Senin, April 12, 2021

Memilih Peran Berpolitik atau Tidak Berpolitik

Mereduksi Laju Radikalisme di Indonesia

Situasi keagamaan di Indonesia belakangan ini sudah semakin mirip dengan situasi keagamaan negara-negara di Timur Tengah yang mempertontonkan intoleransi, kekerasan, dan teror. Ketika agama...

Asian Games Di Mata Puan Maharani

Tinggal menghitung hari Asian Games akan dimulai. Masih tersiar kabar sebagian fasilitas olah raga di Stadion Jakabaring Palembang rusak akibat ulah suporter sepak bola....

Politik Dinasti Mengebiri Demokrasi

Politik dinasti belakangan ini terus menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat di Jawa Barat dan terkhusus kabupaten cianjur. Selain didasari oleh lahirnya regulasi di pilkada...

IPD dan Kemiskinan Pedesaan

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Pembangunan Desa (IPD), yang menyebutkan jumlah desa tertinggal berkurang sebanyak 6.518 desa menjadi 13.232 desa dibandingkan dengan...
Sasa Ramadhanty
State Jakarta Uni’16. Author at Geotimes.id. Chinese Language Tutor/Teacher. Freelance MC/Presenter. Fashion Model. 📩 Reach me at sasaramadhanty@gmail.com

Sebelum pemilihan umum (pemilu) yang akan dilaksanakan serentak pada 17 April 2019 nanti, berbagai informasi dan penyuluhan mulai diadakan di berbagai kalangan dan oleh berbagai kalangan pula. Hal-hal itu dilakukan untuk memberikan dan meningkatkan kesadaran berpolitik untuk masyarakat sehingga setiap masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya dengan tepat.

Meskipun begitu, selalu ada saja orang yang memilih untuk tidak memilih pada pemilu, baik sengaja maupun tak sengaja. Bisa juga disebut sebagai Golongan Putih (golput), yakni mereka yang memiliki kesadaran politik namun sengaja tidak memilih dengan sebab tak mengakui sistem politik yang sah. Namun, ada pula mereka yang tak sahih disebut golput namun tak mencoblos disebabkan karena tak memiliki kesadaran politik.

Pada situasi itu, pernyataan “berpolitik dengan cara tak berpolitik” dapat dikatakan oleh seorang Golput, sedangkan seorang yang tidak mencoblos karena tak memiliki kesadaran berpolitik cukup dikatakan sebagai “tidak berpolitik”. Namun, Wiratmo Soekito (1929-2001) yang merupakan seorang akademisi, sastrawan, aktif di penyiaran radio, dan budayawan Indonesia, dalam perihal ini beliau mengajukan tiga kategori, yakni (1) berpolitik, (2) terlibat dalam politik, dan (3) tidak berpolitik.

Latar belakang anggapan dasar itu adalah pernyataan sejumlah penanda tangan Manifes Kebudayaan (Mei 1964) pada tahun 1966 bahwa Manifes telah gagal, dengan alasan antara lain karena kapitulasi Partai Komunis Indonesia (PKI) bukanlah berkat perjuangan mereka. Wiratmo menyatakan pada Mei 1965 telah meramalkan kapitulasi PKI, mengakui kegagalan Manifes, tetapi oleh sebab lain, yakni partisipasi para penandatangannya dalam Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI).

Konferensi yang merupakan reaksi terhadap Konferensi Seni dar Sastra Revolusioner (KKSR) pada Agustus 1964 itu, berakhir dengan pembentukan organisasi Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI), dan bagi Wiratmo itu mengartikan sebagai tindakan yang termasuk telah berpolitik. Padahal, menurut Wiratmo, menandatangani Manifes bukanlah berpolitik, melainkan: “…menerima fait accompli, bahwa mereka terlibat dalam politik.” (Soekito, 8/5/1972: 6). Jadi, terlibat dalam politik itu bukan berpolitik dan bukan pula tidak berpolitik. Untuk lebih memahami perbedaan itu, mari kita simak penjelasannya.

Wiratmo menjelaskan dengan menjadikan teater sebagai perumpamaannya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) te.a.ter /tèatêr/ adalah (1) gedung atau ruangan tempat pertunjukan film, sandiwara, dan sebagainya; (2) ruangan besar dengan deretan kursi-kursi ke samping dan ke belakang untuk mengikuti kuliah atau untuk peragaan ilmiah; (3) pementasan drama sebagai suatu seni atau profesi; seni drama; sandiwara; drama.

Dalam apa yang disebutnya peristiwa teater, terdapat pentas tempat para pemain drama memainkan peran dalam lakon yang mereka bawakan. Menghadap pentas adalah publik. Pertunjukan akan berlangsung bukan hanya karena pemeran yang bermain, tetapi juga kalau publiknya terlibat.

Jika pemain drama sama dengan orang yang berpolitik, maka keduanya bersandiwara. Apa yang mereka lakukan adalah tak sungguh adanya. Dalam artian, pemeran orang dungu tidaklah dungu, orang politik yang berkhianat tidaklah berkhianat, seperti Soekarno-Hatta yang kala itu bekerja sama dengan Jepang dan itu bukanlah pengkhianatan, namun menjalankan suatu peran. Posisi publik di depan pentas tidak seperti itu, tetapi mereka tetap terlibat, jadi publik dalam politik bukan tidak berpolitik, melainkan terlibat dalam politik.

Seorang pemain drama dan orang yang berpolitik harus bersedia dikecam, dicela, atau dipuji sebagai konsekuensi peran apa pun yang dimainkannya. Peran berpolitik mereka tentu akan memunculkan oknum-oknum pembenci yang senantiasa memaki, dan oknum-oknum pecinta yang senantiasa memuji. Sedangkan orang yang hanya terlibat dalam politik menurut Wiratmo, “… mempunyai hak-hak yang lebih besar, namun mempunyai kesediaan untuk mengambil resiko, seolah-olah setiap saat ia sudah bersedia untuk dibawa ke hadapan suatu regu penembak untuk dihukum mati.”

Maka, orang yang sadar maupun tak sadar terlibat dalam politik, pertama, jika menolak posisi tidak berpolitik, sama dengan publik yang naik ke atas panggung untuk merusak tontonan; dan kedua, jika menolak posisi terlibat dalam politik, sama dengan publik yang tertidur saat peristiwa teater terjadi. Penanda tangan Manifes, dalam penandatanganannya itu, menurut definisi Wiratmo: terlibat dalam politik, tetapi tidak berpolitik.

Mengacu kepada klasifikasi awal, muncul anggapan bahwa para penanda tangan yang disebut Wiratmo sebagai Manifestan dapat digolongkan sebagai “berpolitik dengan cara tidak berpolitik”. Jadi, “tidak berpolitik”-nya Wiratmo adalah peran politik juga, tetapi bukan di panggung, melainkan bagian dari publik, yang tidak tertidur- dan tentu tidak pula naik ke atas panggung. Artinya tidak bermain dan tidak pula mengganggu permainan.

Meskipun teater dijadikan sebagai perumpamaan, perlu digarisbawahi bahwa politik bukanlah teater dan teater bukanlah politik, tetapi narsisime bekerja dalam dunia politik maupun teater adalah hal yang menjadi konteks perbandingan. Dalam politik maupun teater, publik merupakan faktor integral, dan bersama publik pula praktik narsisisme berlangsung.

Sasa Ramadhanty
State Jakarta Uni’16. Author at Geotimes.id. Chinese Language Tutor/Teacher. Freelance MC/Presenter. Fashion Model. 📩 Reach me at sasaramadhanty@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.