OUR NETWORK

Membincang Pram dan Sastra Kita

“Keindahan hanya bisa dilihat pada perjuangan untuk kemanusiaan dan pembebasan terhadap penindasan, bukan dalam mengutak-atik bahasa” -Pramoedya Ananta Toer-

Kepada Pram dan Kemanusiaan yang Mana Lagi?

Meskipun tulisan ini dimulai dengan kutipan yang diawali dengan kata “keindahan”, tapi baiknya untuk tidak terlalu beharap pembaca budiman akan dibuai dengan kisah-kisah manis. Justru saya mempunyai niatan untuk menguak kepahitan, karena hidup memang tak sekedar gula-gula. 

Penindasan tidak akan pernah lenyap! Justru para sastrawanlah yang membuat penindasan terus ada dan abadi. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya karya sastra yang menjadikan penindasan sebagai keuntungan untuk mendapatkan perhatian pembaca, seperti: tangisan, simpati, obrolan dan ketagihan.

Beberapa dari kita mungkin menyebutnya sebagai bentuk kepedulian sastrawan terhadap keadaan masyarakat yang miskin dan tertindas. Pram, barangkali dapat dimasukan dalam bagian ini. Karena dalam novel-novelnya, narasi sendu penindasan, kemelaratan dan kemiskinan tampak heroik dan dominan. Saya tersinggung, Bung, Pram. 

Saya ini memang terlalu egois untuk berpusing ria atas derita orang lain. Atau saya ini memang lemah batin dan pikir, sehingga saya benar-benar tidak tahu apakah saya punya keinginan yang kuat dan tahu bagaimana caranya mengakhiri penghisapan manusia atas manusia seperti yang Bung utarakan.

Ada begitu banyaknya anak jalanan di Jakarta yang saya anggap sebagai hologram saja. Karena jujur saja, saya tidak sanggup kalau harus memandangnya sebagai kenyataan. Mereka benar-benar menghujam akalsehat. Sungguh tidak masuk akal bila anak balita dibiarkan bermandi keringat pada jam satu siang yang terik di perempatan Palmerah, kira-kira kurang dari seratus meter dari kompleks wakil rakyat dan kantor redaksi koran terkemuka si pembawa “amanat hati nurani rakyat” itu. menghampiri setiap kita (pengendara) dan mengeksploitasi belas kasihan kita semua menjadi Rp 3000 atau Rp 1500 saja!

Tapi jangan salah mengerti, Bung, Pram. Saya peduli. Saya tentu saja bukan mereka yang Bung bilang suka berkata “kasihanilah mereka, tapi jangan ganggu kesenangan saya!” Hanya saja saya berpikir, apapun yang saya lakukan tidak akan membawa banyak perubahan. Saya tidak habis pikir, bagaimana caranya sajak yang saya tulis pada malam yang tak berangin bisa ikut membebaskan anak-anak jalanan itu dari derita mereka, misalnya, serta membantu mengakhiri derita kaum buruh. 

Dan maafkan saya bila harus lancang, Bung, Pram, menurut saya rasa kemanusiaan tidak bisa direduksi menjadi perjuangan politik membela petani dan kelompok buruh. Sastra gaya durenan itu. Sastra realisme sosialis yang kau kampanyekan itu adalah produk cara berfikir Lenin yang menurut saya keliru. Masalahnya bukan apakah sosialisme itu benar atau salah, tetapi apakah jalan menuju masyarakat yang berkeadilan dan manusiawi sebagai cita-cita utama sosialisme dan komunisme mesti dicapai melalui jalan yang pernah digunakan oleh Lenin terus kemudian dilanjutkan Stalin dan para pemimpin negara-negara komunis lainnya di dunia?

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sastra ditulis di bawah ancaman Kim Jong Il di Korea Utara. Jadi, Bung, Pram, saya masih belajar memahami segala kontradiksi dalam kapitalisme dan sosialisme. Kalau dialektika sejarah mengharuskan kapitalisme hancur, mengapa ia bertahan hingga kini, bahkan setelah krisis keuangan global yang terjadi sesudah Bung Pram wafat? 

Bila sosialisme adalah obat mujarab dari semua kemiskinan, kenapa hampir semua negara komunis hidup dalam kemiskinan, kecuali China, dan negara ini pun dianggap sudah mengkhianati prinsip-prinsip sosialisme? Sastra duren adalah sastra yang bau sosialis, yang berduri namun mengandung buah yang indah dan lezat. Kalau boleh jujur, Bung, Pram, saya tidak suka duren. Tetapi saya tahu, itu hanya sebuah analogi Bung, Pram saja.

Saya mengerti, saya masih terpesona pada karya Bung, Pram, termasuk eksposisi dan argumentasi Bung, Pram, tentang realisme sosialis dalam buku 200 halaman terbitan Lentera Dipantara pada 2003. Kepada Bung, Pram, sendiri, saya harus mengucapkan terima kasih, karena telah mengangkat tas alias Minke dari lumpur sejarah yang pekat. Hingga pada akhirnya saya harus bilang bahwa saya memihak “humanisme universal”, karena dalam berkesenian kemanusiaan tidak bisa dipolitisir.

Karena sosialisme bukan tanpa masalah, karena komunisme bukan tanpa masalah, karena ideologi sesuci apapun tidak ada artinya bila pelakunya tidak bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan. Boleh jadi, saya ini seorang manikebuis dan gemar menulis “lagu keroncong dengan nada minor”. Dan kritik Bung, Pram, yang menusuk itu, bakal terus menghantui saya.

Sastra Kita Dewasa Ini

Dengan penuh kesadaran, saya setuju, kalau kita sedang dalam wabah distopia yang besar. Negara ini sedang sakit, begitu juga dengan orang-orang dan karya sastra yang dihasilkannya. Tapi alangkah baiknya, kalau dari dalam kesakitan itu, ketika semua orang menuju pada subyektifitas yang riskan, ada sesuatu yang bisa kita pelajari. Ketika Dwi Cipta menganggap subyektifitas yang berlebihan dalam karya sastra dengan nada sangat jengkel dan penuh dengan ketidaksukaan. 

Maka saya akan mengambil pelajaran dari keadaan kita yang serba sakit ini. Saya juga setuju dengan pandangan bahwa kita harus ikut serta dalam kegiatan sosial, gerak perubahan zaman, serta ikut dalam aspek-aspek yang membelit masyarakat. Hemat saya, hal inilah yang jarang sekali ada dalam diri para penulis kita saat ini, terlebih dalam sastra. Realisme dalam sastra kita adalah realisme distopia.

Itulah kenyataan yang harus kita ketahui hari ini. Bukan realisme yang mengatasnamakan keadilan sosial, sibuk membela rakyat dan menulis segala bentuk kekejaman apartus negara kepada rakyat. Tapi justru realisme kita adalah realisme subyektif para penulis yang sedang sakit menghadapi gerak reformasi yang kehilangan jati diri. Saya kira itulah realisme kita. Realisme distopia.

Saya ini bukan siapa-siapa, hanya “sembarang orang” yang boleh jadi sangat ngawur. Tapi saya, dan mungkin juga sebagian pembaca yang budiman  tahu kalau T.S Eliot itu berkawan baik dengan Ezra Pound, editornya. Kita juga mengerti bila H.B. Jassin juga kenal baik dengan Chairil Anwar, penyair gila yang bakatnya sudah tidak kita ragukan lagi. Kita mengerti bila seniman sah-sah saja mempunyai komunitas, boleh saja saling berkawan, antara editor, esais, penyair dan novelis dan bahkan wartawan sekalipun. 

Hanya saja, komunitas, atau sebuah perkawanan, itu semestinya tidak menjadi halangan bagi kritikus untuk bersikap gamblang dalam menilai sebuah karya sastra. Tentu saja kita sangat mafhum betul, bila soal ini soal yang njlimet, soal yang tidak bisa dengan sederhana dikatakan mana yang baik dan mana yang benar. Hanya saja, selama ini kita sangat jarang sekali mendapatkan ulasan yang sejalan dengan pandangan kita (terutama penulis secara pribadi) tentang khasanah sastra dewasa ini, yang menurut saya sangat lah membosankan. 

Belajar fokus pada skripsi yang motivasinya bukan resepsi | Mahasiswa Filsafat Uin Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…