Jumat, Januari 22, 2021

Membuka Ruang Publik Milenial Membatasi Staqus Quo

Upah dan hak pekerja dalam etika bisnis islam

Makna upah dalam bahasa Arab  disebut dengan ajrun/ajrān yang berarti memberi hadiah/upah. Kata ajrān mengandung dua arti, yaitu balasan atas pekerjaan dan pahala. Sedangkan...

Nadiem Membangun Pendidikan Anti-Korupsi yang Terintegrasi?

Setelah seratus hari mengabdi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim telah menelurkan beberapa wacana kebijakan yang mendobrak kebiasaan lama. Walaupun baru berupa...

Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

Rilis terbaru Transparency Internationaltentang tingkat Corruption Perception Index / Indeks Persepsi Korupsi (IPK) menempatkan Indonesia di peringkat 96 dari 180 negara-negara yang diteliti. Walaupun peringkat tersebut...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY.  Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Membuka generasi milenial,  menjadi trigger konsepsi ruang publik politik milenial.

“Untuk Bangsa ini. Tidak ada saya takuti kecuali Allah SWT” . Closing statemen yang disampaikan dalam Debat Kandidat ke-2 ini.  Bermakna luas bagi konstruksi sosial-politik kekinian.  Konsepsi politik yang yang menerjamahkan manifesto kadungan Pancasila.

Statmen ini adalah trigger pintu masuk pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia yang nanti menjadi titik tolak periode kedua apabila Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden 17 April mendatang.

Inilah yang sebenarnya ditakutkan generasi status quo. Sehingga Jokowi menjadi ancaman serius bagi mereka. Karena,  ruang publik kelompok status quo menjadi sempit. Karena persaingan semakin terbuka.

Persaingan tidak hanya berdasar atas kedekatan nasab (keturunan atau kekeluargaan), kedekatan, atau transaksional. Persaingan akan didasarkan pada basic skill, talenta, dan intelektual.

Disinilah, ruang sosial baru terbentuk. Generasi-generasi baru dengan skill tinggi akan mendapat ruang. Pemerintah hanya menyalurkan dan meningkatkan daya saingan mereka. Melindungi dan memfasilitasi sehingga mampu berkonstribusi bagi negara.

Harus diakui,  perjalanan kontruksi sosial-politik selama Rezim Orde Baru hingga SBY.  Ruang tersebut dibangun atas dasar nepotisme.  Jauh dari ketidak adilan.  Kemampuan individu bukan jadi landasan fundamental.

Sementara,  fenomena sosial di era paska- strukturalis telah berubah begitu mendasar. Industri digital berkembang pesat.  Akses informasi ada digengaman.  Sehingga individu mampu membangun ruang publik itu sendiri.  Ruang publik tanpa aliran ideologis,  tanpa interest politik atau sentimen SARA.

‘Ledakan Generasi Milenial’

Fenomena ledakan gererasi milenial inilah yang harus dibaca.  Generasi kelahiran tahun 1980 an hingga 2000 an, yang berusaha mengisi kontruksi sosial.  Ruang publik tidak lagi dikendalikan sentralistik atas dasar struktur sosial tertentu.  Generasi ini dikendalikan atas dasar trend teknologi media komunikasi. Kesadaraan sosial dibentuk dengan simulasi dan duplikasi artifisial (Intellegency Artificial).  Atau dikatakan filosof Perancis Jean Baudrillad sebagai simulacra.

Pilpres 2019 memang bukan kompetisi kandidat belaka.  Atau sekedar konflik ideologis.  Kelompok Ahalul Sunnah Waljamaah versus Wahabi,  kelompok reformis versus Orde Baru,  Pro NKRI dan HTI.  Namun perebutan pengaruh kuasa ruang publik.

Namun bukan berarti tidak ada relasi dengan kandidat.  Kandidat akan jadi simbol representasi.  Artikulasi keperpihakan akan menentukan dukungan kelompok-kelompok ini untuk siapa suara mereka salurkan.   Artificial generasi milenial inilah yang mampu ditangkap pasangan Jokowi. Meskipun sebagai Petahana,  Jokowi mampu menyampaikan pesan sebagai kandidat pro-perubahaan.

Jokowi mampu mengemas kesan sebagai pemimpin yang menjadi trigger gaya politik kekenian.  Mengaktualisasi harapan milenial tentang ruang publik yang diinginkan.

Selain itu,  Jokowi memberi dorongan.  Bahwa nasib bangsa dan negara ini adalah tangung jawab kaum milenial.  Sehingga, peluang politik kaum milenial terbuka lebar.

Sebaliknya,  Prabowo sebagai penantang.  Tidak mampu memberikan itu. Prabowo masih melekat kental semangat konvensional.  Ruang publik terstruktur,  penuh dogma,  patriarki dan kolot.

Upaya melepaskan diri dari kesan anti milenial tersebut sangat susah dilepaskan Prabowo kendati disandingkan dengan Sandiaga Uno.  Rekam jejak Prabowo lah,  yang jadi fakto identitifikasi kelompok milenial.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.