OUR NETWORK

Memerangi COVID-19 dengan Ashobiyah Ibnu Khaldun

Ada kata bijak yang pernah saya baca bahwa “Dalam masa krisis seseorang harus bertarung melawannya bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang banyak dan itulah sikap pemenang”

Ibnu Khaldun merupakan salah satu filsuf Islam, mempunyai konsep kajian sosiologi tentang solidaritas dalam magnum opusnya, Muqaddimah. Salah satu sumbangan orisinal karya Khaldun adalah tentang konsep Ashabiyah. Dalam perkembangannya, konsep Ashabiyah ini menjadi pokok penting dalam setiap analisis Ibnu Khaldun tentang masyarakat, karena berguna untuk menganalisa perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Dalam buku berjudul Akar Konflik Sepanjang Zaman: Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun (Pustaka Pelajar, 2004) karya Hakimul Ikhwan Affandi dijelaskan bahwa secara etimologis Ashabiyah berasal dari kata ashaba yang berarti mengikat. Sedangkan dalam fungsinya, Ashabiyah adalah ikatan sosial budaya untuk mengukur kekuatan kelompok sosial dan bisa disebut sebagai solidaritas sosial (kesadaran, kepaduan dan persatuan kelompok).

‘Ashabiyah diartikan oleh Ibnu Khaldun sebagai solidaritas sosial. Menurut Ibnu Khaldun solidaritas sosial atau rasa golongan yang dihubungkan oleh pertalian darah atau pertalian lain yang mempunyai arti dan tujuan yang sama. Hal ini disebabkan karena pertalian darah mempunyai kekuatan mengikat pada kebanyakan manusia, yang membuat mereka ikut merasakan tiap kesakitan yang menimpanya.

Ashabiyah merupakan perasaan satu kelompok atau solidaritas sosial, yang timbul secara alamiah dalam kehidupan manusia karena adanya pertalian darah atau pertalian perkauman. Perasaan cinta kasih tersebut menimbulkan perasaan senasib, sepenanggungan, rasa saling setia, rasa saling membutuhkan, terlebih pada saat menghadapi musibah atau ancaman musuh, atau untuk mencapai tujuan tertentu.

Solidaritas (‘Ashabiyah) pada pokoknya adalah kerjasama dan tolong menolong yang erat dalam suatu kelompok yang berbentuk sedemikian rupa sehingga anggota kelompok itu masing-masing bukan saja bantu membantu, tetapi bersedia mengorbankan jiwa untuk kepentingan bersama.

Sejauh ini, pandemi covid-19 masih terus berlanjut, bahkan belum ada kepastian kapan akan berakhir. Wabah corona yang menyerang beberapa negara dan menelan banyak korban telah menjadi suatu masalah kemanusiaan yang membutuhkan sikap tanggap, solutif, dan kerjasama.

Ada kata bijak yang pernah saya baca bahwa “Dalam masa krisis seseorang harus bertarung melawannya bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang banyak dan itulah sikap pemenang”.  Kalimat ini harus kita praktikkan ditengah situasi seperti saat ini. Bahkan Gubenur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan “Dari pembatasan sosial kita harus bergeser ke solidaritas sosial. Negara tidak mungkin bisa menyelesaikan ini sendiri, negara butuh bantuan masyarakat”.

Banyak kasus penolakan jenazah covid-19 yang terjadi bahkan muncul stigma-stigma negativ yang menyebabkan terjadi diskriminasi terhadap pasien covid-19. Semestinya, dalam kondisi seperti ini, yang seharusnya kita lakukan adalah membangun sikap ‘Ashabiyah.

‘Ashabiyah harus dibentuk atas persamaan nasib sekaligus ingin berkorban bagi semua orang. Sikap seperti ini harus ditumbuhkan ditengah krisis yang melanda dunia, menumbuhkan ‘Ashabiyah, dan melawan sikap egois yang dibentuk dari rasa panik.

Rasa solidaritas tidak hanya berarti bahwa kita harus turun kejalan untuk membagikan masker, sembako, dan lainnya. Namun mematuhi aturan pemerintah dan tim medis juga merupakan sikap solidaritas dalam memutus rantai wabah corona.

Solidaritas dan jiwa kemanusiaan tampak pada masyarakat Magetan, Jawa Timur. Disana, solidaritas sangat nampak ketika para warga saling kompak dan menghargai pasien covid-19. Bahkan warga disana diketahui sering membantu pasien covid-19 dengan memberi bantuan berupa makanan.

Melihat kondisi masyarakat di dunia dalam pandemi Covid-19 ini, konsep Ashabiyah Ibnu Khaldun mesti kita terapkan, terutama pada masa physical distancing dan saat negara melaksanakan lockdown guna membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Penerima Beasiswa Bank Indonesia 2019 dan Mahasiswi Sosiologi Universitas Mataram

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…