OUR NETWORK

Mencari Tokoh Transformatif, Refleksi Pemikiran dan Gerakan IMM

Berbeda dengan era saat ini. Kita tidak lagi menemukan para tokoh transformatif. Malahan yang banyak kita temui ialah pemuda dengan corak gerakan reaksioner yang elitis

Normalisasi kehidupan kampus, masifnya budaya hedonis, matinya nalar kritis dan hilangnya budaya dialektika reflektif merupakan kegelisahan tersendiri bagi penulis. Hal itu lantaran, menurut penulis, dampak dari minimnya kelompok transformatif, yakni mereka yang mampu membawa perubahan pada tatanan sosial. Baik lingkup lokal, nasional bahkan internasional.

Tragisnya, pada era reformasi seperti saat ini, gerakan-gerakan transformatif itu justru mulai meredup. Tengoklah jejak gerakan sosial yang terjadi pada era pra dan pasca kemerdekaan, yakni suatu era yang menghendaki gerakan sosial transformatif untuk tunduk, diam dan membisu.

Tetapi di era itulah justru banyak melahirkan pemuda transformatif. Para founding fathers kita; Tan Malaka, Soekarno,Tirto Adi Suryo, Sultan Sjahrir, Moh. Hatta, Agus Salim lahir dengan gagasan transformatifnya.

Berbeda dengan era saat ini. Kita tidak lagi menemukan para tokoh transformatif. Malahan yang banyak kita temui ialah pemuda dengan corak gerakan reaksioner yang elitis. Hal ini mungkin terjadi karena keringnya ruang dialektika intelektual sebagai dasar dialektika refleksi atas aksi yang dilakukan. Gerakan perubahan menjadi hal utopis. Hal itu ditandai dengan absennya penanaman wacana yang masif dan tradisi dialektis yang mewarnai narasi kaderisasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi kemahasiswaan Islam yang kelahirannya diperuntukkan menjawab dinamika umat dan kebangsaan, sudah seharusnya berperan aktif dalam menciptakan pemikiran dan gerakan transformatif itu. Mulai dari persoalan agama, sosial, budaya, ekonomi hingga politik.

Dibutuhkan suatu analisis yang jeli dan tajam oleh kader. Sehingga, mutlak dibutuhkan gagasan dasar akan kaderisasi formal dan informal yang memiliki kualitas muatan pengetahuan dan pembacaan yang jelas atas setiap persoalan yang ada.

Dalam menjawab tantangan itu, ruang dialektika intelektual seharusnya menjadi hal pokok dalam perkaderan. Jelasnya, berorientasi pada pemberdayaan intekektual. Karena, ketika ruang intelektual kosong, maka yang terjadi adalah stagnansi pemikiran dan mandeknya gerakan perubahan.

Pendidikan Sesungguhnya

Berdasarkan analisis kritis terhadap posisi pendidikan dalam struktur kapitalisme saat ini, pendidikan justru menjelma sebagai aktor yang memproduksi serta memapankan sistem struktur yang ada. Dalam artian pendidikan justru menjadi masalah itu sendiri, ketimbang memosisikan diri sebagai sarana pemecahan terhadap masalah-masalah yang ada.

Pendidikan kita hari ini belum mampu membawa arah perubahan sosial. Bahkan tujuan sejatinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa pun telah pudar. Pendidikan kita tidak lagi menjadi hak, tetapi telah berubah menjadi komoditas. Mereka yang memiliki kemampuan financiallah yang bisa mengakses pendidikan.

Pasar telah mengendalikan ruang-ruang kelas, sehingga bukan logika kemanusiaan yang ada di dalamnya. Kemanusiaan tidak lagi menjadi arah perjuangan pendidikan, yang sejatinya proses pendidikan adalah agenda mencerdaskan dan membebaskan.

Dalam buku Pendidikan Poluler yang ditulis oleh Mansour Fakih menjelaskan pendidikan merupakan media transformasi sosial. Melalui pendidikan kritis, Fakih menguraikan bahwa proses pendidikan merupakan proses refleksi dan aksi (praksis) terhadap seluruh tatanan dan relasi sosial dari sistem dan struktur sosial. Yakni dengan mengajukan beberapa pertanyaan pokok; bagaimana peran serta cara kerjanya dalam menyumbangkan ketidak adilan dan ketidaksetaraan sosial.

Spirit Fastabiqul Khairat

Perubahan terjadi ketika ada basis pengetahuan di dalamnya. Pengetahuan teologis menuju perubahan sosiologis. Dalam pemikiran dan gerakan kita membutuhkan etos di dalamnya. Maka spirit fastabiqul khairat menjadi etos perjuangan kita.

Pemaknaan baru terminologi ‘berlomba-lomba…’, berubah makna dari permusuhan menjadi dialektis. Frase “berlomba-lomba..” juga bermakna berulang-ulang. Menandakan perlombaan itu akan terus berkelanjutan. Perlombaan dalam hal apakah yang dimaksud? Tidak lain ialah perlombaan dalam kebaikan.

Menciptakan perubahan dimulai dari diri sendiri. Sebelum nantinya kita berambisi merubah skup yang lebih luas lagi. Perubahan dalam diri sendiri itu dimulai dengan merevitalisasi diri. Dimulai dengan cara melawan dua hal, yakni hawa nafsu dan ke-ummi-an/ ketidaktahuan. Karena dua hal inilah yang pada umumnya menyebabkan kerugian pada diri manusia.

Dalam perkaderan pun sama demikian, kita butuh untuk menuntaskan dua persoalan tadi. Menjawab hawa nafsu dengan selalu memberbaiki ibadah kita dan memperbaiki ketidaktahuan dengan pemikiran dalam pengetahuan, sehingga terciptanya pola dialektika reflektif dengan tujuan menjadikan kader kembali kepada fitrah manusia; insan kamil. Langkah konkrit untuk merubah itu semua, yakni dengan menggerakkan kesadaran di dalam diri sebagai substansi kemanusiaan.

Karena misi kenabian dalam menjawab persoalan belum selesai, sehingga sudah menjadi tugas kita dalam menyambut dan menyelesaikan misi beliau. Sebagai khalifah yang diamanahkan kepemimpinan di bumi ini, kita harus selalu sadar untuk menjadi anak panah dalam memperbaiki akhlak dan menjadikan pengilmuan sebagai dasar meningkatkan kualitas kemanusiaan. Agar terciptanya tatanan kehidupan sosial yang berkemajuan.

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya, Peneliti di Pegiat Riset Ekonomi (Perisai) Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…