OUR NETWORK

Membunuh Logika Mahasiswa

“Matematika itu cara berpikir, bukan kumpulan rumus siap pakai. Belajar matematika itu belajar berpikir matematis.”

Iklan sebuah produk belajar di web daring nasional menuliskan tajuk “Tak Ada Lagi Pelajaran Matematika di Negara Ini!”. Bagi masyarakat umum, matematika tidak lain hanya upaya perhitungan. Pembelajaran menghafal rumus dengan telaten.

Di antara maraknya aplikasi kalkulasi dan statistik, peran matematika dirasa tidak lagi memadai. Menanggapi pandangan demikian, Iwan Fals lantas menulis di Twitter: “Matematika itu cara berpikir, bukan kumpulan rumus siap pakai. Belajar matematika itu belajar berpikir matematis.” Bagi Iwan Fals sendiri, matematika tidak berhenti pada mata pelajaran saja, melainkan cara berlogika dan memecahkan masalah.

Buruknya pengembangan berpikir logis-matematis di dunia pendidikan memberi pengaruh besar pada sikap masyarakat. Wono Setya Budi (2018) memberi contoh kecil, misalkan mengapa ongkos masuk jalan tol harus naik setiap dua tahun?

Karena ada UU-nya. Dialektika mandek di sini karena sudah diatur pada rumus yang ada (dalam hal ini UU). Mengapa penangkapan seseorang harus terluka? Jawabannya tidak tahu. Sudah ada prosedurnya. Serupa dengan respon siswa yang menjawab soal karena rumus yang diperoleh dari guru.

Masyarakat berhenti berpikir dan bertanya. Kenapa? Tidak jauh dengan pembelajaran di Perguruan Tinggi (PT) berbasis humaniora, mahasiswa dijejalkan dengan banyak wawasan dan didikte untuk menghafal. Logikanya dipangkas. Mahasiswa diajarkan untuk menjalani prosedur standar sesuai dengan kurikulum PT bersangkutan.

Lemahnya logika mahasiswa ini dapat dilihat dari perkembangan radikalisme yang subur di PT. Mahasiswa gagal berlogika, sehingga tidak mampu memilah informasi relevan. Tidak bisa membedakan antara yang benar dan hoaks. Sudah demikian yang diterima.

Bertolak belakang dengan salah satu keterampilan yang wajib dikuasai di era 4.0: kemampuan logika dan literasi data. Menjadi persoalan ketika mahasiswa melek data, pandai mengkonsumsi informasi di atas layar gawai namun berhenti bertanya dan memverifikasi, tidak menyeleksi, serta lalai memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Atau informasi yang diluapi narasi kebencian kepada pihak lain yang berupaya memecah-belah bangsa.

Tidak heran, Presiden Jokowi “gemas” melihat perkembangan PT di Indonesia yang dianggap tidak tanggap perubahan zaman. Lantas Kemristek dan Dikti melakukan terobosan kebijakan menuju Pendidikan Tinggi 4.0. Lompatan ini berupaya menentang aneka nomenklatur bahwa PT tidak mampu beranjak dari pedadogi masa silam. Pedadogi sesuai struktur dan prosedur.

Menyambut hal demikian, pengembangan infrastruktur pendidikan kemudian digenjot. Utamanya, gedung serta fasilitas kelas. Laboratorium dan digitalisasi instrumen pendidikan terus diadakan. Bahkan anggaran pendidikan sudah naik tajam mencapai Rp 400 triliun. Namun, berbagai pengembangan tersebut belum menyentuh faktor esoteris akademik. Kultur belajar dan pembelajaran masih berjalan di tempat, belum beranjak dari tradisi puluhan tahun silam.

Di era disrupsi ini, PT membutuhkan paradigma perubahan belajar. Mahasiswa tidak boleh lagi diperlakukan sebagai objek. Pendekatan intervensif dalam pola pendidikan PT tidak lagi relevan. Seharusnya di era 4.0, pendidikan sudah melampaui paradigma andragogi (pendidikan orang dewasa) hingga pendekatan heutagogi yang menempatkan mahasiswa secara bebas mendesain sendiri cara belajar mereka (self-directed/determined learning).

Di lain sisi, yang perlu ditekankan adalah pembekalan logika yang kuat. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika dan logika menjadi fokus yang harus ditanamkan sejak dini. Mengamini pendapat Prof. Syamsul Rizal bahwa tidak usah terlalu jauh mengikat mahasiswa dengan kurikulum pembelajaran moral dan budi pekerti.

Apalagi menghabiskan anggaran untuk hal-hal yang sulit diukur. Padahal, kualitas logis-matematis mahasiswa Indonesia hanya setara dengan kualitas siswa SMP di Singapura (Sulastri, Johar, & Munzir, 2014). Wajar jika paham radikalisme tubuh subur di lingkungan PT, mahasiswanya tidak mampu berdialektika logis dengan benar. Kemudian terhasut pada demagogi yang ada sehingga mudah dituntun oleh informasi agitatif. Mereka tidak lagi bertanya. Kenapa? Sudah prosedurnya seperti itu.

Momentum di era 4.0 harus ditangkap sebagai upaya menumbuhkan kesadaran logis. Mengembangkan keterampilan literasi data yang mumpuni. Terlebih lagi di tengah arus informasi yang deras, mahasiswa yang gagal berlogika akan mudah hanyut dalam lautan perubahan. Pilihannya hanya dua: terus berkembang atau hilang.

Daftar Pustaka

Budi, W.S. 2018. Matematika di Era 4.0. Kompas, 21 Maret 2018

Sulastri, R., Johar, R., Munzir, S. 2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan MatematikaFKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014

Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…