in

Membincang kembali Islam Nusantara dan Tawaran Islam Masa Kini


Istilah Islam Nusantara yang sering digaungkan memiliki daya tarik tersendiri. Islam Nusantara adalah upaya memperkenalkan Islam yang menghargai tradisi dan budaya lokal. Menghargai tradisi lokal merupakan langkah menghidupkan Islam secara kontekstual. Kita sama menyadari bahwa tradisi adalah produk masa lalu. Masa lalu penting dijadikan pertimbangan tetapi bukan tujuan utama. Terlalu larut membatasi diri dalam frame “ tradisi nusantara” akan membawa pada laku Islam masa lalu. Padahal yang dibutuhkan adalah Islam masa kini.

Hal yang perlu disadari adalah tradisi yang telah dimodifikasi dengan ajaran Islam, bukan berarti menjadi pahatan monumen yang tak bisa lagi mengalami perubahan. Di sini yang diperlukan adalah kesadaran untuk terbuka jika pada saatnya model tradisi dan ritual yang telah dijalankan perlu dikritisi dan dikreasi mengikuti pola perkembangan. Tanpa kesadaran ini kita kembali terjebak pada kekakuan dalam beragama. Tentu, hal ini tak ada bedanya dengan kelompok ekstrimis yang fanatik berlebihan dengan ideologi kelompoknya.

Hal lain yang perlu diperbincangkan dari Islam Nusantara adalah lokalitas. Nusantara harus dilihat sebagai sebuah keragaman yang tidak hanya terpaku pada tradisi dan nilai lokalitas satu daerah tertentu. Semangat ini sebenarnya sesuai dengan yang didefinisikan oleh Ahmad Baso dalam bukunya “Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma Ulama Indonesia” bahwa Islam Nusantara merupakan cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.

Hanya saja ada kelatahan sehingga cenderungnya istilah ini hanya representasi dari nilai dan tradisi lokal satu daerah yang berusaha diekspansikan atau diekspor ke mana-mana. Bahkan istilah ini lebih dianggap jargon sebuah ormas kegamaan tertentu untuk membedakan dengan semangat Islam dari ormas keagamaan lain. Sadar atau tidak, sikap yang ada adalah memaksakan satu produk untuk dikonsumsi oleh semua kalangan. Begitu juga, di luar nalar ketika ada kalimat bernada semangat “Islam Nusantara harus diinternasionalkan”. Jika tidak berhati-hati, pernyataan ini akan menjadi senjata makan tuan atas penolakan universalitas Islam yang jelas-jelas hanyalah sebuah bentuk “nonsense”. Sebabnya adalah konteks partikular merupakan sebuah keniscayaan dalam kontekstualisasi ajaran Islam.


Indonesia terdiri dari beribu pulau dengan beragam sejarah kulturnya masing-masing. Islam Nusantara yang selama ini diperkenalkan seakan belum menyentuh pada aspek budaya dan tradisi yang lebih luas. Secara historis, agama dan kepercayaan sebelum Islam di nusantara amat beragam dan berbeda di setiap daerah. Sebagai contoh, agama yang berkembang di Jawa sebelum Islam adalah agama Hindu dan Budha. Di daerah lain, sebelum agama-agama resmi yang diakui negara, telah ada agama-agama asli nusantara. Di Bali dikenal Hindu Bali atau Dharma, Sunda Wiwitan di Kanekes Banten, Agama Djawa Sunda di Kuningan dan Buhun di Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Parmalim di Sumatra Utara, Kaharingan di Kalimantan, Tonaas Walian di Minahasa, Tolottang di Sulawesi Selatan, Wetu Telu di Lombok, Naurus di Maluku, Marapu di Sumba, Koda kirin di Pulau Adonara , Flores Timur dan NTT dan sebagainya.

Sebagian agama ini dan kepercayaan yang masih banyak di daerah lain kemudian disebut ajaran animisme dan dinamisme. Setelah itu, nusantara kemudian mengenal agama impor dari luar yaitu Hindu, Budha, Katolik, Kristen Protestan dan Islam. Kepercayaan dan agama akan berinteraksi dengan nilai lokalitas dan mengalami perkembangan sehingga menghasilkan tradisi dan kultur yang berbeda. Jika menggunakan istilah Islam Nusantara maka tentu nilai-nilai lokalitas dan kultur yang ada dan diadopsi, akan berbeda di setiap daerah.

Pertanyaan yang harus diajukan kembali, “apakah Islam Nusantara dilihat sebagai produk atau metode”? Jika hanya sebagai produk maka yang ada adalah kegagapan dan kegagalan melihat realitas keragaman di belahan wilayah nusantara itu sendiri. Namun jika Islam Nusantara posisikan sebagai sebuah metode memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam, mungkin pengertian kedua ini yang dimaksud ingin menginternasionalkan (metodologi) Islam Nusantara, maka yang perlu dilakukan adalah pertama, kembali menyadari akan ragam nilai tradisi lokal di bumi Nusantara.

Kedua, keragaman ini tidak harus dipaksakan untuk sama tetapi dibiarkan menjadi bahan adonan yang perlu diaduk dalam wadah kedaerahan masing-masing dan dicetak dengan bingkai ideologi Pancasila. Tradisi, karakter dan nilai kedaerahan tetap ada tetapi punya visi yang sama yaitu Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa ini.

Islam masa kini harus menggunakan perangkat Pancasila sekaligus mempertimbangkan nilai lokalitas masing-masing dalam rangka aplikasi pada konteks kini. Pancasila bukan barang baru, tetapi lahir dari nilai-nilai kenusantaraan yang panjang sekaligus memiliki ide-ide yang ingin diperjuangkan ke depan. Kelima kata kunci Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan, adalah landasan pokok untuk mengaplikasikan Islam pada konteks keindonesiaan. Ini adalah cita-cita hidup yang harus diamalkan dalam konteks beragama dan berbangsa dengan satu tarikan nafas. Dalam penafsiran Al-Quran pun demikian, Pancasila harus menjadi wadah dalam mengaktualkan nilai-nilai Al-Quran (Baca juga dalam http://www.nu.or.id/post/read/68727/paradigma-pancasila-dalam-tafsir-alquran). Inilah Islam Pancasila, yang dibutuhkan pada konteks keindonesiaan zaman now.


Written by Ahmad Muttaqin

Santri Quranic Studies

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR