Sabtu, Januari 16, 2021

Mempekenalkan Media Non-Arusutama Kiri di Amerika Serikat

Kartu Kuning Mahasiswa dan Kuatnya Figur Jokowi

Aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) Zaadit Taqwa yang berani atau nekat mengacungkan “kartu kuning” terhadap Jokowi beberapa hari kemarin ramai diperbincangkan...

2045 : Harga Murah Politik Kekuasaan

Politik perebutan kekuasaan kini tambah diminati. Ada sebagian dari mereka, yang telah mengalir darah politik dari orang tua hingga leluhurnya. Ada pula sebagian dari...

Gus Yaqut Menteri Agama Baru Pilihan Jokowi

Presiden Republik Indonesia Ir. H Joko Widodo telah resmi mengumumkan enam orang calon menteri baru yang akan bergabung pada kabinet Indonesia Maju. Salah satu...

Memetik Makna Dari Fenomena Pesawat R-80

Dunia perteknologian Indonesia sedang ramai dengan rencana pengembangan prototype pesawat R-80. Terlebih lagi, pengembangan pesawat jarak menengah ini sudah masuk dalam deretan usulan Proyek...
Reza Hikam
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)

Saat mendengar nama Amerika Serikat, yang terlintas dibenak kita adalah imperialisme, kapitalisme, neoliberalisme, konservatisme dan berbagai pemikiran Sayap-Kanan lainnya yang menjadi pondasi beridirinya negara adidaya tersebut.

Kehidupan sosial-politiknya pun didirikan atas dasar ideologi diatas, dalam pemilu, dua partai besar yang berkontestasi: Partai Demokrat dan Partai Republik dekat dengan pemikiran Sayap-Kanan. Intelektual asal Amerika pun yang akan kita dengar adalah mereka yang menganut azas neoliberalisme, liberalisme, atau kapitalisme, seperti John Dewey, Francis Fukuyama, Friederich Hayek dan Milton Friedman.

Amerika telah dianggap sebagai mercusuar bagi perkembangan pemikiran kanan yang sangat bebas, sehingga seringkali ketika kita mempelajari tentang pemikiran ekonomi, sosial dan politik maka akan menemukan nama-nama ilmuan asal Amerika. Jarang sekali kita menemukan pemikir Amerika yang berhalauan Kiri.

Benarkah?

Setelah melihat beberapa website yang berkembang di AS, ada beberapa diantaranya yang sangat kritis terhadap kebijakan luar maupun dalam negeri AS. Media terkait ialah Monthly Review, CounterPunch dan Jacobin. Ketiga website ini kerap mempromosikan pemikiran kiri yang memiliki karakteristik berbeda-beda jika dilihat dari gaya kepenulisannya.

Monthly Review, majalah sosialis asal AS ini memiliki reputasi sebagai produsen jurnal dan penerbit independen yang terkenal kiri sekali. Beberapa penulisnya juga berasal dari kelompok Marxis Ortodoks seperti Samir Amin, Andre Gunder Frank, Leo Huberman, Paul Sweezy, Paul Baran, dan Rosa Luxemburg. Tidak hanya kelompok Ortodoks, para environmentalis seperti John Bellamy Foster, Paul Burkett dan Fred Magdoff juga menulis di website ini. Adapun penulis dari Indonesia bernama Intan Suwandi.

Buku-buku terbitan monthly review termasuk yang paling tajam dalam mengulas ekonomi dan politik di Amerika dan mancanegara. Salah satunya adalah Monopoly Capital karya Paul Sweezy dan Paul Baran, yang dalam pembukaannya menyebutkan tentang Indonesia. Selain itu, artikel-artikel yang dimuat selalu bernuansa ekonomi-politik, ideologi, teori ketergantungan, dan lingkungan.

Disisi lain, ada website bernama CounterPunch yang memiliki gaya layaknya jurnalisme investigatif. Media ini tidak pernah memihak kepada salah satu partai di Amerika, namun sering menghantam Partai Republik yang dianggap sebagai kiblat kelompok konservatif. Penulisannya juga sangat blak-blakan bahkan menunjukkan nama-nama yang sensitif. Beberapa penulisnya memang memiliki latarbelakang jurnalis seperti Allan Nairn, Jeffrey St. Clair dan Alexander Cockburn.

CounterPunch jarang menerbitkan buku dan lebih sering menerbitkan majalah. Judul-judul baik majalah maupun bukunya pun bisa terbilang sangat blak-blakan. Tidak jarang nama pejabat mewarnai judul artikel, majalah dan bukunya. Nama yang muncul pun memiliki konotasi negatif dalam media ini. Beberapa tulisan dari Allan Nairn tentang kekerasan yang dilakukan aparat Indonesia juga muncul dalam media satu ini.

Yang terakhir adalah Jacobin, bisa dibilang paling milenial diantara ketiganya. Jacobin mempromosikan tulisan tentang marxisme dan sosialisme dengan permasalahan kontemporer yang sedang dihadapi di era milenial. Jacobin juga memiliki desain yang paling menarik dan cocok untuk para pemuda. Beberapa penulisnya pun bukan sepenuhnya teoritisi atau akademisi, namun aktivis seperti China Melville, Eric Blanc, Melissa Gira Grant, Noam Chomsky (juga menulis di CounterPunch, biasanya dalam bentuk wawancara) dan Alexandra Kollontai.

Untuk penerbitan, Jacobin memiliki sebuah jurnal dengan nama yang sama dengan bentuk seperti majalah. Buku yang mereka terbitkan bekerjasama dengan Verso dari Inggris. Sehingga Jacobin memiliki seri khusus dalam Penerbit Verso. Buku-bukunya pun mengulas marxisme dengan gaya yang tetap milenial. Salah satu buku menarik ialah mengenai prostitusi yang ditulis oleh Melissa Gira Grant berjudul Playing The Whore. Buku ini mengungkap kekerasan yang didapati oleh pekerja seks dan diskriminasi yang mereka dapatkan.

Ketiga website ini menjadi mercusuar pemikiran kiri di Amerika Serikat, jurnal seperti IndoProgress dari Indonesia dapat dikategorikan dengan gaya penulisan yang sama dengan ketiga media di atas. Namun perkembangan media semacam ini tidak terlalu masif karena ketidaktertarikan khalayak umum terhadap teori kiri dan trauma sejarah akan PKI yang terus diproduksi secara masif oleh pemerintah.

Adapun pemikiran yang tertulis dalam ketiga media tersebut bisa dibilang sangat terbuka untuk masyarakat yang masih konservatif seperti Indonesia. Akan muncul stigma negatif apabila media kiri di Indonesia mencontoh sepenuhnya gaya kepenulisan mereka.

Reza Hikam
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.