Senin, April 12, 2021

Memilih Tayangan Ramah Anak

Sampai Kapan Lenyap dari Perhatian Publik?

Problematika tentang hak hidup, perebutan ruang, dan isu lingkungan terus bertahan dan berlipat ganda. Jika kita telisik lebih dalam lagi, problem hak hidup, perebutan...

Kota, Polusi, dan Resiko Kematian Dini

Studi Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memaparkan 20 kota-kota di dunia paling berpolusi. 20 kota tersebut yaitu Buenos Aires, Sao Paulo, Rio de Jeneiro,...

Tik-Tok bukanlah Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Perjalanan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia sangatlah sukar dalam menemui titik terang untuk mengubah tatanan pendidikan moral dan kebiasaan yang kian mengakar, terutama di...

Fenomena Nilai Transfer Caleg dalam Bingkai Politik Zaman Now

“Politik adalah seni halus mendapatkan suara dari orang miskin dan dana kampanye dari orang kaya, dengan menjanjikan melindungi satu dari yang lain.” – Oscar...
Achmad Zamzami
Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI

Anak adalah harapan masa depan bangsa dan penerus generasi dimasa mendatang. Dalam sebuah siklus kehidupan manusia, masa anak-anak merupakan fase dimana manusia mengalami tumbuh kembang yang menentukan masa depannya.

Anak-anak tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsunagn sebuah negara. Hal inilah yang telah di amanatkan dalam UUD 1945 pasal 28(B) ayat (2) bahwa Negera menjamin setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

Indonesia sebagai bagian dari anggota PBB telah berkomitmen di tingkat internasional yang di tandai dengan diratifikasinya Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990. Indonesia juga berkomitmen mendukung gerakan dunia untuk menciptakan “Word Fit for Children” (dunia yang layak bagi anak).

Selain itu berbagai peraturan dan kebijakan juga ditetapkan untuk memenuhi hak dan melindungi anak utamanya adalah Undang-undang Nomor 1 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah juga mempertegas bahwa sub-urusan pemerintahan di bidang perlindungan anak merupakan urusan wajib pemerintah non pelayanan dasar, yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota.

Berbagai macam kebijakan, program, dan kegiatan yang telah dibuat dan dilaksanakan diseluruh wilayah, namun pemenuhan hal dan perlindungan anak belumlah optimal. Hal ini terlihat dari informasi yang ada belum mencerminan ramah anak termasuk televisi.

Memilih Tayangan Ramah Anak

Menonton televisi sejak lama telah dijadikan sebagai aktivitas untuk mendapatkan informasi dan hiburan bagi orang dewasa maupun anak-anak. Apalagi dengan perkembangan televisi masa kini yang semakin meningkat dengan adanya TV kabel.

Pilihan tayangan televisi semakin banyak karena terkoneksi dengan beragam siaran televisi dalam negeri maupun luar negeri. Jika orang dewasa saja menyenangi televisi, maka bisa dimaklumi mengapa anak-anak juga menyukainya.

Anak-anak suka menonton televisi sebagai media yang menghibur, ada banyak tayangan khusus untuk anak seperti kartun yang seringkali dinanti. Menurut Leifer dkk (dalam Elizabeth Hurlock, 1980) “Televisi bukan hanya merupakan hiburan bagi anak-anak, tetapi juga merupakan sarana sosialisasi yang penting”.

Bagaimana cara memilih tayangan televisi yang berkualitas? Tentunya hal ini bukan perkara yang mudah untuk dilakukan bahkan oleh orang dewasa. Tidak terbayang apabila anak-anak yang belum memiliki kemampuan memilah tayangan di televisi harus melakukan penyaringan terhadap ratusan program yang ada.

Oleh sebab itu sudah menjadi kewajiban bagi para orang tua untuk meluangkan waktu menyeleksi tayangan di televisi agar sesuai dengan usia maupun tahap perkembangan anak serta tidak mengandung unsur-unsur kekerasan, pornografi dan vulgarisme, mengingat ketiga unsur tersebut bisa ditonton secara bebas. Pencegahan sejak dini patut dilakukan karena secara psikologis anak-anak belum mampu membedakan mana hal-hal yang baik dan mana hal-hal yang buruk dari tayangan televisi.

Anak-anak balita dan prasekolah sering kali berimajinasi sehingga mudah terpicu rasa takut, hindari menonton tayangan yang dianggap menyeramkan supaya mereka tidak mengalami mimpi buruk.

Ingat, anak-anak mudah meniru apa yang mereka dengar dan lihat sehingga orang tua perlu melakukan penyaringan bahkan pada film kartun sekalipun dengan mempertimbangkan apakah bahasa yang digunakan pantas didengar anak, cara bicaranya cukup sopan atau justru kasar, adegannya berbahaya atau tidak.

Orang tua tidak perlu melarang anak menonton televisi, namun aturan tetap dibutuhkan. Batasi menyaksikan televisi di hari-hari anak bersekolah, selain menyita waktu juga dapat membuat anak kurang fokus terhadap tugas atau pekerjaan rumah.

Monitor tontonan anak untuk memastikan sesuai dengan nilai-nilai keluarga serta beri penjelasan saat anak tidak paham. Anak-anak praremaja tetap membutuhkan pengawasan, terutama ketika menyaksikan tayangan televisi di malam hari, meski pun sudah mulai bisa diminta untuk menyeleksi tontonannya.

Perhatikan materi iklan dan film di televisi yang kadang mengumbar kekerasan, seks, bahasa maupun perilaku kasar dan konsumtif.

Melalui Hari Anak Nasional 23 Juli 2018, merupakan momentum untuk berupaya meningkatkan sekaligus mengajak seluruh komponen bangsa, baik orang tua, keluarga, masyarakat, media, pemerintah dan negara untuk melaksanakan kawajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana telah di tetapkan dalam Undang-undang nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, yaitu melakukan upaya perlindungan dan mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap prmenuhan hak-haknya dan perlakuan tanpa kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

Hari Anak Nasional merupakan hari yang sepenuhnya milik anak Indonesia, sehingga setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri dalam berbagai kegiatan yang positif.

Hari Anak Nasional merupakan momentum yang penting untuk menggugah keramahan dan kepedulian terhadap anak agar menjadi pewaris bangsa yang berkualitas serata menumbuhkan kepedulian, kesadaran dan peran aktif setiap individu, keluarga, masyarakat, media, pemerintah dan megara dalam menciptakan lingkungan yang berkualitas untuk anak, dan juga memberikan perhatian dan informasi yang seluas-luasnya kepada anak dan keluarga tentang pentingnya membangun karakter anak melalui peningkatan pengasuhan keluarga guna mempercepat penanaman nilai-nilai kebangsaan. Karena anak-anaklah yang akan menajadi penerus bangsa Indonesia.

Pernah di muat Tribunnews

Achmad Zamzami
Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.