, demi mendahulukan kepentingan masyarakat banyak, egoisme kelompok dan kepentingan mampu diredam demi melihat Indonesia yang damai berlandaskan pada Pancasila yang menurut Muhammad Natsir sendiri sejalan dengan nilai-nilai keislaman. Alangkah angkuhnya bila menganggap negeri ini thagut hanya karena tidak sesuai dengan pemahaman Islam mereka yang sempit.

Maka dari itu, tugas bersama seluruh rakyat Indonesialah untuk kembali mempromosikan Islam yang damai, menjalin ukhuwah dengan sesama dan berbuat adil meskipun berbeda. Sebab Allah berfirman,”janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, justru menghalangimu untuk berlaku adil”.


Written by Nabhan Aiqani

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR