in

Membedah Ustadz Online


Pada akhir Ramadhan lalu, saya cukup terkejut dengan maraknya penyebaran video tentang pelaksanaan ibadah yang oleh sebagian besar orang dianggap aneh dan parahnya lagi sampai dianggap menyimpang dan sesat. Setelah saya telusuri ternyata pelaksanaan tata cara ibadah tersebut terjadi di daerah asal saya sendiri, yaitunya di Kerinci, tepatnya dilakukan oleh jamaah Masjid Raya, Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Setinjau Laut. Walaupun secara langsung saya belum pernah melihat ataupun ikut serta, namun hal ini cukup menggegerkan. Tanggapan-tanggapan miring dari pengguna medsos cukup membuat hati bergidik, disamping saya belum memahami konteks ibadah tersebut, tapi disatu sisi justifikasi dari pengguna medsos memperlihatkan seolah praktek ibadah yang dilakukan memang sesat dan tidak pernah diajarkan dalam islam, justru akan membingungkan masyarakat awam.

Dari sekian banyak komentar, saya melihat secara garis besar orang-orang menanggapi negatif. Entah karena memang tidak tahu konteks dan enggan bertabayyun, atau cara pandang mereka memang telah disusupi oleh doktrin-doktrin dari ceramah ustadz yang memiliki kecendrungan membid’ahkan segala macam ibadah. Bagi mereka yang seperti ini, apa-apa saja yang tidak pernah dipercontohkan oleh Rasulullah dan tidak memilki dalil adalah bid’ah dan sesat, maka harus ditinggalkan.

Tentu karena ini berkenaan dengan daerah saya sendiri, kesempatan untuk mengklarifikasi pun saya gunakan. Di era Post-truth kata Emha Ainun Najib (Cak Nun), “Iblis telah menjelma dalam rupa orang yang memegang al-qur’an dan berbalut sorban”. Jadi dengan pemahaman yang masih relatif awam adalah suatu kewajiban untuk mengklarifikasi terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin satu praktek ibadah muncul dan berkembang dengan sendirinya, tanpa ada sanad ulama yang diikuti. Jangan terlalu cepat memberi label, boleh jadi apa yang anda anggap buruk belum tentu buruk, bisa saja apa yang dianggap baik justru tidak baik bagi anda.

Baca Juga :   DPR, Dewan Perwakilan Ragu-Ragu?

Setelah bertanya dan membaca berbagai literatur yang berkenaan dengan praktek ibadah tersebut. Ternyata gerakan yang dianggap melebih-lebihkan itu dinamai Ratib saman/ Ratib Tegak yang dilakukan pada malam ke 16 Ramadan tahun ini.

Di kabupaten Kerinci yang masih mempertahankan tradisi Ratib Saman di antaranya desa Bunga Tanjung, Ujung Pasir, Koto Tuo Ujung Pasir, Semerah. Selain itu juga desa Pondok Beringin dan Kayu Aro Ambai, namun dua desa ini melaksanakan Ratib Saman di mesjid saat hari Raya Idul Fitri dan hari raya puasa enam hari.


Demikian juga di kecamatan Keliling Danau, Ratib Saman digelar didesa Tanjung Pauh dan Pulau Tengah. Setiap desa mengawali Ratib Saman dengan cara yang berbeda, ada yang mengawali dengan membaca surah yasin, ada lagi dengan tahlil dan zikir. (Tribun.com)
Ratib ini berasal dari Tariqat Samaniah yang disebarkan pertama kali oleh ulama tarikat Syekh Muhammad Saman penjaga makam Rasullullah di Madinah. Ratib Seman ini sudah menjadi salah satu kebudayaan ritual Kerinci yang bernafaskan Islam.

Ustadz Online

Anggapan miring yang muncul sesaat setelah melihat video tersebut, tak ayal merupakan imbas dari doktrin oknum ustadz yang seringkali berbicara bid’ah dan menyesatkan suatu amalan. Bukan bermaksud melakukan simplifikasi, tapi fakta yang ada memperlihatkan secara terang-terangan ungkapan dari oknum ustadz untuk meluruskan akidah sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan ahlus sunnah wal jamaah, dengan tanpa ragu-ragu melawan mereka yang mempraktek amalan menyimpang.

Baca Juga :   Apa Kabar Politeknik dan Pergerakan Mahasiswanya?

Oleh karenanya, masyarakat awam akan menjadi objek penggiringan opini yang kadang tidak diketahui sumber kebenarannya. Banyak sekali ditemukan ceramah ustadz secara online maupun chanel televisi khusus yang beredar luas tanpa diketahui sanad keilmuannya. Kebanyakan dari mereka merupakan ustadz baru yang populer di media online. Ada semacam trend baru yang mulai bergeser dari ustadz konvensional yang terkenal di TV menuju ustadz online di media semacam youtube.

Hal ini membenarkan, tesis Zygmunt Bauman tentang liquid modernity untuk kondisi mobilitas dan perubahan konstan yang dilihatnya dalam hubungan, identitas, dan ekonomi global dalam masyarakat kontemporer.
Sementara itu Ulrich Beck menyatakan kemajuan teknologi melalui cyber communication, saling ketergantungan ekonomi, liputan media global, kerja sama politik dan kebangkitan multikulturalisme menarik perhatian yang menjadi ciri khas zaman kontemporer. Ia juga menyoroti keterkaitan antara masyarakat, di mana lokal menjadi global dan global menjadi lokal. Tidak ada lagi batasan identitas maupun struktur sosial.

Dengan demikian fenomena kemunculan ustadz populer di media online bukan hal yang mengejutkan, malah kehadiran mereka merupakan satu keniscayaan. Masyarakat melalui berbagai piranti online yang dimiliki dapat mengakses dengan mudah berbagai ceramah yang diinginkan. Dahaga spiritual yang muncul akibat mobilisasi yang semakin cepat dan massif dapat terpenuhi hanya dengan satu “klik” saja, sehingga, keberadaan dari ustadz-ustadz di langgar, surau ataupun masjid menjadi terdegradasi. Masyarakat modern semakin sulit menyisihkan waktu untuk ikut kajian kegamaan yang kadang membutuhkan waktu dan akses yang cukup jauh.

Baca Juga :   Protes di Venezuela dan Kegagalan Sosialisme Bolivarian

Hanya saja, perlu untuk dicermati oleh kalangan Islam moderat dan pluralis agar mengantisipasi konten dari ceramah yang ada. Bagi masyarakat tentu tidak ada persoalan, namun apabila sudah mengarah pada perdebatan mengenai amlan dan dalil yang mengikutinya disaat itulah timbul kecendrungan untuk memecah belah. Apalagi kebanyakan dari oknum ustadz online seringkali terafiliasi dengan satu kelompok atau mazhab yang bercirikan radikal, ingin mengganti Pancasila, puritan, dan paling ekstrem mudah sekali mengkafirkan.

Untuk itu, solusi terbaik yang mesti didedahkan, kalangan Islam nasionalis dari NU dan Muhammadiyah harus menghadirkan counter atas doktrin nilai-nilai yang terlanjur mereka sebarkan. Ustadz-ustadz NU dan Muhammadiyah diharapkan agar lebih aktif menyebarkan ceramah secara online agar persebaran dari identintas islam yang memadukan agama, kultur dengan kebangsaan dapat di perdengarkan ke seluruh khalayak ramai. Sehingga, tidak hanya terbatas pada satu pesantren maupun majelis ilmu saja.


Written by Nabhan Aiqani

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR