Sabtu, Oktober 31, 2020

Menanti Narasi Besar Jokowi

Mendiagnosa Jelaga Demokrasi

Masa kampanye Pilpres dimulai. Hilir masih jauh untuk dikayuh, namun terasa jeram mulai mengadang. Sejak pemilihan umum nasional tahun 2009 dan tahun 2014 ada...

Menanyakan Kembali Fenomena Gantung Diri di Gunungkidul?

Tingginya angka bunuh diri di Indonesia menjadi masalah universal. Prevalensi angka bunuh diri di sini terus meningkat setiap tahunnya. Data terakhir pada tahun 2016,...

Menakar Politik Karir

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia merilis 49 daftar calon legislatif (caleg) bekas narapidana perkara korupsi.  Caleg yang berlatarbelakang bekas narapidana perkara korupsi itu...

“Kematian” Agama di Hadapan Bencana

Air mata kita seolah belum mengering karena duka bencana alam gempa bumi yang di alami NTB (Nusa Tenggara Barat) 8 September 2018 silam, kini...
Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik

Pelaksanaan Pilpres sudah memasuki hitungan mundur, kurang lima bulan lagi menuju hari pencoblosan. Penantian yang panjang bagi rakyat untuk mendapatkan kepala negara periode lima tahun ke depan, dengan tantangan kehidupan kiwari yang makin besar. Namun, bagi capres cawapres, baik petahana Jokowi-Amin, maupun penantang Prabowo-Sandi, waktu yang tersisa hingga pemilih masuk ke bilik suara relatif tidaklah lama.

Meski singkat waktu tersisa bagi  kedua pasangan yang berlomba, sampai hari ini belum terlihat daya tarik yang kuat dari kedua capres untuk bisa kita yakini sepenuhnya apa alasan mendasar (reason d’etre) kenapa harus memilih mereka. Yang sampai ke publik masih berupa citra pesona semu yang melekat atau dilekatkan pada personal mereka.

Petahana dan penantang beserta tim pemenangan serta pendukung mereka, masih bergulat dengan gaya lama; perang kata, adu argumen dangkal dan konflik semantik yang tidak menarik. Belum terlihat branding, konten dan tagline memikat yang menyatu pada masing masing kandidat. Belum tampak visi kongkret dalam bentuk narasi besar hendak kemana bangsa dan negara ini akan dibawa. Kedua kandidat gagap memformulasikan kehendak rakyat secara lebih masuk akal.

Dari berbagai survei dalam rentang dua bulan belakangan, persentase keterpilihan kedua pasangan pun belum nampak menjanjikan. Keterpilihan petahana masih berkisar antara 52-57 persen, angka yang belum aman. Penantang pun sejauh ini baru meraup sekitar 29-34 persen pemilih. Hasil dari berbagai lembaga survei ini menunjukkan, dukungan terhadap kedua kandidat, relatif stagnan.

Stagnasi angka keterpilihan kedua kandidat amat sangat terkait dengan alasan substansial mengapa rakyat harus memilih satu di antara keduanya. Sampai saat ini rakyat belum diberi gambaran gamblang tentang visi misi, program kongkret untuk menggerakkan roda sejarah bangsa ini ke masa depan sesuai dengan tantangan zaman dalam sebuah narasi besar yang bisa ditangkap dan dipahami rakyat dari beragam lapisan.

Petahana sesungguhnya memiliki modal politik amat besar untuk meraih keuntungan elektabiltas dengan mengelaborasi, mempresentasikan dan meyakinkan publik tantang kinerja, tindakan dan program besar yang telah diwujudkan dalam satu periode mengelola negara dan menjalankan pemerintahan.

Banyak bidang pemerintahan dan program pembangunan yang berhasil signifikan dan malahan membanggakan jika dikomparasikan dengan beberapa rezim sebelumnya. Banyak pula bidang dan program pembangunan yang masih belum berubah dan jauh dari hasil maksimal.

Hal ini bukanlah sebuah kegagalan jika dikomunikasikan dengan jujur dan obyektif tentang kendala mendasar yang sulit diperbaiki dalam waktu singkat. Kesadaran nalar rakyat pun bisa dibuka dengan apa adanya dan dengan lapang dada rakyat pun akan memakluminya. Ini bisa diartikulasikan dalam sebuah cerita besar bahwa sang petahana memang beda (diferensiasi) dengan rezim sebelumnya dan dengan penantang untuk bertarung ulang pada 2019 mendatang.

Narasi besar dari keberhasilan dan kekurangan pada satu periode yang telah dilalui harus disambungkan dengan narasi besar lima tahun periode kepemimpinan bangsa ke depan. Sebuah narasi besar harus kuat secara filosifis, epistemologis dan capaian eksekusi. Poin poin keberhasilan semestinya mudah diurai dalam sebuah bingkai kuat dan terintegrasi secara utuh dan kukuh yang terartikulasi, terekspresikan dan dengan sendirinya bercerita tentang progres perjalanan sejarah bangsa terkini.

Dari narasi besar inilah kekuatan petahana dikerucutkan menjadi personal branding kepemimpinan yang menarik, layak dan semestinya diteruskan untuk lima tahun lagi supaya tuntas sudah tanggungjawab sejarah yang diamanahkan. Dari narasi besar ini pulalah tagline petahana bisa dipersembahkan dengan pilihan diksi yang tepat, padat dan kuat yang mampu menyedot kesadaran rakyat; pilihan politik ke depan amatlah menentukan.

Namun sayang seribu sayang, petahana tak fokus, lemah atau limbung dalam mendefisikan kekuatan dan capaian program yang telah dilakukan. Capaian program hanya dikongklusikan pada terbangunnya banyak infrastruktur yang dikomunikasikan dalam terminologi amat fisik dan teknis.

Padahal pembangunan infrastruktur bisa didefinisikan lebih hebat dari itu. Infrastruktur adalah soal penting menyangkut keadilan, keterhubungan anak anak bangsa yang berada di banyak wilayah yang sungguh luas secara georafis, beragamnya potensi sumberdaya dan kekayaan kultural. Infrastruktur bukan sekadar soal fisik, tapi menyatunya anak anak bangsa dalam mengarungi hidup menuju masa depan.

Jika Jokowi tetap ingin mendulang suara rakyat secara meyakinkan dan agar Pilpres lebih menarik dan mendidik layaknya konser demokrasi yang apik, disain kampanye terutama sajian semantik dan derivasinya dalam berbagai bentuk, harus ada perbaikan serius. Jokowi dan tim kampanyenya mesti mulai mengurangi atau malahan menghentikan stetmen stetmen parsial, dangkal dan sempit.

Juga sebaiknya tak lagi menonjolkan sekadar penampilan personal dalam even even seremonial dengan tujuan menyedot dukungan generasi milenial. Yang mengemuka hendaknya lebih kepada isu isu besar, substansial yang dinanti rakyat untuk memenuhi asa kehidupan berbangsa dan bernegara yang hakiki. Dengan begitu, rakyat bisa diikat dengan sebuah keyakinan dan kesadaran; bersama Jokowi, bangsa yang beragam ini, optimis bergerak meraih masa depan.

Masih ada waktu untuk Jokowi dan timnya berbenah. Skenario kampanye masih bisa diubah untuk lebih terarah. Apalagi kandidat kompetitor juga belum memiliki narasi jelas, apatah lagi narasi besar yang menggugah. Jika Jokowi dan timnya tak berbenah, harapan untuk terpilih kembali tidaklah mudah. Seandainya pun tetap terpilih dan memenangkan pertarungan, Pilpres 2019 tidaklah menarik dan menggembirakan seperti sering ia nyatakan. Ia terpilih kembali hanya karena kompetitornya di sebelah memang payah. Dan rakyatpun akan menerimanya dengan pasrah sebagai kemestian sejarah.

Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.