Senin, Oktober 26, 2020

Mendadak Pancasila

Corona Mengintai, Polisi Beraksi

Beberapa hari terakhir, arus media dipenuhi oleh pemberitaan tentang virus corona (Covid-19). Semua hal yang berkaitan dengan virus corona tidak luput dari radar media,...

Razia Buku dalam Iklim Demokrasi

Dunia perbukuan Indonesia dalam dua bulan terakhir ini sedang mengalami situasi yang mengkhawatirkan. Setidaknya terjadi di dua daerah, Kediri dan Padang, yang dimana aparat...

Panggung Politik Pejabat Milenial

Pepatah Arab mengatakan ‘syubbaanul yaumi rizaalul ghodi”, pemuda sekarang adalah pemimpin dimasa yang akan datang. Hal yang sama juga ada dalam istilah bahasa Inggris...

Calon Independen : Tak Melulu Soal Partai Politik

Kandidat dari jalur independen adalah jawaban bagi mereka yang kurang percaya terhadap kinerja partai politik. Selama ini secara statistik terutama yang dihimpun dari lembaga...
Alja Yusnadihttp://aljayusnadi.com
Kolumnis, tinggal di Aceh.

Si Anu mendadak rajin ke Mesjid. Mobil angkutan umum itu direm mendadak. Si Polen meninggal mendadak. Apa yang sidang pembaca bayangkan jika mendengar kata mendadak?

Mendadak itu kejadian yang tiba-tiba, tidak diduga. Dalam prakteknya, mendadak ini kontras berbeda jika dibandingkan dengan kebiasaan sebelumnya. Misalnya, jika si Anu mendadak rajin ke Mesjid, bisa dipastikan sebelumnya dia jarang atau bahkan tidak pernah ke Mesjid.

Di saat mobil angkutan umum direm mendadak menggambarkan kalau sopir tidak memperkirakan ada kambing lewat di depan, sehingga dia harus menekan pedal rem secara mendadak.

Begitu juga jika si Polen meninggal mendadak. Tiba-tiba, tidak ada tanda-tanda sebelumnya, seperti sakit misalnya.

Nah, bagaimana pula jika ada sekelompok orang mendadak Pancasila? Maksud saya begini. Selama ini Anda tidak mengakui Pancasila sebagai dasar kita bernegara, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, bahkan menganggapnya Thogut. Tapi Tiba-tiba, Anda mendadak mengatakan siapapun yang ingin merubah Pancasila adalah musuh negara, ibarat mobil tadi, saya pun terkejut mendadak.

Kalau kita bandingkan dengan beberapa peristiwa mendadak tadi, dapat diduga, tidak dimulai dengan perencanaan, tiba-tiba, tidak disangka, sekonyong-konyong.

Demikian halnya dengan sekelompok orang yang akhir-akhir ini mendadak pancasilais.

Sekelompok masa di akhir Juni 2020 menggelar aksi unjuk rasa untuk mendesak DPR dan Pemerintah menghentikan pembahasan Rancangan Undang Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP).

Mereka membangun narasi, jika ada upaya untuk mengubah Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila. Menurut mereka, ini perbuatan makar yang harus segera dibinasakan.

Ops, tunggu dulu. Sekilas, narasi yang mereka bangun sangat pancasilais, bahkan cocok disebut Front Pembela Pancasila. Kita harus mendukung demo berjilid-jilid untuk melawan rencana DPR dan Pemerintah itu.

Kalau perlu, setelah demo, untuk menjaga ukhuwah harus kita bentuk satu organisasi non profit: Persaudaraan Alumni 246. Isinya kumpulan orang Indonesia yang pro demo Pancasila.

Saya tidak membahas isi RUU HIP itu, yang sampai saat ini belum saya pelajari dengan tuntas. Namun menarik mencermati “ancaman” yang dialami Pancasila karena upaya pengkerdilan Pancasila menjadi Trisila dan seterusnya Ekasila.

Kalau kita mendengar saja tanpa membaca sejarah lahirnya Pancasila, diksi Tri dan Eka memang betul mengkerdilkan. Bayangkan saja, dari lima sila, menjadi tiga sila, lalu tinggal satu sila. Ini namanya korupsi sila, dan harus kita lawan bersama-sama.

Tapi tunggu dulu. Anda jangan terkecoh dengan narasi itu. Biar fair, apakah Anda pernah membaca pidato Sukarno (selanjutnya saya sebut Bung Karno) pada sidang BPUPK 1 Juni 1945?

Jika sudah, lanjutkan membaca tulisan ini, jika belum, demi kemaslahatan umat, tolong Anda baca dulu, biar kita berada dalam frekuensi yang sama.

Dalam sidang itu, Bung Karno menjawab pertanyaan ketua sidang Mr. Radjiman tentang dasar Indonesia Merdeka.

Bung Karno menjawabnya dengan kalimat “Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan ketua yang mulia ialah, dalam Bahasa Belanda: “Philosofische grondlag” daripada Indonesia Merdeka.”

Bagaimana mengenai korupsi sila tadi? Begini. Masih dalam pidato itu, Bung Karno menawarkan kepada peserta sidang kalau lima kebanyakan, dapat diperas menjadi tigasila, kalau masih banyak, akan diperas menjadi satusila: Gotong Royong.

Nah, kan mulai tau sejarahnya Pancasila itu. Jadi, perkara Pancasila, Trisila, Ekasila itu bukan korupsi sila, apalagi hendak menjadikan Indonesia sebagai negara Komunis, kejauhan, Om!

Karena dalam pidato itu, Bung Karno juga menyetir berbagai dasar negara lain, diantaranya adalah Ibnu Saud di Saudi Arabia, Nazisme Hitler di Jerman, San Min Chu I negara Tiongkok.

Untuk Indonesia, dasarnya bukan monarki seperti Arab, Komunis seperti Cina atau Nazi Jerman. Tapi dasar yang dapat diterima oleh semua kelompok.

Kalau kata Bung Karno, dasar yang dapat disetujui oleh Yamin, yang disetujui oleh Ki Bagus, yang Ki Hajar setujui, yang Sanusi setujui, yang Abikusno setujui, dan Lim Koen Hian setujui.

Dalam perjalanan bangsa ini, Pancasila sudah merajut nusantara hampir 75 tahun. Pastilah, generasi kita sekarang tidak merasakan bagaimana pergulatan kebangsaan yang terjadi dalam perumusan dasar Indonesia Merdeka itu.

Orde baru juga sudah menafsirkan Pancasila sesuai selera kekuasaan. Bahkan, Pancasila dijadikan dasar untuk melemahkan manusia yang lain. Pancasila bukan lagi menjadi dasar bernegara, tapi menjadi alasan membinasakan.

Terhadap Pancasila ini, untuk mengetahui sejarahnya secara utuh mau tidak mau memaksa kita untuk membuka dokumen aslinya. Biar kita dapat merasa, meraba seperti apa yang dimakud oleh penggali Pancasila itu sendiri. Bicara Pancasila, itu artinya kita bicara tentang pidato Bung Karno 1 Juni 1945.

Tapi kan, penggali Pancasila bukan hanya Bung Karno, ada yang menyebut nama M. Yamin.

Baik. Dalam hal ini, saya menyetir tulisan Mahbub Djunaidi dalam bukunya Humor Jurnalistik, Mahbub dengan lugas menulis, bahwa yang menggali Pancasila adalah Bung Karno, bukan Yamin.

Menurut Mahbub, hal tersebut diakui sendiri oleh Yamin dalam seminar Pancasila, 16 Februari 1959 di Yogyakarta. Yamin, menurut Mahbub, secara teoritis menghubungkan Pancasila dengan teoritise, antitese, dan sintese-nya Friedrich Hegel, bukan menggali.

Wah, ternyata bisa panjang urusannya. Memang, tidak bisa instan. Untuk menjadi alim fikih, harus mondok sekian lama di pesantren. Untuk ahli tata negara, harus sekolah Hukum sekian lama.

Jangan karena suka sama Via Vallen, si pedangdut tersohor itu, lantas kita mendadak suka dangdut. Tapi sukailah dangdut karena musik dan liriknya mudah dimengerti oleh semua kalangan, mulai rakyat jelata hingga sosialita.

Begitu juga untuk paham Pancasila, tidak bisa mendadak. Harus membaca sekian naskah. Jangan sekonyong-konyong Pancasilais, apalagi mendirikan Front Pembela Pancasila, jangan!

Alja Yusnadihttp://aljayusnadi.com
Kolumnis, tinggal di Aceh.
Berita sebelumnyaDikutuk Pengetahuan?
Berita berikutnyaNyala Membara Aksi Kamisan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.