Sabtu, Maret 6, 2021

Membincang kembali Islam Nusantara dan Tawaran Islam Masa Kini

Resiliensi BUMN

Beberapa pekan belakangan ini adalah momentum penting dalam membangun kepercayaan berbangsa dan bernegara. Banyak orang berpendapat bahwa bulan Juni adalah bulannya Soekarno, bulan hari...

G20 dalam Pusaran Pandemi Global

Virus Corona telah dinyatakan sebagai Pandemi Dunia oleh World Health Organization (WHO). Semakin parah lagi, beberapa minggu lalu pernyataan-pernyataan oleh pemerintah yang menyatakan bahwa...

Database, Media Sosial, Pajak dan E-Commerce

Mengutip dari situs www.termasmedia.com, bahwa basis data (database) adalah kumpulan data yang tersimpan secara sistematis di dalam komputer yang dapat diolah dan dimanipulasi menggunakan...

Peluang Baru Hubungan Turki-Indonesia

Beberapa hari lalu, Presiden Joko Widodo baru saja menerima surat kredensial dari Profesor Mahmud Erol Kılıç. Nama Profesor Mahmud Erol Kılıç bukanlah nama yang...
Ahmad Muttaqin
Santri Quranic Studies. Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Istilah Islam Nusantara yang sering digaungkan memiliki daya tarik tersendiri. Islam Nusantara adalah upaya memperkenalkan Islam yang menghargai tradisi dan budaya lokal. Menghargai tradisi lokal merupakan langkah menghidupkan Islam secara kontekstual. Kita sama menyadari bahwa tradisi adalah produk masa lalu. Masa lalu penting dijadikan pertimbangan tetapi bukan tujuan utama. Terlalu larut membatasi diri dalam frame “ tradisi nusantara” akan membawa pada laku Islam masa lalu. Padahal yang dibutuhkan adalah Islam masa kini.

Hal yang perlu disadari adalah tradisi yang telah dimodifikasi dengan ajaran Islam, bukan berarti menjadi pahatan monumen yang tak bisa lagi mengalami perubahan. Di sini yang diperlukan adalah kesadaran untuk terbuka jika pada saatnya model tradisi dan ritual yang telah dijalankan perlu dikritisi dan dikreasi mengikuti pola perkembangan. Tanpa kesadaran ini kita kembali terjebak pada kekakuan dalam beragama. Tentu, hal ini tak ada bedanya dengan kelompok ekstrimis yang fanatik berlebihan dengan ideologi kelompoknya.

Hal lain yang perlu diperbincangkan dari Islam Nusantara adalah lokalitas. Nusantara harus dilihat sebagai sebuah keragaman yang tidak hanya terpaku pada tradisi dan nilai lokalitas satu daerah tertentu. Semangat ini sebenarnya sesuai dengan yang didefinisikan oleh Ahmad Baso dalam bukunya “Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma Ulama Indonesia” bahwa Islam Nusantara merupakan cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.

Hanya saja ada kelatahan sehingga cenderungnya istilah ini hanya representasi dari nilai dan tradisi lokal satu daerah yang berusaha diekspansikan atau diekspor ke mana-mana. Bahkan istilah ini lebih dianggap jargon sebuah ormas kegamaan tertentu untuk membedakan dengan semangat Islam dari ormas keagamaan lain. Sadar atau tidak, sikap yang ada adalah memaksakan satu produk untuk dikonsumsi oleh semua kalangan. Begitu juga, di luar nalar ketika ada kalimat bernada semangat “Islam Nusantara harus diinternasionalkan”. Jika tidak berhati-hati, pernyataan ini akan menjadi senjata makan tuan atas penolakan universalitas Islam yang jelas-jelas hanyalah sebuah bentuk “nonsense”. Sebabnya adalah konteks partikular merupakan sebuah keniscayaan dalam kontekstualisasi ajaran Islam.

Indonesia terdiri dari beribu pulau dengan beragam sejarah kulturnya masing-masing. Islam Nusantara yang selama ini diperkenalkan seakan belum menyentuh pada aspek budaya dan tradisi yang lebih luas. Secara historis, agama dan kepercayaan sebelum Islam di nusantara amat beragam dan berbeda di setiap daerah. Sebagai contoh, agama yang berkembang di Jawa sebelum Islam adalah agama Hindu dan Budha. Di daerah lain, sebelum agama-agama resmi yang diakui negara, telah ada agama-agama asli nusantara. Di Bali dikenal Hindu Bali atau Dharma, Sunda Wiwitan di Kanekes Banten, Agama Djawa Sunda di Kuningan dan Buhun di Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Parmalim di Sumatra Utara, Kaharingan di Kalimantan, Tonaas Walian di Minahasa, Tolottang di Sulawesi Selatan, Wetu Telu di Lombok, Naurus di Maluku, Marapu di Sumba, Koda kirin di Pulau Adonara , Flores Timur dan NTT dan sebagainya.

Sebagian agama ini dan kepercayaan yang masih banyak di daerah lain kemudian disebut ajaran animisme dan dinamisme. Setelah itu, nusantara kemudian mengenal agama impor dari luar yaitu Hindu, Budha, Katolik, Kristen Protestan dan Islam. Kepercayaan dan agama akan berinteraksi dengan nilai lokalitas dan mengalami perkembangan sehingga menghasilkan tradisi dan kultur yang berbeda. Jika menggunakan istilah Islam Nusantara maka tentu nilai-nilai lokalitas dan kultur yang ada dan diadopsi, akan berbeda di setiap daerah.

Pertanyaan yang harus diajukan kembali, “apakah Islam Nusantara dilihat sebagai produk atau metode”? Jika hanya sebagai produk maka yang ada adalah kegagapan dan kegagalan melihat realitas keragaman di belahan wilayah nusantara itu sendiri. Namun jika Islam Nusantara posisikan sebagai sebuah metode memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam, mungkin pengertian kedua ini yang dimaksud ingin menginternasionalkan (metodologi) Islam Nusantara, maka yang perlu dilakukan adalah pertama, kembali menyadari akan ragam nilai tradisi lokal di bumi Nusantara.

Kedua, keragaman ini tidak harus dipaksakan untuk sama tetapi dibiarkan menjadi bahan adonan yang perlu diaduk dalam wadah kedaerahan masing-masing dan dicetak dengan bingkai ideologi Pancasila. Tradisi, karakter dan nilai kedaerahan tetap ada tetapi punya visi yang sama yaitu Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa ini.

Islam masa kini harus menggunakan perangkat Pancasila sekaligus mempertimbangkan nilai lokalitas masing-masing dalam rangka aplikasi pada konteks kini. Pancasila bukan barang baru, tetapi lahir dari nilai-nilai kenusantaraan yang panjang sekaligus memiliki ide-ide yang ingin diperjuangkan ke depan. Kelima kata kunci Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan, adalah landasan pokok untuk mengaplikasikan Islam pada konteks keindonesiaan. Ini adalah cita-cita hidup yang harus diamalkan dalam konteks beragama dan berbangsa dengan satu tarikan nafas. Dalam penafsiran Al-Quran pun demikian, Pancasila harus menjadi wadah dalam mengaktualkan nilai-nilai Al-Quran (Baca juga dalam http://www.nu.or.id/post/read/68727/paradigma-pancasila-dalam-tafsir-alquran). Inilah Islam Pancasila, yang dibutuhkan pada konteks keindonesiaan zaman now.

Ahmad Muttaqin
Santri Quranic Studies. Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.