OUR NETWORK

Memori Hijrah dan Gerakan Perubahan

Hijrah mengandung makna bergerak dan berubah. Pergerakan dan perubahan tak lepas dari ruang dan waktu.

Allah SWT menciptakan manusia, dan menyediakan untuknya semua fasilitas yang dibutuhkan. Kita butuh tempat berpijak, telah disediakan bumi; butuh keleluasaan, telah tersedia udara dan ruang angkasa yang tak terukur luasnya; butuh pasangan, telah disediakan perempuan untuk laki-laki dan laki-laki untuk perempuan; butuh interaksi dinamis, diciptakanlah komunitas-komunitas suku-bangsa dengan beragam corak dan warna. Singkatnya, semua yang manusia butuhkan Allah sediakan.

Dengan fasilitas yang Allah sediakan, tiap manusia bisa mengembangkan potensi dirinya menuju pencapaian maksimal sebagai makhluk unggulan di antara semua ciptaan-Nya. Karena itulah kemudian tumbuh dinamika. Manusia bergerak dan membuat perubahan.

Memori Hijrah

Hijrah memiliki peran dan arti penting bagi sejarah perkembangan Islam. Mulai dari hijrah Nabi Muhammad Saw bersama dan diikuti pengikutnya dari Makkah ke Madinah—sebelumnya bernama Yatsrib—pada sekitar tahun 622 M, Islam bergerak dari semula hanya direspons beberapa pengikut individual menjadi ajaran yang melahirkan komunitas sosial: ummah.

Lebih satu dasawarsa, Nabi Saw mendakwahkan Islam kepada masyarakatnya di Makkah. Ada beberapa yang menyambutnya. Namun banyak yang mencibir, mencemooh, dan menentangnya. Makin hari penentangan makin menjadi-jadi. Penistaan terhadapnya dan penyiksaan terhadap pengikutnya seakan menjadi menu harian. Makkah kala itu tak kondusif untuk pemekaran Islam.

Nabi Saw segera bertindak. Didahului kontak dengan beberapa orang delegasi dari Yatsrib yang mengunjungi Makkah dan mengundangnya untuk pindah ke Yatsrib, pergerakan hijrah dimulai. Setelah Nabi Saw dan sahabat terdekatnya Abu Bakar berhasil meninggalkan Makkah dan selamat sampai ke Yatsrib, lalu beberapa pengikutnya pun menyusul. Mereka meninggalkan rumah dan harta benda, bahkan ada yang terpaksa putus hubungan dengan anggota keluarga.

Dikaitkan dengan pewahyuan al-Quran, peristiwa hijrah menandai pergeseran konteks tematik firman-firman Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi-Nya. Umumnya, teks-teks firman dalam Kitab Suci ini diklasifikasikan oleh para mufasir ke dalam dua kategori: Makkiyah dan Madaniyah. Ayat-ayat Makkiyah merujuk pada firman yang turun di Makkah—yakni sebelum peristiwa hijrah, dan ayat-ayat Madaniyah menunjuk pada firman yang diturunkan di Madinah atau paskahijrah.

Muhammad Abid al-Jabiri—lahir di Maroko pada 1936—misalnya, mencatat pergeseran konteks tematik dari ayat-ayat Makkiyah yang lebih menekankan pada unsur akidah dan akhlak. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah lebih banyak membicarakan masalah hukum dan penerapannya dalam bernegara.

Bisa dipahami bahwa peristiwa hijrah menjadi semacam jembatan perubahan dari dakwah Islam periode Makkah yang hanya menjangkau individu-individu kepada dakwah sistematis melalui strategi pembangunan komunitas sosial di Madinah. Islam dan komunitas Muslim pascahijrah bergerak lebih dinamis hingga pada masanya kemudian mencapai puncak kegemilangan.

Hijrah sebagai Pergerakan

Hijrah mengandung makna bergerak dan berubah. Pergerakan dan perubahan tak lepas dari ruang dan waktu. Kita bergerak dari suatu ruang ke ruang lain dalam rentang waktu tertentu. Memori hijrah mendeskripsikan pindah ruang. Sedangkan pergerakan hijrah melintas ruang dan waktu.

Hijrah Nabi Saw dari Makkah ke Madinah bisa kita pahami sebagai bagian dari strategi dakwah setelah strategi-strategi sebelumnya tidak membuahkan hasil maksimal. Sejarah mencatat dakwah tertutup dan dakwah terbuka dijalankan Nabi Saw di Makkah, mulai dari keluarga terdekat hingga ke khalayak selama lebih-kurang dua belas tahun. Alhasil, perkembangan Islam begitu lambat, dan pengikutnya tetap berada dalam posisi marginal.

Karena itu, hijrah menjadi keniscayaan sebagai bagian dari strategi pergerakan Islam. Maka setelah hijrah, terbentuklah komunitas Muslim yang terdiri atas Muhajirin dan Anshar. Muhajirin menunjuk pada kaum Muslim yang berhijrah dari Makkah, dan Anshar adalah penduduk Madinah yang menyambut mereka laiknya saudara.

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar merupakan persaudaraan iman yang jauh lebih kuat dari persaudaraan manapun. Identitas kesukuan bisa saja melekat pada masing-masing dari mereka, tetapi persaudaraan di antara mereka tegak di atas fondasi keimanan. Muhajirin merupakan pendatang dan Anshar adalah pribumi, namun mereka sama-sama bergerak untuk saling menguatkan.

Hijrah mewujudkan persaudaraan iman mengatasi sekat-sekat kesukuan, ras, dan antargolongan. Dinyatakan dalam QS al-Anfâl (8) ayat 72, Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka serta orang-orang yang memberikan tempat tinggal dan pertolongan, mereka itu satu sama lain saling melindungi…

Seturut dengan ayat tersebut, Nabi Saw menyatakan—diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Musa—bahwa seorang mukmin bagi mukmin (lainnya) seperti bangunan, satu dengan lainnya saling menguatkan.

Gerak dan Perubahan

Hidup berarti bergerak. Dalam gerak ada dinamika, lalu tercipta perubahan. Terkait perubahan, QS al-Ra‘d (13) ayat 11 menegaskan, Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan pada suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan pada diri mereka. Mengisyaratkan bahwa manusia diberi keleluasaan untuk membuat perubahan pada diri dan lingkungannya. Kemudian Allah Swt akan merespons setiap upaya manusia dengan kehendak dan kuasa-Nya.

Seorang karyawan bekerja untuk membuat perubahan bagi perusahaannya maupun dirinya. Guru mengajar untuk menfasilitasi murid-muridnya membuat perubahan. Aktivis berorganisasi untuk menciptakan perubahan dalam ruang lingkup aktivitasnya. Presiden dan semua aparatur negara menjalankan roda pemerintahan untuk mengatur dan mendorong terjadinya perubahan.

Mobilitas kerja karyawan menentukan laju berkembangnya perusahaan serta bidang usaha yang dijalankannya. Mobilitas para guru, aktivis, presiden serta aparatur negara menentukan tingkat perubahan pada ruang dan lingkupnya masing-masing.

Begitupun dalam konteks beragama. Mobilitas umat dalam menghayati dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya menentukan kadar perubahan dan perkembangan dalam kehidupan beragama. Mustahil akan tercipta perubahan tanpa pergerakan.

Sekarang kita hidup di era dunia tanpa batas (borderless world era). Apa yang terjadi di berbagai belahan dunia bisa kita ketahui pada detik peristiwa terjadi. Jika hijrah secara historis merujuk pada perpindahan ruang, dalam konteks kekinian pemaknaannya mesti diletakkan dalam kerangka operasional, yaitu menggerakkan seluruh aspek dan potensi etik agama (Islam) untuk membuat pelbagai perubahan: dari sesuatu yang negatif menjadi positif, dan dari yang positif menjadi efektif. Wallâhu a‘lam.

Editor dan penulis lepas | Menjelajah dunia kata | Merangkai kalimat | Menemukan dan menyuguhkan mutiara makna

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…