Senin, Oktober 26, 2020

Menanggapi istilah Go green, mindset salah kaprah (Revisi)

Desain untuk Sosial, Potensi dan Keterbatasannya

Akhir-akhir ini feed Instagram saya dibanjiri oleh cerita dari kawan-kawan desainer produk yang sedang berada di desa-desa di Kalimantan hingga Papua. Dalam wadah social...

GMO: Permainan Russian Roulette di Sektor Pangan

Genetically Modified Organism (GMO) adalah modifikasi organisme hidup. Bicara GMO, teknologi ini tidak lepas dari perusahaan predator raksasa asal negeri Paman Sam, Monsanto yang...

Diskusi Perihal Haramnya Poligami

Beberapa hari yang lalu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui Ketua Umumnya, Grace Natalie, melemparkan wacana penolakan terhadap poligami. Sontak sikap kontroversial ini viral di...

Aborsi Aman, Jalan Pintas atau Kesempatan?

Agaknya membahas isu aborsi adalah hal yang masih tabu di masyarakat mengingat sebagian besar masyarakat kita masih berada dalam pola pikir yang konservatif. Bahkan...
jbagas
Project Engineer interested in environmental, technology, social issues. Keep learning and keep sharing.

Go green, istilah yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan. Istilah go green pada dasarnya merupakan istilah untuk mengkampanyekan menggunakan produk-produk dari alam dan yang tidak dapat memberikan dampak merusak terhadap lingkungan. Dalam artian lebih sederhana bisa juga diartikan beraktifitas yang lebih ramah lingkungan. Maksudnya, lingkungan yang semakin lama semakin rusak harus diperbaiki dengan merubah pola hidup yang tidak merusak alam atau ramah lingkungan. 

Banyak sektor yang ikut mengkampanyekan istilah go green. Mulai dari bidang industri dengan menghasilkan produk yang ramah lingkungan, contoh plastik yang mudah terurai, kertas dari bahan daur ulang. Di bidang pertanian ada produk pestisida yang minim zat kimia yang dapat merusak ekosistem. Dan di bidang energi pun akhir-akhir ini ramai dengan istilah renewable energy, atau dalam Bahasa Indonesia disebut energi terbarukan.

Energi terbarukan memiliki arti energi yang berasal dari alam yang ketersediaannya ada terus karena alam, atau yang berasal dari “proses alam yang berkelanjutan”, seperti tenaga surya, tenaga angin, arus air proses biologi, dan panas bumi (sumber:Wikipedia). Di realita keadaan lingkungan sehingga pemanasan global mulai terasa nyata. Mengapa demikian? Karena kebutuhan listrik yang saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi manusia dan populasi manusia makin meningkat tiap tahunnya, jadi perlu pasokan energi yang ekstra untuk menopang hal tersebut. 

Saat ini untuk memenuhinya dipilihlah bahan bakar yang berasal dari fosil untuk memenuhiya, atau disebut  energi fosil. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam penggunaan bahan bakar ini, namun penggunaan secara berlebihan lah yang salah. Mengingat mulai dari proses pencarian atau eksplorasi hingga hasil akhir konversi energinya menjadi listrik itu selalu meninggalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh Karena itu lah kita seharusnya lebih bijak menggunakan sumber daya alam ini.

Dengan kejadian seperti ini, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan masyarakat akan mengalami krisis energi. Ada dua faktor penyebab timbulnya krisis energi itu. Pertama, dari sisi sumbernya yang dieksploitasi secara berlebihan tanpa memikirkan keberlanjutannya. Kedua, dari sisi pengguna energinya yang terlalu semena-mena dalam menggunakan energi, yang tidak sadarakan kondisi ini.

Lalu sisi manakah yang baiknya dibenahi terlebih dahulu?Sebenarnya bukan maksud penulis membanding-bandingkan hal mana yang lebih penting. Cuma hanya ingin mengingatkan bahwa ada poin yang lupa atau hilang dalam menanggapi isu go green ini. Yaitu a bad behavior dari sisi manusianya. Menurut logika saya, ambil contoh di Indonesia saja, walaupun dari Aceh sampai Papua semua sektor listriknya menggunakan pembangkit dari energi terbarukan, tetap saja tidak akan terpenuhi kebutuhan listriknya. Apa lagi dengan pola hidup yang sekarang ini, baik dari masyarakat kecil sampai ke kelompok-kelompok besar belum sadar atau mungkin belum tau akan pentingnya hemat dalam penggunaan listrik ini. 

Ada sebuah pernyataan yang sering terdengar dimana-mana ”ahh ngapain hemat orang kita bayar ini” atau “udah sih idupin aja listriknya, kita mampu bayar ini”. Ini lah rata-rata pemikiran masyarakat kita bahkan mungkin saya sendiri juga termasuk. Apakah pantas seorang manusia yang dibekali akal pikiran berpikiran seperti ini?

Melihat keadaan ini, perlunya pemaknaan lebih mengenai istilah go green ini.Karena pada dasarnya go green itu merupakan sebuah gaya hidup (lifestyle). Gaya hidup yang seperti apa? Gaya hidup yang lebih ramah terhadap lingkungan sekitar, gaya hidup yang tidak merusak lingkungan sekitar, gaya hidup yang tidak memberikan efek buruk terhadap lingkungan sekitar dan lain-lain yang intinya lebih bersahabat lah dengan lingkungan. Pola pikir seperti ini lah yang harus dimiliki setiap lapisan masyarakat dalam menyosong kehidupan di era milenial ini.

Sebagian boleh berpendapat lingkungan yang sekarang ini merupakan warisan dari perilaku manusia di zaman sebelumya saat masa revolusi industri. Pernyataan tersebut tidak lah sepenuhnya salah, Cuma berhentilah menyalahkan keadaan. Yang salah adalah kita masyarakat yang hidup di zaman modern ini dimana perkembangan teknologi begitu pesat terasa melanjutkan kesalahan polahidup yang salah di masa lalu. Dimana peilaku tersebut mulai terasa dampaknya di masa ini, yang mulai disebut global warming

Kita yang katanya hidup lebih maju dari masa sebelumnya, yang katanya intelejensinya lebih tinggi dengan bukti keberhasilan penemuan teknologi di berbagai bidang, yang katanya lebih cerdas karena kemudahaan akses dalam mencari informasi harusnya menjadi lebih bijak dalam menanggapi kejadian-kejadian di lingkungan, harusnya lebih peka dalam merespon perubahan alam, harusnya lebih dewasa dalam menyikapi dan bertindak mengikuti perubahan tersebut kearah lebih baik yang pasti. Lantas, apakah kemajuan teknologi ini bertolak belakang dengan rasa manusia dalam memaknai jati diri kemanusiaannya sebagai mahkluk yang menjaga alam??

Jadi, bisakah istilah go green itu terealisasikan sebagai gaya hidup? Bukan hanya slogan yang tren di abad ke-21 ini. Mungkin kata motivasi yang pas untuk menyemangati para pegiat lingkungan dan semua orang yang sadar akan ini adalah “sulit bukan berarti tidak bisa”. Manusia diciptakan memiliki akal untuk berfikir dan bertindak, tinggal pola pikirnya saja atau mindset nya saja yang harus dibenahi. Karena mindset yang baik dan benar itu mendorong manusia berperilaku yang baik dan benar pula.

So, mari jadikan go green sebagai pola hidup. Bagi yang sudah melakukan, tetaplah semangat menjalani gaya hidupnya. Bagi yang belum, jadikan kebiasaan ini sebagai gaya hidup sehari-hari. Karena berawal dari kebiasaan individu yang baik bisa menular ke kelompok-kelompok masyarakat. Dan jika kelompok masyarakat melakukan kebiasaan baik ini terus-menerus timbul lah tradisi yang baik di masyarakat itu. Lama-kelamaan mempertahankan gaya hidup ini, tercipta lah suatu budaya yang positif yang berlaku di masyarakat. Dari individu >>lingkungan sekitar >> masyarakat luas >> seluruh umat manusia.Lahir lah suatu generasi hijau yang peduli akan keberlangsubgan alam ini

jbagas
Project Engineer interested in environmental, technology, social issues. Keep learning and keep sharing.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.