Senin, November 30, 2020

Membayangkan Berinteraksi dengan Para TKA di Masa Depan

Manusia Sebagai Aset Gereja

Keinginan Umat Tuhan Didasari kebutuhan didalam Kesepakatan Komunitas Gereja untuk memiliki Aset : Bangunan,Peralatan,Keuangan dan berbagai bentuk inventaris lainnya tentu Tidak salah.tetapi sangat memprihatinkan...

Desain untuk Sosial, Potensi dan Keterbatasannya

Akhir-akhir ini feed Instagram saya dibanjiri oleh cerita dari kawan-kawan desainer produk yang sedang berada di desa-desa di Kalimantan hingga Papua. Dalam wadah social...

Reformasi Sebagai Emansipasi

Jauh dari keriangan suatu perayaan kemenangan, Mei ini sekali lagi kita harus merefleksikan perjalanan demokrasi Indonesia kontemporer dalam keprihatinan. Setelah reformasi berusia dua puluh...

KPK Tak Diinginkan Kehadirannya

Mei 1998 berupakan lembaran baru bagi kehidupan ketatanegaraan republik ini. Rezim yang dikenal KKN dan represif akhirnya bisa ditumbangkan. Cita cita dalam melawan korupsi,...
Nibros Hassani
Re-telling HERstory

Kendala bahasa yang dialami para buruh kasar di Morowali ketika berinteraksi dengan tenaga kerja asing yang didatangkan dari Tiongkok seolah menjelma jadi paranoia sekaligus mimpi buruk baru bagi pemerintah.

Belum lagi kebaruan dan segala hal yang dibawa oleh para TKA terlatih (skilled) yang sering disebut tidak dimiliki oleh tenaga kerja lokal juga menimbulkan masalah baru. Publik akhirnya dibuat paham : jauh di Morowali sana, kepintaran dan kecanggihan yang dikabarkan dimiliki para TKA tidak membawa dampak signifikan bagi masyarakat dan malah menjadi paradoks.

Dua tahun sudah Indonesia melewati polemik berkepanjangan mengenai kedatangan TKA (Tenaga Kerja Asing) akibat beberapa proyek investasi baru. Yang dominan dikeluhkan adalah banyaknya jumlah tenaga kerja unskilled yang diterima dan lebih diprioritaskan ketimbang tenaga kerja lokal.

Setelah Perpres nomor 20 tahun 2018 terbit, sebagian kalangan menilai pemerintah justru mengakomodir kepentingan investor dibanding kebutuhan masyarakat secara nasional. Mendatangkan tenaga kerja asing yang dikatakan akan memberi dampak positif ekonomi bagi bangsa hingga hari ini justru nihil, dan timbul sekian masalah baru di kalangan tenaga kerja.

Komunikasi sebagai hal yang mendasar dan utama, sering juga menjadi masalah karena tidak semua pemberi kerja TKA mau memberi fasilitas kepada pekerjanya untuk belajar bahasa Indonesia.

Cerita Asnan dan Fakta di lapangan

Hari ini menjadi hari yang sangat berharga bagi Asnan, seorang buruh kasar yang sempat bekerja di Morowali bersama tenaga kerja asing. Berkali-kali mengajukan protes kepada pemerintah daerah dan tidak mendapat tanggapan, hari ini ia mendapat kesempatan emas, menyuarakan aspirasinya di media nasional ILC bersama koleganya  yang ikut terkena dampak Perpres 20/2018. Ketika acara berlangsung, Asnan diminta memberi kesaksian.

Dalam satu sesi, Asnan menyampaikan kepada publik apa yg sebenarnya terjadi di daerahnya. Kini, cerita Asnan tak hanya berhenti di hari itu. Sejak pemberitaan tersebut tersiar secara nasional, sebagian masyarakat mulai sadar ada sesuatu yang tidak beres, terjadi di Republik kita hingga hari ini.

Karni Ilyas : Bagaimana Anda berkomunikasi dengan 8000 orang dari Tiongkok yang sama-sama kerja aman?

Asnan : Kalau berkomunikasi, kami sebagai pekerja Bang Karni, ini ada teman-teman translator, kadangkala juga teman-teman translator ini, apa yang disampaikan oleh kawan-kawan Tiongkok ini juga kemudian tidak connect dengan apa yang kami inginkan, apa yang kami sampaikan kepada teman-teman. Artinya bahwa, selama ini ketika kami tinggal di daerah, walaupun sedikit, kami paham dengan bahasa Inggris sehingga kemudian kami sedikit-sedikit berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Tetapi hari ini, ketika kami mau berkomunikasi, jangankan bahasa Indonesia, bahasa Inggrispun kawan-kawan Tiongkok itu tidak paham bahasa Inggris. Apalagi mau bicara dengan bahasa Indonesia? Jadi komunikasinya itu lewat translator yang ada, yang dipakai dari Batam, Kalimantan, jadi ini yang dipakai untuk…

Karni Ilyas : (memotong) Anda tidak mau belajar bahasa Tiongkoknya?

Asnan : Tidak (kemudian tersenyum, disambut tawa hadirin)

Menyoal sulitnya komunikasi, Saya ada ingatan ketika mengikuti Deklarasi Bahasa Negara yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa dan Kemendikbud, Agustus lalu. Dalam sambutannya, Bapak Muhadjir Effendy pernah bercerita ketika beliau berkunjung ke salah satu daerah di Papua dan salah satu kepala sukunya mengajak berkomunikasi dengan bahasa yg tidak beliau pahami.

Dan kita juga tahu, setiap suku di Papua punya bahasa masing-masing maka sulit terjadi komunikasi yang baik hingga banyak konflik muncul akibat kesalahpahaman. Pak Muhadjir yang tidak memahami bahasa tersebut, bertanya kepada salah satu pegawai pemerintahan disana. Kata pegawai itu,

“Ah, paling tadi minta dibikinkan jalan pak. Saya juga nggak paham bahasa mereka. Tapi biasanya memang gitu, (minta dibikinkan jalan) hehe”

Bapak Muhadjir menanggapi dalam sambutannya,

“Coba anda semua (para hadirin) bayangkan. Pegawai pemerintah sana tidak paham bahasa mereka. Bagaimana bisa menjalankan pemerintahan?”

Beruntung, Indonesia memiliki satu bahasa yang disepakati bersama dan digunakan sebagai bahasa nasional. Komunikasi sebagai hal yang begitu krusial dalam wilayah kerja, aktivitas, dan pembangunan apapun tentu menjadi tantangan tersendiri.

Kalau mengelola komunikasi dengan penduduk yang masih satu warga negara saja sudah rumit, bagaimana bisa menciptakan lingkungan yang kondusif dengan warga negara luar yang bahkan tidak memahami kultur dan bahasa setempat, tidak punya kesamaan ideologi dan cara pandang? Kita pun paham, dalam hubungan sosial manapun, komunikasi yang baik menjamin suatu iklim yang kondusif. Tentunya ‘baik’ dalam arti, sesuai dengan asal dan standar budaya masing-masing.

Kecuali, mereka yg bekerja adalah robot dan mesin canggih dan tanpa berinteraksi dengan siapapun, mereka tetap bekerja dengan kapasitasnya sebagai robot.

Betapa sulit membayangkan bekerja sebagai buruh kasar di Morowali.

Paradoks Kategori Skilled dan Unskilled

Dalam satu pernyataan pemerintah, Perpres juga diharapkan bisa memudahkan visa bagi Tenaga Ahli Asing guna proses transfer pengetahuan dan teknologi bagi tenaga kerja lokal. Perusahaan yang menanam modal, ada juga yang membutuhkan tenaga ahli terpercaya dalam pengerjaannya. Kendati dalam konteks Perpres adalah memudahkan para investor, peluang datangnya unskilled worker secara masif juga muncul.

Selanjutnya dalam keterangan Irman, yang juga hadir bersama Asnan menerangkan, justru para pekerja asing itu adalah mereka yang juga menjadi pekerja kasar di lapangan. Tidak ada lagi dua kategori yang membedakan : semuanya melebur, merekalah pekerja skilled atau unskilled.

Harapan pemerintah agar mereka pekerja lokal bisa belajar dari tenaga ahli asing menjadi sulit ketika dibayangkan akan benar-benar terwujud. Tenaga lokal tidak dianggap, dan perusahaan lebih memilih pekerja yang mereka datangkan. Dimana kesempatan bagi pekerja lokal untuk belajar ‘keahlian’ itu, disisi lain komunikasi ramah antar pekerja tidak hadir dan muncul ekslusivisme baru?

Saya teringat dengan satu esai Goenawan Mohammad berjudul ‘Cedera’ yang diterbitkan Tempo pada kolom Catatan Pinggir edisi 27 April 2017. Goenawan Mohammad mengkritik pujian Minke dalam Bumi Manusia terhadap ilmu pengetahuan yang terlalu ia sanjung, karena kebaruan yang diusung teknologi dan kebaruan zaman seringkali menghadirkan paradoks.

“Ilmu memang bisa membangun sarana komunikasi yang efektif, tapi—dan ini yang diabaikan Pramoedya dalam novel itu—teknologi juga membuat jarak. Jarak itu berbeda dan lebih dalam”, tulis Goenawan Mohammad.

Kini, kita menyaksikan ‘jarak’ itu muncul di Morowali, daerah tak terjamah yang suatu kali mengusir penduduk aslinya untuk menyambung hidup.

“Mereka tak merasa berada bersama orang lain dalam ruang yang sesak itu”.

Nibros Hassani
Re-telling HERstory
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.