OUR NETWORK

Mempekenalkan Media Non-Arusutama Kiri di Amerika Serikat

Saat mendengar nama Amerika Serikat, yang terlintas dibenak kita adalah imperialisme, kapitalisme, neoliberalisme, konservatisme dan berbagai pemikiran Sayap-Kanan lainnya yang menjadi pondasi beridirinya negara adidaya tersebut.

Kehidupan sosial-politiknya pun didirikan atas dasar ideologi diatas, dalam pemilu, dua partai besar yang berkontestasi: Partai Demokrat dan Partai Republik dekat dengan pemikiran Sayap-Kanan. Intelektual asal Amerika pun yang akan kita dengar adalah mereka yang menganut azas neoliberalisme, liberalisme, atau kapitalisme, seperti John Dewey, Francis Fukuyama, Friederich Hayek dan Milton Friedman.

Amerika telah dianggap sebagai mercusuar bagi perkembangan pemikiran kanan yang sangat bebas, sehingga seringkali ketika kita mempelajari tentang pemikiran ekonomi, sosial dan politik maka akan menemukan nama-nama ilmuan asal Amerika. Jarang sekali kita menemukan pemikir Amerika yang berhalauan Kiri.

Benarkah?

Setelah melihat beberapa website yang berkembang di AS, ada beberapa diantaranya yang sangat kritis terhadap kebijakan luar maupun dalam negeri AS. Media terkait ialah Monthly Review, CounterPunch dan Jacobin. Ketiga website ini kerap mempromosikan pemikiran kiri yang memiliki karakteristik berbeda-beda jika dilihat dari gaya kepenulisannya.

Monthly Review, majalah sosialis asal AS ini memiliki reputasi sebagai produsen jurnal dan penerbit independen yang terkenal kiri sekali. Beberapa penulisnya juga berasal dari kelompok Marxis Ortodoks seperti Samir Amin, Andre Gunder Frank, Leo Huberman, Paul Sweezy, Paul Baran, dan Rosa Luxemburg. Tidak hanya kelompok Ortodoks, para environmentalis seperti John Bellamy Foster, Paul Burkett dan Fred Magdoff juga menulis di website ini. Adapun penulis dari Indonesia bernama Intan Suwandi.

Buku-buku terbitan monthly review termasuk yang paling tajam dalam mengulas ekonomi dan politik di Amerika dan mancanegara. Salah satunya adalah Monopoly Capital karya Paul Sweezy dan Paul Baran, yang dalam pembukaannya menyebutkan tentang Indonesia. Selain itu, artikel-artikel yang dimuat selalu bernuansa ekonomi-politik, ideologi, teori ketergantungan, dan lingkungan.

Disisi lain, ada website bernama CounterPunch yang memiliki gaya layaknya jurnalisme investigatif. Media ini tidak pernah memihak kepada salah satu partai di Amerika, namun sering menghantam Partai Republik yang dianggap sebagai kiblat kelompok konservatif. Penulisannya juga sangat blak-blakan bahkan menunjukkan nama-nama yang sensitif. Beberapa penulisnya memang memiliki latarbelakang jurnalis seperti Allan Nairn, Jeffrey St. Clair dan Alexander Cockburn.

CounterPunch jarang menerbitkan buku dan lebih sering menerbitkan majalah. Judul-judul baik majalah maupun bukunya pun bisa terbilang sangat blak-blakan. Tidak jarang nama pejabat mewarnai judul artikel, majalah dan bukunya. Nama yang muncul pun memiliki konotasi negatif dalam media ini. Beberapa tulisan dari Allan Nairn tentang kekerasan yang dilakukan aparat Indonesia juga muncul dalam media satu ini.

Yang terakhir adalah Jacobin, bisa dibilang paling milenial diantara ketiganya. Jacobin mempromosikan tulisan tentang marxisme dan sosialisme dengan permasalahan kontemporer yang sedang dihadapi di era milenial. Jacobin juga memiliki desain yang paling menarik dan cocok untuk para pemuda. Beberapa penulisnya pun bukan sepenuhnya teoritisi atau akademisi, namun aktivis seperti China Melville, Eric Blanc, Melissa Gira Grant, Noam Chomsky (juga menulis di CounterPunch, biasanya dalam bentuk wawancara) dan Alexandra Kollontai.

Untuk penerbitan, Jacobin memiliki sebuah jurnal dengan nama yang sama dengan bentuk seperti majalah. Buku yang mereka terbitkan bekerjasama dengan Verso dari Inggris. Sehingga Jacobin memiliki seri khusus dalam Penerbit Verso. Buku-bukunya pun mengulas marxisme dengan gaya yang tetap milenial. Salah satu buku menarik ialah mengenai prostitusi yang ditulis oleh Melissa Gira Grant berjudul Playing The Whore. Buku ini mengungkap kekerasan yang didapati oleh pekerja seks dan diskriminasi yang mereka dapatkan.

Ketiga website ini menjadi mercusuar pemikiran kiri di Amerika Serikat, jurnal seperti IndoProgress dari Indonesia dapat dikategorikan dengan gaya penulisan yang sama dengan ketiga media di atas. Namun perkembangan media semacam ini tidak terlalu masif karena ketidaktertarikan khalayak umum terhadap teori kiri dan trauma sejarah akan PKI yang terus diproduksi secara masif oleh pemerintah.

Adapun pemikiran yang tertulis dalam ketiga media tersebut bisa dibilang sangat terbuka untuk masyarakat yang masih konservatif seperti Indonesia. Akan muncul stigma negatif apabila media kiri di Indonesia mencontoh sepenuhnya gaya kepenulisan mereka.

Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga, Aktif di Berpijar.co dan Center for Extresmism, Radicalism, and Security Studies (C-ERSS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.