Sabtu, Maret 6, 2021

Membangkitkan Kembali Hantu Komunis

Depresi: Apa dan Bagaimana?

Seringkali kita memungkiri apabila diri atau orang disekitar mengalami kondisi depresi. Sering pula kita jumpai orangtua, guru, teman, dan diri sendiri menyepelekan kondisi depresi...

Puisi Sukmawati: Sastra sebagai Media Penghinaan?

Sastra sampai saat ini masih dijadikan media paling tepat dalam mengungkapkan ekspresi penulisnya. Menjadi media paling halus untuk berkomunikasi, mengkritik, dan menyampaikan hikmah-hikmah terhadap...

Sedekat Unicorn, Selekat Unikop

Populasi masyarakat virtual kian tak terbendung dengan perkembangan digitalisasi segala lini. Fenomena di masyarakat saat ini dikenal dengan istilah populer “internet of all things”, dimana...

Menuju Pendidikan yang Memerdekakan

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya lebih tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya...
Iksan Sahri
Antropolog, peneliti sosial keagamaan, dan praktisi pendidikan. Mahasiswa PhD pada program PIES di Politic and Social Change di Australian National University dan mahasiswa doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

Saya akan memulai tulisan ini dengan peta perkembangan komunisme di dunia, pertama, Partai Komunis Indonesia atau yang dikenal sebagai PKI resmi dilarang sejak tahun 1965, kedua, Uni Soviet sebagai dedengkot komunisme runtuh pada tahun 1991, ketiga, raksasa komunisme saat ini yaitu China (Tiongkok) walau secara label ber-ideologikan komunisme dan menganut sistem satu partai yaitu Partai Komunis China, nyatanya saat ini China menjelma menjadi negara yang menganut state capitalism (kapitalisme negara), keempat, saat ini relatif tidak ada negara komunis kecuali Korea Utara yang sengaja dijadikan museum dari kebangkrutan komunisme itu sendiri. Selebihnya adalah negara-negara sosialis (walaupun sebagian masih meng-klaim sebagai negara komunis layaknya China), termasuk di dalamnya adalah Kuba, Venezuela, Vietnam, dan lain-lain. Pertanyaannya, kenapa komunisme masih menghantui rakyat Indonesia sedangkan ia adalah ideologi bangkrut (Fukuyama: 1989)?
Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan memulai dengan bagaimana komunisme ini menjadi isu tak berkesudahan di Indonesia, ia menjadi isu yang timbul tenggelam, sesekali isu tentang komunisme ini reda dan sesekali timbul. PKI dan komunisme di Indonesia biasanya diidentikkan dengan dua hal; ateisme (ajaran tidak percaya pada Tuhan) dan bengis serta tidak berperikemanusiaan. Gambaran pertama, komunisme sebagai ateisme biasanya disandarkan pada perkataan Karl Mark bahwa “agama adalah candu rakyat (religion is the opiate of the masses)”. Kalimat ini sering diartikan seakan-akan Marx menuduh agama, menyesatkan dan menipu rakyat.
Padahal bukan itulah yang dimaksud Marx (Magnis-Suseno, 1999: 46). Ia tidak membicarakan apakah fungsi agama dalam masyarakat adalah positif atau negatif. Melainkan ucapannya itu menanggapi kritik agama Feurbach yang menyatakan bahwa agama adalah dunia khayalan di mana manusia mencari dirinya sendiri. Tetapi, Feurbach tidak bertanya mengapa manusia melarikan diri ke khayalan daripada mewujudkan diri dalam kehidupan nyata. Jawaban yang diberikan Marx adalah: Karena kehidupan nyata, dan itu berarti: struktur kekuasaan tidak mengizinkan manusia untuk mewujudkan kekayaan hakikatnya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya. Dari fakta dan pemikiran-pemikiran Marx dapat diketahui bahwa yang menjadi objek kritik Marx ialah orang yang menjalankan agama, bukanlah agama itu sendiri. Karena manusia merupakan faktor independen yang melatarbelakangi terciptanya agama yang merupakan faktor dependen, atau sesuatu yang dipengaruhi. Sebagaimana candu, semakin banyak dikonsumsi maka semakin menggerogoti jiwa pecandunya. Namun selalu ada keinginan yang kuat dan hasrat tak tertahankan untuk selalu mengonsumsi candu. Seperti itulah agama menurut Marx.
Dalam dunia sosial, istilah komunisme dibedakan dari ateisme. Jika ateisme kaitannya dengan kepercayaan terhadap yang metafisik sedangkan komunisme berkaitan dengan ideologi politik. Jika kita menelisik kembali terhadap sejarah PKI di Indonesia, maka sebenarnya banyak dari mereka adalah berasal dari golongan Sarekat Islam, yang kemudian membikin faksi gerakan politik sendiri menjadi SI Merah dan lalu bergabung menjadi PKI. Beberapa tokoh komunis misanya dikenal sebagai tokoh yang taat beragam seperti Tan Malaka, H. Soleh. Bahkan konon, Dipa Nusa Aidit sebenarnya adalah anak dari tokoh Islam.
Gambaran kedua, berkaitan dengan gambaran bengis yang disematkan pada PKI dan komunisme adalah tak lain karena pemberontakan faksi PKI yang melakukan aksi sepihak, pemberontakan dan pembunuhan terhadap kelompok Islam dan para jenderal. Apalagi cerita ini diceritakan secara apik dan dramatis oleh sutradara film Arifin C. Nur yang memenangkan tender membuat film G 30 S PKI pada tahun 1984 dan kemudian menjadi wajib putar setiap tahun di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Jadilah wajah gelap PKI dan komunisme itu tercipta di Indonesia.
Komunisme dan PKI resmi dilarang di Indonesia melalui Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966. Hal ini dilakukan sebagai reaksi atas pemberontakan faksi PKI terhadap pemerintahan di Indonesia yang diduga hendak menggulingkan presiden Sukarno dan hendak mengambil tampuk kepemimpinan Indonesia. Sejarah mencatat, konflik sipil juga pecah saat itu, terutama antara golongan komunis di satu sisi dengan golongan Islam yang di-backup tentara di sisi yang lain (Hans-Dieter Evers: 1975; 129). Sejak masa Orde baru, mereka melarang PKI dan ideologi komunis beredar di bumi Nusantara. Pada masa Orde Baru semua yang berbau PKI diberangus; bendera, lambang, buku, diskusi, bahkan anak-anak orang PKI dilarang ambil bagian dalam politik dan pemerintahan di Indonesia walaupun mereka tidak tahu apa-apa. Sering kali, isu PKI ini digunakan oleh Orde Baru untuk membungkam kelompok tertentu atau demonstrasi yang dianggap mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri.
Setelah era Orde Baru runtuh dan digantikan era Reformasi, anak-anak PKI diberi kebebasan untuk berpolitik selama mereka tidak menyebarkan dan mendirikan partai komunis dan komunisme bebas dikaji dalam ruang-ruang akademis. Akan tetapi, dalam penglihatan saya, isu PKI dan komunisme ini selalu muncul setiap menjelang pemilu dan pilkada dan kemudian akan tenggelam setelah pilkada selesai. Isu PKI menjadi komoditas bagi kalangan tertentu untuk menciptakan keresahan masyarakat dan mengeruk keuntungan politik.
Persoalan ini menurut saya terutama karena ada persoalan sejarah yang tidak selesai dengan PKI di negeri ini sehingga semua hal yang berkenaan dengan PKI dan komunisme dipenuhi dengan prasangka-prasangka. Dalam konteks politik praktis, mereka yang “dituduh” sebagai orang-orang komunis ini biasanya adalah orang-orang nasionalis dan Marhaen. Dalam konteks partai politik saat ini, sering kali stereotype ini dilekatkan kepada partai-partai dengan ideologi sosialisme dan marhaenisme.
Permainan “intelejen” diduga ikut bermain dalam masalah ini terutama terkait dengan penciptaan ketakutan itu di masyarakat. Biasanya menjelang pemilu atau pilkada akan beredar nama-nama tokoh yang “dikaitkan” dengan PKI dan komunisme, lambang-lambang palu arit tiba-tiba hadir di jalan-jalan di daerah di Indonesia, serta berita-berita hoax baik yang sengaja disebarkan atau yang hanya dibagikan oleh orang yang tak paham juga mewarnai peta isu komunisme ini di Indonesia. Selebihnya, komunisme adalah hantu yang menjadi dagangan orang-orang tertentu untuk mengeruk keuntungan politik bagi dirinya atau patron politiknya karena sesungguhnya bagi saya komunisme itu sudah bangkrut.

Iksan Sahri
Antropolog, peneliti sosial keagamaan, dan praktisi pendidikan. Mahasiswa PhD pada program PIES di Politic and Social Change di Australian National University dan mahasiswa doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.