Kamis, Maret 4, 2021

Membawa Ketakwaan Puasa Ramadhan di Luar Bulan Ramadhan

Adakah Partai Oposisi dalam Sistem Politik Indonesia?

Terdapat dua momentum besar yang bisa dijadikan tanda munculnya fajar bagi perkembangan demokrasi modern; pertama, The Glorious Revolution yang terjadi di Inggris pada tahun...

Ahok Cawapres Jokowi

Pasal 156a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman 5 tahun penjara menjadi momok bagi Ahok. Menurut pakar hukum tata negara Bivitri Susanti, pasal tersebut...

Obor Asian Games 2018, Makna dan Hal-Hal yang Menakjubkan

Asian Games tahun 2018 rencananya akan dibuka pada tanggal 18 Agustus 2018 di Stadiun Glora Bung Karno Jakarta. Tidak tanggung-tangung Inasgoc selaku panitia menargetkan...

Hubungan antara Agama dan Gerakan Feminis

Kemunculan  gerakan feminis telah menjadi babak baru dalam sejarah umat manusia tentang arti penting kesetaraan dan menghapus segala macam penindasan yang menghubungkan  relasi antara...
Hamli Syaifullah
Dosen dan Penulis Buku

Baru saja umat Islam melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Di mana, tingkat ketakwaan seseorang ketika beribadah puasa cukup tinggi. Berbagai macam ibadah dilaksanakan, seperti bersedekah, membaca al-quran, sholat tahajjud, dan lain sebagainya.
Hanya saja, selepas pelaksanaan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan, terkadang kita membiarkan diri kita masing-masing kembali kepada habitat sebelumnya. Dalam artian, kita tak mau membawa ketakwaan puasa di Bulan Ramadhan untuk diterapkan di luar Bulan Ramadhan.

Padahal, esensi dari puasa di bulan Ramadhan ialah, sebagai media latihan bagi umat manusia, agar manusia mau membawa ketakwaan puasa tersebut untuk diterapkan di luar Bulan Ramadhan.

Untuk membawa ketakwaan Puasa Ramadhan di luar Bulan Ramadhan, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan oleh umat Islam. Sehingga setiap kedatangan Bulan Suci Ramadhan, akan mampu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Memahami Esensi Ramadhan
Salah satu esensi dari datangnya Bulan Suci Ramadhan ialah, Ramadhan bulan pendidikan bagi umat Muslim di dunia. Harapannya, selepas mengikuti pendidikan, seluruh peserta didik yang terdiri dari orang-orang bertakwa yang menjalankan puasa, mampu membawa nilai-nilai kebaikan selama mengikuti proses pendidikan di luar Bulan Suci Ramadhan.

Misalnya, ketika di Bulan Suci Ramadhan kita benar-benar mau menjaga lisan kita dari berdusta, berbohong, menggunjing dan lain sebagainya, maka di luar Bulan Suci Ramadhan harusnya juga bisa dilakukan.

Contoh lain, ketika di Bulan Suci Ramadhan kita rajin bersedekah, maka selepas puasa kebiasaan rajin bersedekah harus tetap dijalankan. Malahan, kita harus meningkatkannya.
Jika kita mampu memahami esensi dari kedatangan Bulan Suci Ramadhan, maka tentunya kita akan berusaha sekuat tenaga, untuk membawa ketakwaan yang telah kita perbuat di Bulan Suci Ramadhan untuk diterapkan di luar Bulan Suci Ramadhan.

Menjaga Nilai-Nilai Ramadhan
Setelah kita memahami bahwa esensi Bulan Suci Ramadhan ialah sebagai bulan pendidikan, maka selepas Bulan Suci Ramadhan tentunya kita akan berusaha menjaga nilai-nilai kebaikan di bulan suci Ramadhan di sepanjang hidup kita.

Dalam artian, kita harus mampu memaksakan diri untuk tetap menjaga kontinuitas ibadah kita di luar bulan Ramadhan. Kemudian, setiap ibadah yang dikerjakan berusaha diaktualisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari di sepanjang hidup kita di luar Bulan Suci Ramadhan.

Sebagai contoh, semasa Bulan Suci Ramadhan kita telah menjalankan ibadah puasa dari pagi sore hari. Hal yang dirasakan ketika berpuasa lapar dan dahaga. Maka selepas bulan puasa kita harus lebih memiliki sifat dermawan terhadap orang-orang yang tak mampu (fakir dan miskin).

Karena, orang fakir dan miskin akan identik dengan lapar dan dahaga. Sedangkan kita selama berpuasa sudah merasakan bagaimana perihnya lapar dan dahaga. Maka dari itu, sudah sepantasnya bagi kita untuk mau mengeluarkan sebagian harta kita membantu mereka yang lapar dan dahaga.

Penutup
Demikianlah dua hal yang dapat kita lakukan, untuk membawa ketakwaan puasa di Bulan Suci Ramadhan agar diterapkan di luar Bulan Suci Ramadhan. Sehingga, keberadaan puasa setiap tahunnya, mampu berdampak signifikan terhadap peningkatan ketakwaan umat Islam kepada Allah Swt.

Hamli Syaifullah
Dosen dan Penulis Buku
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.