Sabtu, Februari 27, 2021

Menanti Reformasi Politik Lebanon

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Masihkah Belajar Sepanjang Hayat?

Jamak orang mereduksi serampangan antara ontologi pendidikan dan pengajaran dengan cakupan institusi formal. Keduanya jelas berbeda secara semantik karena memiliki beban makna partikular. Pendidikan melingkupi...

Tak Picik Memandang Masalah Perempuan

Perempuan yang konformis dan penurut masih menjadi gambaran ideal seorang perempuan yang layak disebut perempuan baik-baik. Kita tidak hendak melakukan generalisasi, dus tidak bisa...

Belajar Kebijaksanaan Dari Zaman Aksial

Kita kini hidup dalam masa genius ilmiah dan teknologi, tapi untuk pendidikan spiritual, kita jauh tertinggal dibanding orang-orang bijak zaman Aksial. Kepada merekalah kita...
Avatar
Firmanda Taufiq
Peneliti Islamic Studies, Pemerhati Dunia Islam dan Timur Tengah. Alumni S2 Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pasca ledakan di pelabuhan Marfaa, Beirut, Lebanon, 4 Agustus 2020 yang lalu. Hingga terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut pemerintah untuk bertanggungjawab atas insiden tersebut. Tidak hanya itu, mereka menyuarakan reformasi Lebanon, ditengah konstelasi politik, tindak korupsi dan kesenjangan ekonomi.

Akhirnya, kini Lebanon memiliki Perdana Menteri baru, Mustapha Adib, menggantikan Perdana Menteri lama, Hassan Diab, yang mengundurkan diri karena desakan rakyat Lebanon.

Pemerintah Lebanon melalui presiden Michael Aoun menyatakan akan segera melakukan reformasi total untuk memperbaiki kondisi politik Lebanon yang tengah carut marut. Ia juga tengah memikirkan bahwa sistem pemerintahan Lebanon yang menganut sistem konfesionalisme, yakni sistem pembagian kekuasaan berdasarkan pada sekte-sekte keagamaan. Hal ini bagi Aoun dianggap telah membawa dampak besar bagi Lebanon selama kurun waktu tujuh dekade. Badai pertikaian dan perseteruan antar sekte keagamaan tidak dapat terhindarkan.

Pasalnya, dalam sistem terebut, yang menjadi presiden harus berasal dari Katolik Maronit, sedangkan perdana menteri berasal dari Islam Sunni, wakil PM berasal dari Kristen Ortodoks, dan ketua parlemen berasal dari Syiah.

Jika melihat sejarah, terkait pembagian kekuasaan itu sebenarnya hanyalah hasil kesepakatan antara presiden (dari kelompok Katolik Maronit) dan perdana menteri (dari kelompok Islam Sunni) pada 1943. Saat itu, Lebanon baru saja merdeka dari Prancis. Kesepakatan itu tidak tertulis, tetapi menjadi semacam konvensi yang berlaku pada tahun-tahun kemudian. Baru pada 1990 diformalkan menjadi konstitusi.

Kini Lebanon tengah berbenah dan mereformasi pemerintahan. Rakyat Lebanon tengah menanti reformasi yang bakal membawa negara yang disebut dengan “Swiss di Timur Tengah” itu berubah lebih baik. Masyarakat Lebanon sudah jengah ditengah badai covid-19 yang menyerang, ditambah kondisi politik dan ekonomi yang carut marut. Maka, reformasi politik adalah keniscayaan dan jalan yang mesti ditempuh.

Intervensi Prancis 

Saat kondisi Lebanon terpuruk, Prancis melalui presiden Emmanuel Macron berusaha turut andil dalam upaya rekonsiliasi dan membantu reformasi politik Lebanon. Pasca ledakan di perlabuhan Beirut, ia juga hadir ditengah masyarakat Lebanon untuk melihat kondisi dan situasi yang terjadi di lokasi ledakan.

Tentu dalam hal ini, presiden Emmanuel Macron ingin membantu Lebanon dan menjadi pahlawan atas kondisi politik Lebanon yang tak stabil tersebut. Ia juga berdiskusi dengan presiden Michael Aoun dan memediasi reformasi politik Lebanon.

Tidak selesai dari situ, ia juga memberikan syarat bagi Lebanon untuk dana bantuan internasional yang mengalir ke Lebanon atas dasar kemanusiaan pasca ledakan di pelabuhan Beirut tidak akan diberikan, jika pemerintah Lebanon tidak melakukan reformasi yang nyata.

Reformasi Politik

Kunjungan kedua Macron juga untuk memastikan reformasi Lebanon harus berjalan cepat. Mustapha Adib sebagai Perdana Menteri baru Lebanon harus melakukan reformasi dan pembenahan yang menyeluruh di tubuh pemerintah maupun parlemen. Jika tidak ada perubahan sama sekali, maka pergantian perdana menteri pun hanya sebuah intrik politik semata.

Sebelumnya Adib adalah mantan duta besar Lebanon untuk Jerman. Ia mendulang 90 suara dari 120 suara dalam parlemen untuk mengklaim jabatan perdana menteri Lebanon. Sedangkan, pemungutan suara diadakan di istana presiden di Baabda, Beirut.

Ia akan berjuang sekuat tenaga dan melakukan reformasi besar-besaran di tubuh pemerintah Lebanon. Harapan dan keinginan masyarakat Lebanon untuk hidup damai dan sejahtera adalah cambuk yang mengharuskan pemerintah Lebanon melakukan perubahan nyata bagi rakyat Lebanon.

Reformasi politik adalah kunci bagi Lebanon keluar dari jeratan stabilitas politik dan ekonomi yang runyam. Perdana Menteri yang baru adalah harapan bagi masyarakat Lebanon. Demonstrasi dan perlawanan rakyat Lebanon bakal menemukan hasilnya. Menanti pemerintah Lebanon melakukan reformasi dan pembenahan untuk pemerintahan yang baik.

Avatar
Firmanda Taufiq
Peneliti Islamic Studies, Pemerhati Dunia Islam dan Timur Tengah. Alumni S2 Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.