OUR NETWORK

Menata Cerita di Gua

Ia menulis naskah, menjadi sutradara, kadangkala juga memainkan sendiri lakon ciptaannya.

Sekian pokok pepohonan cukup usia menyorotkan sekotak cahaya. Perjalanan melintas tapak-tapak tangga dari parkiran menuju sanggar tak menyeramkan seperti malam biasanya. Di kiblat bagian Kentingan, tepat waktu artinya telat. Dalam jeda menunggu itu, raut-raut cerewet saling curi omong. Dua gadis-penonton nekat irit kata. Mereka cuma tak sabar menyongsong pementasan.

Maksud menonton gara-gara penasaran dengan naskah dan lakon serta permainan Idnas Aral di pentas teater. Sekian ratus jam lalu, beberapa naskah lakon lain karangan Idnas Aral sudah jadi buku Tentang Ketidakpastian (2018) cukup lama numpang indekos. Penumpang tak mendapat simpati sampai ia dibawa pulang yang maha menguasai. Hanya sahaja, aku sudah agak lama mendengar satu-dua-tiga kesaksian.

Idnas Aral itu taat di jalan teater. Ia menulis naskah, menjadi sutradara, kadangkala juga memainkan sendiri lakon ciptaannya. Kesaksian sudah berani dipercaya karena dikatakan sekian orang yang memiliki pertautan langsung-tak langsung sedikit-banyak dengan ikhtiarnya berteater. Berani percaya artinya perlu menyangkal.

Tiga atau lima puisi adalah waktu menunggu. Puisi gubahan dua penyair Solo sayup-sayup terhantam pekik lima tokoh. Hasan, Naim, Boby, Sigit, dan gadis agak nekat — Bibid. Lima tokoh rekaan yang tampaknya mau dibikin ori itu membuka panggung Aguama (Idnas Aral, 2019) dengan gerutuan bergairah macam aksi demo mahasiswa menyambut reformasi. Seperti api yang tersulut di musim meranggas. Ahh.

Mereka piknik ke gua bermaksud mengasingkan diri. Mau tidur ratusan tahun dan baru akan bangun dan kembali ke rumah saat semua sudah baik-baik saja. Malam baru di gua malah ramai. Mereka mengutuk apa saja sebelum bergantian mementaskan diri masing-masing.

Gerutuan dan kutukan mungkin enggan melewatkan apapun, apatah penceramah bodong, jual-beli agama, jihad berahi, politik ompong, koruptor yang makin percaya diri, pembohongan media massa dan media maya yang tak henti-hentinya. Pokoknya gua buatan di sanggar Teater Tesa FIB UNS itu malah berjarak dari niat membangun gua kahfi sendiri/dalam lolong panjang malam, meski sama-sama tak lagi membuatnya tidur (Puitri, 2016: hlm. 85).

Mencundangi Mimpi

Hasan itulah sebab keberangkatan sekelompok muda gusar pada segala ke gua. Tidur ratusan tahun dan baru akan bangun dan kembali ke rumah saat dunia sudah baik-baik saja itu mimpi Hasan. Mimpi yang ditawarkan kepada sekelompok kawan dekat dengan daya dukung bicaranya yang wibawa.

Mimpi yang sebetulnya cuma mengusik Hasan. Sebab ternyata keempat kawan yang pergi membersamainya tidak sungguh-sungguh mengalami kegelisahan seperti yang dirasakan Hasan. Keikutsertaan mereka adalah rupa kekhawatirannya pada sang karib.

Malam di gua saat lima tokoh itu batal nyenyak, mereka sepakat bergantian panggung mementaskan kisah diri. Sigit yang kecanduan menonton kabar pujaan hatinya melalui kilas cerita instagram galau karena kepergian mereka ke gua mensyaratkan ketidakikutsertaan ponsel.

Penolakan tak membuat Sigit merasa kehilangan gairah. Bagaimanapun ia merasakan setiap saat sang pujaan hati ada di dekatnya, menyapanya melalui story-story instagram. Sapaan untuk puluhan-ratusan-atau bahkan ribuan khalayak maya itu dianggapnya sebagai sapaan khusus untuknya. Sigit jadi netizen kebingungan 2×24 jam/Sang idola mangkir dari instagram (Jason Ranti, 2017). Gejala sakit asmara 4.0 yang nyata.

Kisah asmara Naim malah jadi tumbal penipuan berjenis kelamin ag(u)ama. Wakil Tuhan yang menubuh dalam sosok lelaki sepuh bertudung sorban membaiat Naim sebagai penegak suara-suara Tuhan. Menjanjikan perjuangan yang akan ditempuh Naim dengan surga dan wanita molek di sana.

Naim pamit pada gadis pujaannya. Ia akan jihad, jadi mereka harus berpisah. Ada janji wanita molek di surga kelak. Pacar Naim berang. Ia kabarkan sudah habis pertahanan dirinya menolak pinangan seorang lelaki. Mendengar itu, Naim lebih berang. Tahu bahwa Tua Bandotlah lelaki peminang yang dimaksud pacarnya. Lelaki yang hari sebelumnya mendaku sebagai wakil Tuhan dan membekali Naim dengan ransel jihad.

Bibid sebagai satu-satunya perempuan membawa suara yang mudah ditebak tapi memang tetap aktual. Apalagi kalau bukan soal tubuh dan gender “kedua”. Meski ia sempat membangun kisah retorik ihwal perempuan. Menantang kegagahan empat lelaki dengan pengorbanan perempuan pada mulanya.

Tapi kisah itu tak berterima. Empat lelaki menduga Bibid cuma pamrih kemampuan mengarang cerita. Bibid akhirnya menyilakan para lelaki membaca kemurungan-kepedihan kisah perempuan melalui tubuhnya. Tubuhnya sebagai tubuh perempuan, terampas haknya, tercabik harga dirinya, terbuang dari kemajuan berpikir yang perlu. Tubuh perempuan melulu tubuh yang kalah.

Kehadiran Bibid sebagai perempuan tunggal dalam Aguama tak memberi perspektif perlawanan atas segala kekalahan seandainya di akhir cerita tubuh itu menyerah menemani kegilaan lelaki yang dicintainya tidur di gua. Perempuan dalam Aguama selamat. Tak menambah daftar panjang perempuan kalah.

Biarlah Hasan tidur dalam pelukan bualan-bualan nun suci. Tanpa gangguan (si)apapun. Naim, Sigit, Boby, Bibid betatapun besar rasa kasihnya pada Hasan tak harus urun iman pada ambisi seorang sahaja. Bagaimanapun semrawutnya hidup, toh hanya itu yang kita punya. Tsah!

Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…