Selasa, Oktober 20, 2020

Menanti Penghuni Istana

Jaga Persatuan Pasca Pemilu

Pesta demokrasi 17 April 2019 telah usai. Euforia masyarakat menyambut penyelanggaraan pemilu dengan mengikuti kampanye yang di lakukan oleh tiap capres maupun caleg selama...

Pendidikan Profetik: Solusi Pendidikan Abad 21

Yang hendak dikaji dalam tulisan ini ialah profetisme sebagai satu paradigma pendidikan di abad 21. Profetisme sebagai satu paradigma layak diamini oleh semua umat...

Awkarin dan ‘Penyakit’ Media Sosial

Karin Novilda, selebgram cum youtuber paling laris di Indonesia kembali menjadi pemberitaan. Selepas kematian mantan pacarnya, Oka Mahendra, yang disebut-sebut mengalami depresi, Awkarin –...

Dilema Masa Depan Pemberantasan Korupsi

Beberapa hari ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang menjadi sorotan publik. Ada optimisme, ada pula pesimisme menyelimuti berbagai wacana mengenai masa depan lembaga anti...
Hieronimus Adiyoga
Mahasiswa non aktivis tapi tidak mau apatis.

 

Menarik untuk menyimak dinamika politik dalam negeri. Suasana ‘hangat’ menjelang pendaftaran bakal calon presiden-wakil presiden akan terus disuguhkan. Baik kubu incumbent Joko Widodo yang masih membuat publik penasaran dengan siapa yang akan dipilih menjadi wakil presiden dari 10 nama yang sudah diungkap, begitu pula dengan kubu 2019 ganti presiden yang baru saja mendapat angin segar dari pertemuan antara Prabowo Subianto dengan SBY.

Presiden SBY, demikian jabatan presiden masih melekat walaupun sudah tidak menjabat, nampaknya masih begitu ‘seksi’ pada panggung politik. Partai Demokrat yang selama ini seakan jual mahal rupanya sudah sejak lama menimbang-nimbang akan berkoalisi dengan pemerintah, namun pada akhirnya tetaplah Demokrat memilih untuk mendekati Prabowo Cs, karena konon katanya Megawati masih baper. Ciye-ciye, ngambekan ya..

Nampaknya dengan bergabungnya Demokrat pada koalisi ganti presiden, semakin membuat pusing koalisi tersebut. Semakin banyak partai, semakin banyak alternatif pencalonan. Prabowo yang hampir pasti berlaga tahun depan, belum tentu berlaga. Bisa jadi, pada menit akhir Prabowo akan memberikan restunya pada tokoh yang lebih muda dan dianggap mumpuni untuk mengatasi persoalan bangsa. Sebagai pentolan koalisi ini, rasanya beliau yang akan memegang peranan penting tahun 2019.

PKS, cinta dua periode Gerindra, selalu ngotot menginginkan kadernya untuk maju pada perhelatan akbar 2019, walaupun mentoknya jadi cawapres. Begitu juga PAN, yang dulu sempat memasang baliho Zulkifli Hasan calon Presiden RI serta Amin Rais yang mengaku terinspirasi dari Mahathir Mohammad, nampaknya juga punya pertimbangan tersendiri untuk memenangkan kadernya. Demokrat, cinta lama PAN yang juga memiliki AHY untuk memperbaiki nama baiknya yang tercoreng oleh kadernya yang masuk ke lapas Sukamiskin.

Bagaimana dengan Gatot Nurmantyo? Rizal Ramli? TG.. Eh, yang ini udah pindah kubu. Gatot Nurmantyo, dulu digadang-gadang sebagai pemimpin yang dekat dengan umat Islam, semakin hari semakin tenggelam. Begitu juga Rizal Ramli, walaupun mumpuni, rasanya elektabilitasnya sulit untuk terkerek jauh karena terlalu blak-blakan. Anies Baswedan? Kalau dia sih bilangnya mau fokus memperbaiki Jakarta, tapi nggak tau kalau akhirnya jadi seperti Jokowi. Apalagi kalau maju, terus menang, Gerindra juga kebagian berkah gubernur Jakarta. Eaaaa~

Mumet gak? Tapi satu hal yang mempersatukan mereka, siapapun calonnya, yang penting #2019GantiPresiden. Lagunya enak sih. Bagaimana dengan koalisi petahana? Well, setelah menguasai parlemen, rasanya tidak begitu sulit bagi pemerintah untuk menguasai jalannya pemerintahan ini. Banyak kebijakan kontroversial, yang memang menang di parlemen, tapi jadi ladang tersendiri untuk dinyinyiri, entah itu di twitter, acara TV, dll. Sebut saja, presidential threshold.

Kalau kasus itu gak kompak, beda lagi kalau UU MD3, eks koruptor jadi caleg, sampai perbaikan gedung DPR, tiba-tiba jadi kompak semua.

Kalau koalisi oposisi sebelumnya seakan lebih tertutup, untuk koalisi #TetapJokowi rasanya lebih terbuka. Mereka bahkan sudah terang-terangan menyebut calon wakil presiden Jokowi. Dari 15 nama, dipotong menjadi short list 10 nama, dipotong lagi jadi close list 5 nama, yang katanya cuma diketahui Jokowi. Beberapa hari yang lalu, ketua umum enam parpol pengusung Jokowi juga udah makan malam bareng di Istana Bogor. Sayangnya, gak ada nasi pecel di menu makanan mereka.

Dari 10 nama yang sudah dibocorkan, latar belakangnya kebanyakan agamis-ekonom-ketum parpol. Agamis, katakanlah TGB, Ma’ruf Amin dan Mahfud MD. Ekonom, ada bu Sri Mulyani. Ketum parpol? Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar sampai M Romahurmuziy. Lainnya, masih ada Moeldoko dan bu Susi Pudjiastuti. Setidaknya merekalah yang sangat potensial untuk mendampingi Jokowi tahun depan.

TGB, dengan keislamannya yang kuat, tentunya akan menangkis serangan Jokowi sebagai anti Islam. Masih agak jual mahal, tapi dilihat dari gimmick rasanya tidak bisa dipungkiri beliau bersedia. Begitu juga dengan Ma’ruf Amin dan Mahfud MD. Dua nama terakhir ini bahkan terang-terangan menyatakan siap apabila diajak mendampingi Jokowi tahun 2019. Bu Sri Mulyani, tentunya bisa melakukan justifikasi atas keadaan ekonomi Indonesia, serta menjelaskan kebijakan fiskal pemerintah yang sering menjadi bahan untuk menyerang pemerintah, misalnya utang luar negeri.

Ketua umum parpol, rasanya tidak perlu disembunyikan lagi, selalu ada kecenderungan ingin berkuasa diantara partai politik yang ada. Memang tidak terlalu istimewa, tapi mereka memiliki kader dan mesin politik, yang bisa digunakan untuk mengerek suara Jokowi tahun 2019. Mereka juga punya kekuatan logistik dan finansial, yang akan dibutuhkan banyak untuk pencalonan. Moeldoko, saya no comment. Sedangkan bu Susi, jika berhasil rasanya beliau yang akan menjadi wapres paling gokil sepanjang sejarah.

Sedangkan Pak JK, rasanya agak mustahil beliau bisa mencalonkan diri lagi menjadi wapres untuk ketiga kalinya, sekalipun akan menggugat MK berapa kalipun. Yhaa, pak JK ini kan memang orang kaya, rasanya memang selalu dibutuhkan untuk mendanai proses ini. Ya kan? Iyain aja.

Kita akan terus menikmati drama ini sampai seminggu ke depan, sembari menunggu Premier League musim 2018/2019 bergulir kembali. Nikmati saja proses politik ini, tapi jangan ikuti jejak cebong-kampret akut yang sudah merusak tatanan bermasyarakat. Yang kita butuhkan hanya satu, berdewasalah dalam politik.

Hieronimus Adiyoga
Mahasiswa non aktivis tapi tidak mau apatis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

ARTIKEL TERPOPULER

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.