OUR NETWORK

Memupuk Peradaban Milenial

Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah pengguna Facebook terbanyak di dunia yakni 140 juta pengguna, setelah India (270 juta) dan AS (240 juta)

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bermedia sosial sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, bahkan kebiasaan yang tak bisa dilepaskan. Pasalnya, media sosial memang lekat dengan masyarakat kita, terutama generasi zaman nowatau milenial yang sedikit-sedikit diunggah di medsos.

Hal ini diperkuat dengan data yang dirilis Hootsuite (per April 2018) bahwa Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah pengguna Facebook terbanyak di dunia yakni 140 juta pengguna, setelah India (270 juta) dan AS (240 juta). Itu baru Facebook. Untuk media sosial Instagram Indonesia menempati posisi keempat dengan jumlah pengguna mencapai 56 juta, setelah AS (120 juta), Brazil (61 juta), dan India (59 juta).

Apakah ini merupakan peluang atau justru ancaman? Memang, tak bisa dimungkiri perilaku bermedsos masyarakat kita begitu beraneka ragam, terkadang ada juga yang aneh-aneh. Ada yang norak, narsis, ada juga yang biasa-biasa saja.

Selain itu, medsos juga kerap digunakan untuk kegiatan ekonomi, seperti membuka online shop, reseller produk online, grup jual-beli produk tertentu, dll. Dan tentu saja, medsos juga menjadi wahana liar bagi berkembangnya berbagai wacana perkembangan politik.

Ini artinya peradaban kita mengalami disrupsi yang membuat adanya pergeseran aktivitas manusia yang semula di dunia nyata, kini dilakukan di dunia digital atau dunia maya. Pertanyaan pun kembali berulang, apakah ini peluang atau justru menjadi ancaman bagi kita?

Sejatinya, peradaban manusia senantiasa mengalami kemajuan jika dilihat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu selama manusia hidup dalam ruang dan waktu yang terus melaju. Medsos menjadi wahana sebagian besar masyarakat untuk menuangkan banyak hal. Bisa jadi untuk kebaikan. Bisa pula untuk keburukan. Medsos hanya medium, baik-buruknya bergantung kepada niat si pengguna.

Kemarin, Kamis (23/5), penulis berkesempatan mengisi pelatihan “Menulis di Medsos: Menebar Kebaikan di Media Sosial” bersama mahasiswa penerima beasiswa Baznas. Acara yang diselenggarakan Baznas Uhamka tersebut, bertujuan untuk melatih para mahasiswa penerima beasiswa agar bias terampil membuat konten positif dan menarik untuk diunggah di medsosnya masing-masing. Dengan begitu para mahasiswa bisa mengambil peran dalam perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat itu.

Konten positif di media sosial memang sangat dibutuhkan. Hal ini mengingat maraknya hoaks dan informasi provokatif yang bisa kita temui di beranda Facebook, Twitter, maupun Istagram kita. Informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu dengan mudah dikonsumsi para pengguna medsos. Tak sedikit juga yang kemudian percaya dan termakan oleh info-info menyesatkan semacam itu.

Sebab itulah, sebagai generasi milenial yang memiliki kesadaran, kita mesti memupuk peradaban digital kita dengan berbagai konten positif. Misalnya dengan mengunggah tulisan-tulisan atau caption foto yang edukatif, inspiratif, dan bisa membangkitkan nalar berpikir para netizen ketika membacanya.

Tentu, tantangan berikutnya adalah bagaimana kita bisa membuat masyarakat kita lebih melek terhadap literasi media dan informasi. Jika peradaban digital sudah disesaki oleh konten-konten negatif, informasi simpang siur, dan hoaks, apa yang bisa kita lakukan?

Kemampuan literasi media dan informasi di era digital merupakan hal yang penting dimiliki oleh masyarakat yang sehari-hari menikmati sajian informasi yang serbacepat. Sebab, di era yang kemudian disebut post-truth ini, informasi yang belum tentu kebenarannya bisa menyebar dengan mudah. Dan ingat, kebohongan yang terus menerus diproduksi dan dikonsumsi secara masif bisa dipercaya sebagai suatu kebenaran.

Untuk mencegah berbagai hal buruk dan tak diinginkan itu terjadi, kitalah yang mesti membangun kepedulian di tengah masyarakat. Di antaranya bisa dengan menjadi the good netizen yang melakukan cek dan ricek terhadap informasi yang didapatkan sebelum dibagikan dan menjadi content creator yang aktif membuat konten-konten positif di berbagai platform digital termasuk media sosial. Sehingga peradaban kita akan tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi. Wallahu’alam.

Sekretaris DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Gemar menulis esai dan puisi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…