Senin, Januari 25, 2021

Menakar Generasi Berkemajuan Jawa Barat

Berharap Pemerintah Menunda Tahun Ajaran Baru

Begitu bunyi petisi online yang ramai sekali di Facebook beberapa hari ini. Postingan bantu menandatangani petisi ini beberapa kali muncul dari beberapa kawan ibu-ibu...

Agama dan Kemanusiaan: Mana Harus Didahulukan?

Ketika yang harus didahulukan adalah kemanusiaan daripada agama, maka sesungguhnya manusia telah menjadi diri seutuhnya. Seberapa besar kewajiban manusia untuk beragama sesungguhnya tergantung kepada...

Dilema Seniman dan Gerakan Sosial

Belum lewat ingatan kita tentang Ratna Sarumpaet, seorang seniman Teater yang cukup senior yang menjadi sorotan. Bukan karena karya monumental yang dipentaskan, namun karena...

Menilai 3 Tahun kerja Puan Maharani, Luar Biasa!

Semua penjelasan ini berdasarkan data, sebuah fakta, sebagai bagian dari membangun manusia dan kebudayaan Indonesia, yang telah dilakukan oleh Puan Maharani sebagai Kemenko PMK,...
Zulkifli Fajri Ramadan
Editor buku, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan dibangun atas dasar keterbukaan pikiran yang jernih dan kuat dalam rangka pencerahan (enlightment). KH. Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah begitu jeli membaca realitas zamannya. Ia tak seperti kebanyakan orang saat itu yang memusuhi secara total bangsa barat (Belanda), ia justru melihatnya dengan kaca mata berbeda: kemajuan ilmu pengetahuan barat mesti dipelajari, sedangkan segala bentuk penjajahan walaupun datang dari bangsa sendiri wajib diperangi.

Dengan paradigma seperti itu, Dahlan memcerminkan manusia yang bebas dan membebaskan. Pemikiran itu bermula ketika Dahlan pergi ke timur tengah untuk menjalankan ibadah Haji pada usia 15 tahun. Di sana ia belajar dengan beberapa guru agama hingga berkenalan dengan bermacam wacana islam kritis; seperti pemikiran Pan Islamisme dari Jamaludin Al-Afghani sebagai respon atas imprealisme barat, serta pemikiran kritis lain dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Sepulang dari ibadah Haji, Dahlan menyadari bahwa tempat tinggalnya di Kauman Yogyakarta diselimuti kabut pekat kejumudan. Kejumudan yang dipandang oleh Dahlan saat itu membuat masyarakat lokal terlelap dari realita imprealisme. Lantas ia secara tidak lagsung meramu suatu formula untuk dijadikan gerakan tanding demi keterbukaan pikiran, agar masyarakat bangkit dan menyadari bahwa fisik maupun mentalnya tengah ditindas secara sistemik.

Sebelum mendirikan Muhammadiyah dan bergaul dengan Sarekat Islam (SI), Dahlan secara intens bergaul dengan Boedi Oetomo yang berlatar belakang pendidikan modern ala barat. Hingga pada suatu saat gerakan Boedi Oetomo memicu Dahlan untuk melakukan terobosan besar, demi menciptakan gerakan “Islam berkemajuan.” sebuah ungkapan populer di Muhammadiyah. Boedi Oetomo juga membatu kelahiran organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912.

Tak sebatas mengandalkan keterbukaan pikiran; Dahlan pun melakukan gerakan praksis matang berlandaskan surat Al-Ma’un. Dengan teologi Al-Maun, Dahlan mampu membangun trisula Muhammadiyah, diantaranya Healing yang ditandai dengan berdirinya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) seperti rumah sakit; Schooling yang dicirikan dengan berdirinya sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan ala barat; serta Feeding dengan mendirikan beberapa panti asuhan dan beberapa panti jompo.

Generasi Intelektual?

Tepat pada tanggal 18 nopember lalu, Muhammadiyah berusia 105 tahun. Umur itu bisa dilihat dari dua pandangan kritis: kemajuan dan kemunduran. Muhammadiyah boleh berbangga diri sebab mampu membuktikan gerakan Islam berkemajuannya dengan bukti amal usaha seperti berdirinya banyak sekolah hingga perguruan tinggi, panti asuhan, dan rumah sakit. Namun, apakah dalam gerakan pemikiran atau intelektualisme generasi Muhammadiyah saat ini, khususnya di Jawa Barat, angkatan muda Muhamadiyah (AMM) bisa dikategorikan berkemajuan?

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk tinggi serta wilayahnya yang luas, merupakan garapan dakwah strategis bagi generasi berkemajuan. Namun, sangat disayangkan jika mereka tidak peka membaca—meminjam istilah Moeslim Abdurrahman—dosa-dosa sosial disekitarnya seperti kemiskinan, pencemaran lingkungan, terorisme dan pelecehan terhadap perempuan.

Seperti yang dipaparkan di muka, dan senada dengan telaah Nurcholis Madjid, Dahlan adalah sosok pencari kebenaran hakiki, yang mampu menangkap pesan Al-Qur’an dan melakukan kontekstualisasi dengan perkembangan zaman. Dari sana patut disadari bahwa pihak yang semestinya melanjutkan misi Dahlan itu ialah AMM sendiri sebagai embrio organisasi.

Namun sepertinya AMM di Jawa Barat saat ini, jika disandingkan dengan ruh perjuangan zaman Dahlan, masih sangat jauh dari yang diharapkan. Bagaimana tidak, secara artefak intelektual, generasi berkemajuan Jawa Barat sangat sedikit membuahkan tulisan-tulisan, yang mana kegiatan tulis-menulis merupakan salah satu cara untuk menyuarakan ketidak-adilan di muka bumi. Juga secara gerakan praksis mereka kurang terlihat, entah itu ketika melakukan advokasi mayarakat yang tertindas, atau ketika menciptakan ruang diskursus kritis dan amal usaha kreatif.

Menyikapi Muhammadiyah saat ini, menurut Ahmad Syafii Maarif (2010: 135) untuk menghadapi abad ke-2 pelaksanaan misinya, juga agar diperhitungkan oleh kalangan elit terdidik metropolitan, pusat-pusat pendidikan tinggi Muhammadiyah mesti mampu menciptakan barisan intelektual yang disegani karena karya-karya dan buah pemikirannya yang kaya, menantang dan orisinil. Untuk melangkah ke jurusan ini, kultur keragaman harus difahami dan ditempatkan secara benar dengan menenggang perbedaan-perbedaan pendapat sebagai akibat logis dari sebuah gerakan intelektual.

Dengan daya intelektual yang mempuni, praksis sosial dapat berjalan berlandaskan nilai filosofi tinggi. Namun, jika intelektualisme tidak diasah dengan benar, maka gerakan pragmatis-politis niscaya menghinggapi generasi berkemajuan, yang jika memang ingin mendapatkan julukan “berkemajuan” ia mesti bercermin terlebih dahulu sebab jauh dari spirit muda Ahmad Dahlan.

Namun, ketika merenungkan kembali apa yang dipaparkan oleh Buya Syafii Maarif di muka, generasi Muhammadiyah Jawa Barat masih memiliki harapan cukup besar. Pasalnya, di tanah Parahyangan ini tak sedikit perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) yang berdiri dan menampung banyak mahasiswa. Di sana, para generasi berkemajuan berkesempatan membuka ruang diskurus secara intensif. Ruang itu dibangun dalam rangka memperkuat daya intelektualitas juga demi merumuskan praksis gerakan sosial penjawab isu-isu kontemporer.

Maka, untuk menyelamatkan masa depan Muhammadiyah Jawa Barat, AMM mesti melakukan perubahan-perubahan fundamental mulai dari nalar kritis hingga praksis gerakan sosial. Sehingga generasi berkemajuan Jawa Barat mampu bergerak atas dasar kemanusiaan yang murni, bukan atas dasar golongan politik dan pemodal tertentu, atau bahkan atas dasar perbedaan dengan the other. Mereka mesti kembali membuka diri, membaca bermacam literatur barat-timur, klasik-modern, insider-outsider atau muslim-nomuslim dalam rangka menerjemahkan pesan-pesan Tuhan yang bersifat transformatif.

Zulkifli Fajri Ramadan
Editor buku, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.