OUR NETWORK

Menakar Nalar Spiritual dalam Berpolitik

Saya memaknai spiritualitas sebagai ikatan yang transenden atau adanya unsur ke –Illahiah-an dalam setiap bentuk aktivitas kehidupan.

Kesadaran spiritual membuat kita menjadi sangat kreatif dalam batasan untuk memainkan ‘permainan tanpa batas’, serta karakter positif. Tak akan ada kedustaan, kecurangan, intimidasi, saling menghina, mencaci dan pengucapan janji yang berlebihan, yang sangat rawan untuk diingkari.

Saya memaknai spiritualitas sebagai ikatan yang transenden atau adanya unsur ke –Illahiah-an dalam setiap bentuk aktivitas kehidupan. Spiritualitas merupakan inside power, kekuatan yang bersumber dari dalam diri karena keyakinan yang kuat dari sang pemilik kekuatan. Bukan justru dianggap mengebiri potensi manusia sebagaimana yang dikhawatirkan banyak orang. Terutama para kawan yang bergelut di dunia politik.

Jika kita menganalisis berita lokal hingga global, penyebab kehancuran karier politik didominasi kasus kehancuran moral dan mental spiritual. Korupsi, berbagai bentuk skandal, kecurangan, kebohongan, hingga kekejian, politik uang dalam berbagai bentuk manifestasi dan yang bisa dinilai dengan uang, politisasi potensi pada ranah-ranah non politik dan berbagai bentuk lain yang merupakan linieritas dari politik dan kekuasaan.

Lebih dramatis lagi ketika berbagai upaya legitimitasi yuridis formal dilakukan untuk ‘menghalalkan’ berbagai tindakan tersebut seperti halnya undang-undang yang justru memberi peluang bagi para politisi oportunis untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Peran lawan politik, masyarakat atau institusi apapun dalam membongkar kebobrokan moral bukanlah suatu sebab yang dapat disalahkan atau dibenarkan. Mesikpun tidak dapat dipungkiri adanya latar belakang yang sarat kepentingan dalam setiap upaya ‘pelurusan’ atas nama penegakan hukum. Toh kenyataannya, masih banyak sekali kasus-kasus dalam proses hukum yang belum tuntas sedangkan prosesnya telah menyita banyak waktu, energi dan beberapa sumber daya.

Saat ini saja, kita juga semakin disesakan pada realita yang menjauhkan masyarakat dari kedewasaan politik. Setiap mendekati dilaksanakannya pesta demokrasi, justru semakin sering kita disuguhi realitas kasus saling sikut, saling menjatuhkan, menggilas,bahkan membantai tanpa ada kepedulian meski dengan saudara sekubu.

Dari tindakan pelanggaran ringan sampai kriminalitas sudah merupakan kewajaran dan cukup fenomenal. Visi dan Misi institusi politik justru menjadi satu hal yang absurd setelah kepentingan individu-individu di dalamnya yang secara vokal menyatakan memiliki loyalitas, dedikasi dan komitmen untuk partai. Partai pun kini menjadi nomor dua, apalagi rakyat yang akan menduduki nomor ke sekian. Jalan seperti ini yang diyakini benar dan dapat menghantarkan mereka ke kursi terhormat yang makin menjadi impian.

Penempelan Stigma

Dan bukan suatu yang salah total jika pada akhirnya stigma menempel di diri sebagian besar pelaku politik di negeri ini, meskipun tidak dapat dipungkiri, bagaimana politik dan dinamikannya dibangun memberikan konstribusi besar dari perwjajahan politik yang dibawanya.

Kebenaran yang dianut dan tanpa dasar kecuali sebatas impian dan kepentingan individu sudah bisa dipastikan ibarat menyiapkan terbukanya pintu kehancuran. Kesadaran ini tidak akan pernah sampai pada diri seseorang hingga kehancuran itu datang tanpa bisa dipastikan kapan waktunya.

Setebal dan setipis apakah kesadaran spiritualitas ini pada setiap pelaku politik kita saat ini, jika pada kenyatannya seperti itu. Sebenarnya memiliki kesadaran spiritual membuat kita menjadi sangat kreatif dalam batasan untuk memainkan ‘permainan tanpa batas’, serta karakter positif. Tidak akan ada kedustaan, kecurangan, intimidasi, saling menghina dan mencaci, serta mengucapkan janji yang berlebihan yang sangat rawan untuk diingkari.

Kesadaran ini akan menjadikan hati kita menjadi sangat tajam dan memegang teguh moralitas, sebuah kemampuan yang sangat diperlukan untuk membaca berbagai fenomena sosial yang terus bergulir ditengah masyarakat, dan kemudian menyikapinya dalam tindakan yang tidak membodohi dan merugikan rakyat. Karena rakyat hanya membutuhkan pemimpin dan wakil yang sangat mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka serta memiliki komitmen yang tinggi pada mereka.

Aktif dalam bidang kepenulisan dan jurnalistik, anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) serta pendiri Rumah Baca Asah Asih Asuh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…