Senin, Maret 8, 2021

Membangun Pariwisata Masa Pandemi

Antara Jokowi, Tol Laut dan Poros Maritim Dunia

Program tol laut menjadi jargon Jokowi ketika melakukan kampanye pemilihan presiden (pilpres) pada tahun 2014 lalu. Di penghujung akhir 2015, salah satu program utama...

Adakah Sisi Agamis dari Komunis?

Komunisme adalah kata dan frasa yang acapkali terdengar di linimasa, di kedai-kedai bahkan ibu-ibu pun ikut sibuk dengan persoalan yang satu ini. Entah karena...

Inkonstitusional, Treshold 20-25%.

Rancangan Undang-Undang Pemilu akhirnya diselesaikan setelah perdebatan panjang. Jumat lalu(21/7), UU pemilu disahkan dengan mekanisme vooting. Meskipun vooting ini diwarnai aksi walk out (WO)...

Menata Ulang Cara Kita Memaknai Masalah

Jika anda berkunjung ke Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Anda akan mendapati desain-desain unik di instalasi APAR (Alat Pemadam Api Ringan)-nya. Desain ini...
Zam Zam Masrurun
Tourism Analyst di Shirvano Consulting dan Dosen Pariwisata Universitas Hamzanwadi

Berkaca dari kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah berkaitan dengan kepariwisataan pada masa pandemi Covid-19 dewasa ini dirasa mengkhawatirkan. Misalnya seperti keengganan dalam menutup pintu masuk kedatang wisatawan asing pada masa awal pandemi, hingga alokasi dana milyaran untuk buzzer demi mengamankan citra destinasi yang juga santer menuai kritik publik. Ketergantungan akan pasar pariwisata internasional seolah-olah tergambar jelas dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Menarik memang di era globalisasi seperti saat ini pariwisata telah menjadi komponen penting ekonomi dunia, pun tak pelak terjerat dalam arus globalisasi yang begitu luar biasa. Karena kegiatan pariwisata internasional secara inheren melibatkan transportasi lintas negara, arus modal global. Informasi dan layanan di sektor pariwisata nyatanya memang jauh lebih sering dan lebih intens daripada yang ada di sebagian besar industri atau sektor ekonomi lainnya.

Tetapi barangkali ramalan ZHAO dan LI yang ditulis pada Chinese Geographical Science Journal tahun 2006 dengan judul Globalization of Tourism and Third World Tourism Developmenyang dalam beberapa poin coba ditulis ulang oleh penulis, karena betapa tulisannya sangat relevan dengan kondisi kita saat ini.

Secara ringkas sebetulnya ada beberapa poin yang dapat menjadi refleksi dalam pembangunan pariwisata nasional kita saat ini, seperti yang diusulkan ZHAO dan LI, untuk melawan dampak negatif globalisasi. Diperlukan aliansi/kemitraan yang lebih kuat diantara negara-negara berkembang lainnya.

Penting untuk terus membangun aliansi dengan beberapa negara tetangga dalam rangka mengurangi leakage atau mengurangi ruang pengambilan keuntungan perusahaan multinasional yang super kaya, serta dapat meningkatkan daya negosiasi. Kerjasama-kerjasama di bidang pariwisata seperti ASEAN Borderless menjadi penting untuk terus dilanjutkan.

Kemudian perlunya keberanian kita untuk mengurangi pariwisata massal yang terus fokus pada jumlah angka kunjungan wisatawan. Pengalaman telah menunjukkan bahwa seringkali negara tidak dapat menahan godaan awal proyek pariwisata di suatu daerah dengan tujuan penciptaan lapangan kerja dan pendapatan.

Namun tanpa pertimbangan jangka panjang, sebetulnya dalam waktu yang relatif lama negara masih harus sangat bergantung pada pariwisata massal untuk memenuhi kebutuhan pembangunan-pembangunan yang paling mendesak seperti insfrastruktur dasarnya. Penting pula untuk terus meningkatkan partisipasi-partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan pariwisata.

Meningkatkan potensi pasar pariwisata domestik barangkali menjadi menarik pada situasi pandemi global Covid-19 seperti saat ini. Dibandingkan dengan pariwisata inbound, pariwisata domestik ini barangkali telah lama cukup terpinggirkan, terutama demi kepentingan mendapatkan devisa negara.

Namun, pembelajaran yang dapat dipetik dari stagnasi pariwisata internasional yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 saat ini memberikan kita waktu untuk berpikir ulang bahwa potensi pariwisata domestik perlu diperhatikan dalam rangka menjaga daya tahan destinasi maupun pemerataan ekonomi. Ini juga sebagai upaya kita menghindari ketergantungan yang berlebihan pada pasar pariwisata internasional.

Terbatasnya permintaan domestik akan pariwisata nyatanya mengakibatkan destinasi menjadi sangat bergantung pada pariwisata inbound, dan tumpuan yang terlalu besar pada pasar pariwisata internasional. Berbagai persoalan pariwisata kemudian muncul dan kian tak terbendung seperti kebocoran (leakage) devisa pada banyak destinasi karena perusahaan-perusahaan telah berkembang menjadi perusahaan multinasional dan mendominasi bisnis pariwisata kita.

Kondisi pandemi global saat ini hampir menelanjangi keadaan negara-negara berkembang yang masih berkutat di kubangan yang sama, atau bahkan mungkin tercengkeram semakin dalam. Ini menunjukkan bahwa tanpa perencanaan dan pengelolaan yang tepat, biaya pengembangan pariwisata internasional yang diharapkan menjadi sumber penghasil devisa pada akhirnya akan sia-sia. Sekurang-kurangnya kita perlu berkaca pada negara kita sendiri. Masa pandemi ini menjadi refleksi dan kesempatan berbenah dengan melihat pariwisata secara lebih komprehensif.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kondisi pandemi Covid-19 saat ini ialah bagaimana kita perlu untuk mendorong upaya berbagai destinasi untuk menata ulang serta merencanakan ulang destinasi-destinasi yang kita miliki. Agar setelah badai pandemi Covid-19 ini berlalu destinasi-destinasi kita menjadi lebih kompetitif.

Kesempatan untuk merencanakan kembali destinasi-destinasi pariwisata dalam rangka berbenah mengahadapi perubahan besar akibat pandemi Covid-19 ini perlu lebih mendasar dan menyeluruh, bukan hanya pada potensi tiap-tiap wilayah administrasi. Lebih jauh mempertimbangkan keterkaitan antar wilayah serta destinasi pariwisata.

Zam Zam Masrurun
Tourism Analyst di Shirvano Consulting dan Dosen Pariwisata Universitas Hamzanwadi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.