Jumat, Desember 4, 2020

Mempertanyakan Nasib Sastra Kita

Wajah dakwah di media sosial

Di era media sosial sekarang ini, rasanya tak perlu susah payah pergi ke seorang ustadz atau guru untuk belajar ilmu agama. Barangkali juga bukan...

Perempuan dalam Belenggu Bahasa

Seperti yang telah kita semua ketahui, bahasa ialah instrumen penting dalam berkomunikasi. Bahasa juga merupakan bagian atau unsur dari sebuah kebudayaan. Bisa dibilang, bahasa...

Tikungan Berbahasa Indonesia

Kehadiran Muhadjir Effendy di Solo hari-hari lalu merupa bahasa. Sambutannya pada acara formil bertajuk Semiloka dan Deklarasi Penggunaan Bahasa Negara yang digelar di Auditorium Universitas...

Dibalik Curhat Soal Ujian Nasional

Sulitnya soal Matematika pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 tingkat SMA banyak dikeluhkan para peserta. Mereka curhat di IG @kemdikbudri, dan @pustektekkom_kemdikbud. Hingga...
Abul Muamar
Jurnalis. Pemerhati gerak-gerik binatang.

Beberapa waktu silam, Sukmawati Soekarnoputri “berhasil” membuat Indonesia ribut. Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakannya dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” pada 29 Maret 2018 lalu, yang dalam lariknya membandingkan sari konde dengan cadar serta suara kidung dengan adzan, menuai respons luas dari masyarakat Indonesia.

Ada yang menilai puisi itu sebagai manuver politik jelang kontestasi Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, ada yang menganggapnya sebagai puisi gagal dan tak perlu diperdebatkan panjang lebar, serta ada yang memaknainya sebagai bentuk penistaan terhadap agama.

Kita tahu, kelompok yang disebutkan terakhir ini paling dominan. Puncaknya, meski Sukmawati telah meminta maaf, sebagian yang termasuk kelompok ketiga ini, tetap melaporkannya ke polisi, yang mana saat ini kasusnya masih sedang ditangani oleh Bareskrim Polri.

Lepas dari kontroversi yang lahir akibat puisi Sukmawati itu, ada satu hal menarik yang patut kita perhatikan, yakni bagaimana orang-orang, rakyat Indonesia yang sebagian besar masih berjibaku untuk menjaga asap dapurnya tetap mengepul, mendadak ramai berpuisi. Rupa-rupanya, Tuhan punya cara “unik” untuk menghidupkan (kembali) sastra, khususnya puisi, di Indonesia.

Rupa-rupanya, kita tidak butuh sosok seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, W.S. Rendra, atau Wiji Thukul. Bukan pula Sapardi Joko Damono, Joko Pinurbo, atau Goenawan Mohamad. Apalagi cuma Rangga-Cinta, Fadli Zon, Jenderal Gatot, atau Denny JA. Melainkan, Ia mengutus Sukmawati untuk kita! Ya, Sukmawati-lah ternyata yang mampu membuat puisi seakan bangkit dari kubur.

Lihatlah, betapa sengatan yang dihasilkan oleh puisi Sukmawati itu, jauh melampaui gelora berpuisi yang pernah sempat terjadi di era AADC1 dan AADC2. Jauh sekali bahkan. Jika di era AADC hanya kawula muda yang berlagak jadi pujangga, sekarang, berkat putri Bung Karno itu, bahkan ibu rumah tangga dan rentenir pun, ikut menulis puisi. Mereka yang sebagian besar biasanya tak pernah berpuisi, malah akrab dengan bacaan sastra pun tidak, tiba-tiba jago berpuisi!

Syahdan, pertanyaan yang muncul adalah, apakah puisi (dan lebih jauh sastra Indonesia secara menyeluruh) akan terus digemari? Pertanyaan ini membuat kita harap-harap cemas.

Minat terhadap Sastra Cenderung Rendah

Sebelum pertanyaan itu kita jawab, mungkin kita bisa melihat terlebih dulu realitas minat rakyat Indonesia kepada sastra. Tanpa perlu mengacu pada data-data ilmiah, kita tetap bisa mendapatkan gambarannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar kita.

Di lingkungan keluarga, misalnya. Apakah saudara-saudara Anda, adik, kakak, orangtua, atau anak Anda, gemar dan rutin membaca karya sastra, entah itu puisi atau prosa?

Lalu, di lingkungan sosial yang lebih luas, apakah teman-teman Anda, tetangga Anda, pacar Anda, bos Anda, anak buah Anda, teman sekantor Anda, mau membaca sastra? Sukakah mereka? Seberapa sering mereka membacanya?

Bahkan, jika melihat realitas yang ada saat ini, pertanyaan serupa juga bisa diterapkan di lingkungan akademik, baik sekolah maupun di perguruan tinggi. Apakah teman-teman sekelas Anda, teman organisasi Anda, mahasiswa Anda, atau dosen Anda, akrab dengan sastra? Berapa persen dari mereka yang akrab?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak ingin saya jawab sendiri. Saya serahkan kepada Anda masing-masing untuk menjawabnya.

Namun, jika saya harus menjawabnya berdasarkan lingkungan dan kehidupan saya, saya berani katakan, bahwa minat pada bacaan sastra masih sangat rendah. Dari sekian banyak indikator yang saya punya, saya hanya akan mengajukan satu saja: lima teman satu indekos saya (semuanya berstatus mahasiswa, dan salah satunya ada yang mahasiswa magister di salah satu universitas negeri ternama di Yogyakarta) mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya ketika saya menyebut (sekadar) nama Pramoedya Ananta Toer dan Danarto yang baru-baru ini berpulang kepada Sang Pencipta.

Saya lantas bertanya kepada mereka, “Tidak pernah baca sastra, ya?”. Tidak pernah sama sekali, jawab mereka dengan mantap. Anda kira saya mengarang? Tidak. Anda saya persilakan datang ke indekos saya di Jalan Sumatera Nomor E106, Keluruhan Sinduadi, Kecamatan Mlati, Sleman, D.I.Y, untuk mengecek kebenaran cerita saya ini.

Dari lima teman tersebut, serta beberapa orang lainnya yang saya kenal dengan baik, saya mendapati bahwa sastra, baik itu sastra daerah, sastra Indonesia, maupun sastra asing, ternyata masih kerap dianggap sebagai sesuatu yang asing dan sulit dipahami. Celakanya, alih-alih berusaha mempelajarinya, kebanyakan mereka justru menjauhinya. Alasan mereka bermacam-macam, namun yang terkonyol menurut saya adalah: “Itu kan bukan jurusan saya”.

Semakin Dijauhi atau Semakin Disukai?

Kembali ke riuh rendah perpuisian yang disebabkan oleh Sukmawati. Apakah setelah insiden itu, jika merujuk pada kondisi rakyat kita saat ini, sastra akan semakin disukai, dan karena itu orang-orang akan berbondong-bondong mempelajarinya supaya bisa menghasilkan puisi (dan cerpen dan novel dan sebagainya) yang lebih bagus?

Atau, apakah justru sastra akan semakin dibenci dan dijauhi? Kemungkinan ini tidak tertutup jika melihat apa yang melatari mereka yang mendadak berpuisi itu, mereka-mereka yang berpuisi hanya sekadar untuk membalas puisi Sukmawati, dengan amarah yang menggebu-gebu.

Semoga saja tidak demikian. Semoga saja, amarah kepada Sukmawati tidak merembes pada sastra, kepada puisi, dan lainnya. Sebaliknya, semoga saja, dari momen itu, ke depannya rakyat kita akan bersuka cita menggelorakan sastra Indonesia, menjadikannya berjaya dan diakui di mata dunia.

Namun, tentunya, harapan itu tidak bisa semata-mata kita gantungkan pada rakyat “secara pasif”. Dengan kata lain, para pelaku/pegiat sastra, perlu menjadi stimulus agar sastra tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang aneh, tidak berguna, sulit dipahami, dan eksklusif. Sifat yang disebutkan terakhir ini menjadi tantangan tersendiri. Sebab, selama ini, ada kecenderungan dari para pelaku/pegiat sastra membuat sastra seolah eksklusif, sehingga menjadi berjarak dengan “masyarakat awam”.

Guru-guru di sekolah, serta dosen di kampus, juga sepatutnya mengajak murid-murid mereka agar mau dan membiasakan diri membaca sastra, di samping buku-buku dan bahan ajar yang mereka bagikan saban semester. Agar apa? Agar kelak, ketika mereka sudah tamat sekolah atau kuliah, mereka tidak kasip malas membaca sastra.

Abul Muamar
Jurnalis. Pemerhati gerak-gerik binatang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.