Rabu, April 14, 2021

Menakar Nalar Spiritual dalam Berpolitik

Film Bumi Manusia Projek Pendangkalan Nalar Masyarakat

Sudah banyak tulisan yang membahas terkait gonjang-ganjing di filmkanya novel Bumi Manusia beberapa pekan ini. Mulai tulisan yang membandingkan subyek Minke dengan tokoh yang...

Mencari Presiden “Abu-abu” Indonesia

Tahun 2019 yang sering disebut tahun politik. Pemilihan umum semakin dekat. Rabu 17 April 2019 pelaksanaan pemilu, apakah anda sudah terdaftar sebagai pemilih? Setiap...

Setelah Pertemuan Jokowi-Prabowo, Lalu Apa?

Banyak kalangan menyambut positif pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto. Pertemuan yang dilakukan didalam MRT tersebut adalah pertemuan pertama atara keduanya...

Pancasila sebagai Common Platform Bangsa Indonesia

Satu hari pasca Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara merdeka, terjadi peristiwa mencengangkan ketika narasi sila pertama Pancasila dalam Piagam Jakarta yang berbunyi “Ketuhanan dengan...
Ratman Aspari
Aktif dalam bidang kepenulisan dan jurnalistik, anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) serta pendiri Rumah Baca Asah Asih Asuh.

Kesadaran spiritual membuat kita menjadi sangat kreatif dalam batasan untuk memainkan ‘permainan tanpa batas’, serta karakter positif. Tak akan ada kedustaan, kecurangan, intimidasi, saling menghina, mencaci dan pengucapan janji yang berlebihan, yang sangat rawan untuk diingkari.

Saya memaknai spiritualitas sebagai ikatan yang transenden atau adanya unsur ke –Illahiah-an dalam setiap bentuk aktivitas kehidupan. Spiritualitas merupakan inside power, kekuatan yang bersumber dari dalam diri karena keyakinan yang kuat dari sang pemilik kekuatan. Bukan justru dianggap mengebiri potensi manusia sebagaimana yang dikhawatirkan banyak orang. Terutama para kawan yang bergelut di dunia politik.

Jika kita menganalisis berita lokal hingga global, penyebab kehancuran karier politik didominasi kasus kehancuran moral dan mental spiritual. Korupsi, berbagai bentuk skandal, kecurangan, kebohongan, hingga kekejian, politik uang dalam berbagai bentuk manifestasi dan yang bisa dinilai dengan uang, politisasi potensi pada ranah-ranah non politik dan berbagai bentuk lain yang merupakan linieritas dari politik dan kekuasaan.

Lebih dramatis lagi ketika berbagai upaya legitimitasi yuridis formal dilakukan untuk ‘menghalalkan’ berbagai tindakan tersebut seperti halnya undang-undang yang justru memberi peluang bagi para politisi oportunis untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Peran lawan politik, masyarakat atau institusi apapun dalam membongkar kebobrokan moral bukanlah suatu sebab yang dapat disalahkan atau dibenarkan. Mesikpun tidak dapat dipungkiri adanya latar belakang yang sarat kepentingan dalam setiap upaya ‘pelurusan’ atas nama penegakan hukum. Toh kenyataannya, masih banyak sekali kasus-kasus dalam proses hukum yang belum tuntas sedangkan prosesnya telah menyita banyak waktu, energi dan beberapa sumber daya.

Saat ini saja, kita juga semakin disesakan pada realita yang menjauhkan masyarakat dari kedewasaan politik. Setiap mendekati dilaksanakannya pesta demokrasi, justru semakin sering kita disuguhi realitas kasus saling sikut, saling menjatuhkan, menggilas,bahkan membantai tanpa ada kepedulian meski dengan saudara sekubu.

Dari tindakan pelanggaran ringan sampai kriminalitas sudah merupakan kewajaran dan cukup fenomenal. Visi dan Misi institusi politik justru menjadi satu hal yang absurd setelah kepentingan individu-individu di dalamnya yang secara vokal menyatakan memiliki loyalitas, dedikasi dan komitmen untuk partai. Partai pun kini menjadi nomor dua, apalagi rakyat yang akan menduduki nomor ke sekian. Jalan seperti ini yang diyakini benar dan dapat menghantarkan mereka ke kursi terhormat yang makin menjadi impian.

Penempelan Stigma

Dan bukan suatu yang salah total jika pada akhirnya stigma menempel di diri sebagian besar pelaku politik di negeri ini, meskipun tidak dapat dipungkiri, bagaimana politik dan dinamikannya dibangun memberikan konstribusi besar dari perwjajahan politik yang dibawanya.

Kebenaran yang dianut dan tanpa dasar kecuali sebatas impian dan kepentingan individu sudah bisa dipastikan ibarat menyiapkan terbukanya pintu kehancuran. Kesadaran ini tidak akan pernah sampai pada diri seseorang hingga kehancuran itu datang tanpa bisa dipastikan kapan waktunya.

Setebal dan setipis apakah kesadaran spiritualitas ini pada setiap pelaku politik kita saat ini, jika pada kenyatannya seperti itu. Sebenarnya memiliki kesadaran spiritual membuat kita menjadi sangat kreatif dalam batasan untuk memainkan ‘permainan tanpa batas’, serta karakter positif. Tidak akan ada kedustaan, kecurangan, intimidasi, saling menghina dan mencaci, serta mengucapkan janji yang berlebihan yang sangat rawan untuk diingkari.

Kesadaran ini akan menjadikan hati kita menjadi sangat tajam dan memegang teguh moralitas, sebuah kemampuan yang sangat diperlukan untuk membaca berbagai fenomena sosial yang terus bergulir ditengah masyarakat, dan kemudian menyikapinya dalam tindakan yang tidak membodohi dan merugikan rakyat. Karena rakyat hanya membutuhkan pemimpin dan wakil yang sangat mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka serta memiliki komitmen yang tinggi pada mereka.

Ratman Aspari
Aktif dalam bidang kepenulisan dan jurnalistik, anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) serta pendiri Rumah Baca Asah Asih Asuh.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.