Minggu, Maret 7, 2021

Membangun Semangat Peradaban Islam

Yogyakarta dalam Lingkaran “Setan” Pembangunan

Yogyakarta tak ubahnya seorang “adik” bagi ibukota Jakarta. Banyak hal yang dirasa mirip diantara kedua daerah tersebut. Mulai dari historisnya, hingga permasalahan kota yang...

Savage, Booyah, Chicken Dinner, Lalu Apa?

Akhir-akhir ini sering sekali kita melihat orang mabar. Di warung kopi sampai cafe-cafe kekinian banyak sekali gamers yang lagi mabar. Mereka berdalih bahwa itu...

Rocky Gerung dan Upaya Mengajarkan Kesadaran Kritis

Siapa yang tidak kenal Rocky Gerung? Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pendiri SETARA Institute dan peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), akhir-akhir ini...

Corona dan Parodi Masyarakat

"Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur". (Karena corona anak...
Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Hari raya idul fitri adalah puncak pengalaman hidup sosial keagamaan rakyat indonesia. dapat dikatakan bahwa seluruh kegiatan rakyat selama satu tahuan diarahkan untuk dapat merayakan hari besar itu dengan sebaik baiknya. Mereka bekerja dan banyak yang menabung untuk kelak mereka nikmati pada saat tiba idul fitri.

Sebagai hari raya keagamaan, idul fitri mengandung makna keruhanian karena menang masyarakat telah melewati tahap demi tahap ibadah puasa hingga mencapai puncaknya yaitu merayakan ibadah idul fitri. Juga idul fitri mengandung makna sosial karena setiap masyarakat indonesia khususnya umat Islam dapat saling memberi maaf, menjalin kasih sayang dan silaturahim, kebersamaan dan persaudaraan antar sesama.

Makna keruhanian idul fitri dapat dipahami dengan baik jika kita dapat melihatnya dari sudut pandangan keagamaan yang melatarbelakanginya, seperti halnya dengan pranata keagamaan, idul fitri bersangkutan langsung dengan berbagai ajaran dasar Islam. Karena itu makna idul fitri merupakan rangkuman nilai-nilai islam dalam sebuah kapsul kecil (in a nutshell), dengan muatan simbolik yang sangat sakral.

Idul fitri terdiri dari dua suku kata yaitu idul dan fitri. Id adalah dari akar yang sama dengan kata kata awdah atau awdataun atau adat-un dan istiadat-un. Semua kata itu mengandung makna yaitu kembali atau terulang.

Atau dalam bahasa indonesia, adat istiadat yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, atau datang kembali berulang ulang secara periodik dalam daur waktu satu tahun.

Sedangkan kata fitri seakar dengan kata fitrah yang berarti secara harfiah adalah asal kejadian yang suci atau kesucian asal. Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah, yaitu ciptaan atau penciptaan. Artinya bahwa pada dasarnya Allah swt mencipatakan segala sesuatu yang suci atau sesuai ciptaannya.

Oleh karena itu, walaupun bulan Suci Ramadhan telah meninggalkan kita, dengan berbagai kesan dan kenangan yang mungkin tidak akan dapat kita lupakan. Sebulan bersama bulan Ramadhan bukanlah waktu yang sedikit. Peragulan, pendidikan, dan latihan diri yang kita lakukan selama bulan Ramadhan harus menanamkan kecintaan yang lebih tinggi dan lebih besar terhadap ibadah.

Cinta kita terhadap bulan Ramadhan tentu harus bertambah dan kecintaan kita untuk melakukan ibadah-ibadah selama bulan Ramadhan tidak boleh terputus dengan kepergian bulan Ramadhan. Kecintaan untuk beramal itu harus ditingkatkan dan dikembangkan terus-menerus, tidak hanya pada diri kita sendiri tetapi juga kepada orang lain.

Ramadhan telah pergi meninggalkan kita, tetapi pergi untuk kembali. Pada saat dia kembali, dan dia pasti akan kembali, dia akan bertemu dengan kita, kalau kita masih diberi umur panjang oleh Allah.

Kedatangannya nanti pada tahun depan akan menguji dan mengevaluasi kembali hasil yang telah kita lakukan selama 11 bulan mendatang. Kebiasaan-kebiasaan ibadah yang dilakukan selama Ramadhan harus ditularkan kepada keluarga kita, isteri, anak-anak kita, kerabat kita, dan sesama kita.

Syahadat, zikir, istigfar yang biasa kita lakukan setiap saat pada bulan Ramadhan, harus kita tingkatkan lagi sesudah bulan Ramadhan. Semua ini akan menjadikan hati kita tenang, tenteram, dan nyaman, tidak pernah gelisah dan keluh kesah.

Islam membentuk suatu peradaban yang unik dan gampang dikenali meskipun ia melintasi batas-batas ras, suku bangsa, bahasa dan geografi. Masyarakatnya dijiwai oleh semangat yang memberinya corak tersendiri pada pelbagai lembaga politik, hukum, kesenian, dan arsitektur, kesusasteraan, sains dan kesarjaan.

Pada inti peradaban ini terdapat sikap berserah diri arti harfiah dari kata “islam” kepada realitas ilahiah, asal sejati dari seluruh manifestasi peradaban ini. Ideal ini tetap utuh sejak kelahiran agama ini. Hal inilah yang menjadi benteng pertahanan dari leburnya islam ke dalam modernitas.

Lebih lanjut, Ali.A.Allawi mengatakan bahwa, “Peradaban islam tidaklah erbicara tentang dimensi politik atau bakan dimensi keagaaman dari islam. Ia berbicara tentang apakah kaum muslim bisa tetap memeluk ideal transendental itu dan bagaimana komitmen ini akan memengaruhi perilaku mereka pada tingkat individual maupun sosial”.

Inti peradaban islam berbeda dari peradaban-peradaban lainnya, khususnya dari tatanan dunia yang mengglobal dan dominan, jawabannya ialah bahwa peradaban islam nyaris sebagai definisinya, harus mengakui dari yang transenden (atau yang suci, nilai luhur dan tuhan) dalam jati dirinya.

Jika unsur ini tiada, islam tak bisa dipaksa memasuki dinamika modernitas tanpa merusak integritasnya (Ali.A.Allawi. Krisis Peradaban Islam, Antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total, Hal:19-20).

Tiap perdaban memiliki sisi luar dan sisi dalam; sisi dalam berupa rangkaian keyakinan, dan nilai nilai yang mewarnai sisi luarnya yang berupa aneka lembaga, hukum, pemerintah dan kebudayaan. Dimensi internal islam kini tak lagi memiliki peranan penting atau kekuatan untuk mewarnai sisi luar dimana sebagian besar kaum muslim hidup (Hal:22).

Jika umat muslin ingin menjalani kehidupan lahiriah yang merupakan ekspresi dari keimanan terdalam mereka, mereka harus kembali bagian bagian dalam ruang publik yang telah diserahkan pada pandangan dunia lain selama berapa abad.

Jika umat muslim tidak dapat menghimpun sumber daya batiniah dari agama mereka untuk mencipatakan kehadiran lahiriah yang berkekuatan peradaban, maka islam sebagai sebuah peradaban mungkin akan hilang.

Masa depan mungkin akan dipengaruhi oleh pemberontakan pemberontakan yang terserak oleh orang oirang mulsim yang tak puas, tetapi lamam kelamaan intensitas serta cakupannya akan melemah.

Seiring perjalanan waktu, berbagai penyesuain, kompromi, dan pengorbanan yang telah menandai pertemuan setiap generasi muslim dengan dunia yang didominasi pertama tama oleh barat dan kini, secra semakin meningkat, oleh kekuatan kekuatan teknologi dan pasar impersonal yang akan mengikis habis kemungkinan regenerasi peradaban islam.

Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.